KlikMojok – Indonesia, sebuah zamrud khatulistiwa yang bersemayam di Cincin Api Pasifik, tak pernah lepas dari bisikan dan gelegar perut buminya. Keindahan lanskap pegunungan yang menjulang, seringkali menyimpan potensi bahaya yang tak terduga. Pada Jumat, 30 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali mengingatkan akan realitas ini, menyerukan peningkatan kewaspadaan menyusul penetapan status Level III atau Siaga untuk tiga gunung api aktif di Nusantara: Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, dan Gunung Semeru. Peringatan ini, yang disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, di Jakarta, bukan sekadar berita, melainkan panggilan untuk memahami dan belajar hidup berdampingan dengan kekuatan alam.
Status Siaga, atau Level III, bukanlah kondisi yang bisa diremehkan. Ini mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik telah meningkat secara signifikan, menunjukkan potensi ancaman bahaya yang lebih besar. Data mutakhir dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga pukul 06.00 WIB menjadi dasar rekomendasi ini, menuntut kesiapsiagaan dari masyarakat yang bermukim di lereng-lereng gunung maupun di wilayah terdampak. Edukasi dan pemahaman akan risiko menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana yang mungkin terjadi.
Di Selat Sunda, sebuah pulau vulkanik yang terus tumbuh dari sisa-sisa letusan dahsyat tahun 1883, Gunung Anak Krakatau, kini menunjukkan gejala peningkatan aktivitas. Sejarahnya yang dramatis menjadi pengingat akan kekuatan destruktif yang bisa dilepaskan. Berton S.P. Panjaitan menjelaskan, potensi bahaya dari gunung ini meliputi aliran lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu yang dapat mengganggu aktivitas pelayaran dan kehidupan pesisir. “Kami perlu mengimbau dan merekomendasi masyarakat, wisatawan, maupun pelaut dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau sesuai dengan petunjuk resmi dari BPBD maupun PVMBG,” tegas Berton, menekankan pentingnya mematuhi radius tiga kilometer dari pusat kawah sebagai zona larangan.
Bergeser ke timur, di jantung Jawa Timur, Gunung Semeru—sang Mahameru—juga tak henti menunjukkan kegagahannya. Dengan puncaknya yang seringkali diselimuti awan, aktivitas vulkaniknya adalah bagian dari keseharian warga sekitar. Ancaman utama dari gunung ini adalah awan panas guguran, aliran lava, serta lontaran batu pijar yang dapat meluncur sewaktu-waktu. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer. Selain itu, Berton juga mengingatkan, “Untuk Gunung Semeru, kami juga memberikan rekomendasi atau imbauan. Hindari aktivitas sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer serta radius 500 meter dari sempadan sungai,” sebuah peringatan krusial mengingat potensi lahar dingin yang bisa muncul pasca-hujan lebat.
Sementara itu, di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Gunung Merapi tetap menjadi salah satu gunung api paling aktif dan dipelajari di dunia. Dengan sejarah letusan yang panjang dan periodik, Merapi adalah laboratorium alam tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan gunung berapi. Ancaman nyata dari Merapi meliputi awan panas guguran yang mematikan, guguran lava, serta lontaran material vulkanik yang bisa mencapai jarak jauh. Berton secara khusus menyoroti bahaya lahar hujan saat turun hujan deras, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Merapi. Sungai-sungai seperti Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Woro, dan Gendol, adalah jalur-jalur yang harus dihindari. “Ada waspada bahaya lahar hujan di hulu sungai di saat hujan deras serta awan panas guguran yang berpotensi dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujarnya, menegaskan urgensi kewaspadaan yang berkelanjutan.
Keberadaan tiga gunung api dengan status Siaga ini adalah pengingat konstan bahwa kita hidup di atas kulit bumi yang dinamis. Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di lereng-lereng gunung, kewaspadaan bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan dan bagian dari pendidikan mitigasi bencana. Memahami tanda-tanda alam, mematuhi rekomendasi otoritas, dan senantiasa siap siaga adalah bentuk penghargaan terhadap kekuatan alam, sekaligus upaya menjaga keselamatan jiwa dan raga. Raksasa-raksasa tidur ini mungkin hanya berbisik kini, namun pelajaran dari bisikan tersebut adalah kunci untuk menghadapi gelegar yang mungkin datang di kemudian hari.












