KlikMojok – Malam itu, Lapangan Kejayan di Kabupaten Pasuruan bertransformasi menjadi lautan cahaya dan gema sholawat. Ribuan pasang mata menatap panggung, menanti kehadiran seorang ulama muda yang kata-katanya mampu menyejukkan sekaligus menggelitik nurani. Inilah puncak Hari Santri Nasional (HSN) 2026, sebuah perayaan yang bukan hanya seremonial, tetapi juga momen refleksi spiritual dan kebersamaan, dengan kehadiran dai populer KH. Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam sebagai magnet utamanya yang menarik perhatian ribuan warga Pasuruan dan sekitarnya.
Bukan sekadar perayaan, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menegaskan esensi mendalam dari pertemuan akbar ini. Saat menyapa jemaah, ia menyoroti kekuatan persatuan yang terpancar dari kerumunan yang memadati Lapangan Kejayan. “Di sini kita berkumpul semua, jadi satu mendengarkan ceramah agama dan bersholawat. Inilah indahnya kebersamaan dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan persatuan di tengah masyarakat,” ujar Bupati Rusdi Sutejo, yang hadir langsung bersama keluarga dan jajaran pejabat penting daerah. Tampak mendampinginya Wakil Bupati Pasuruan Shobih Asrori, Kapolres Pasuruan AKBP Irawan Setyono, Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arief Ardiansyah, hingga Sekda Yudha Triwidya Sasongko, menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap acara ini.
Ribuan jemaah yang datang dari berbagai pelosok wilayah, bahkan dari pemukiman yang cukup jauh, menunjukkan dedikasi dan kerinduan mereka akan siraman rohani. Aura spiritual yang kental berpadu harmonis dengan kebersamaan warga Pasuruan, menciptakan suasana hangat sepanjang rangkaian acara Hari Santri Nasional. Salah seorang jemaah asal Kecamatan Wonorejo, Solihatin, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia rela menempuh perjalanan demi bisa melihat sosok Gus Iqdam dari dekat. “Saya mau ke sini demi bisa nyawang Gus Iqdam dari dekat. Masya Allah senang sekali saya bisa melihat dari jarak 3 meter,” ungkapnya dengan wajah berseri.
Sebelum puncak tausiah yang dinanti, rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Magrib berjemaah di area lapangan, memancarkan kekhusyukan dan ketenangan. Pengunjung kemudian disuguhi pertunjukan kesenian lokal yang memukau, yakni Karya Budaya Syi’iran Bluk-Gebluk yang dibawakan oleh Tim Roudhotul Hamdi dari Kecamatan Rembang. Acara berlanjut dengan pengumandangan lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengukuhkan rasa nasionalisme di tengah spiritualitas, diikuti pembacaan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhammad Nabhan Abrisam asal Kecamatan Rejoso. Suasana spiritual semakin terasa syahdu tatkala lantunan selawat dilantunkan secara bersama-sama oleh Tim Sabilu Taubah, menggetarkan hati ribuan jemaah sebelum memasuki sesi tausiah utama.
Di tengah khidmatnya suasana, Gus Iqdam menyampaikan untaian hikmah yang menyejukkan. Ia menekankan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah diperoleh agar membawa manfaat yang nyata. “Ilmu yang diperoleh hendaknya diamalkan agar membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Mari jadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum untuk terus belajar sepanjang hayat, memperkuat keimanan, serta memperbaiki akhlak,” pesan ulama kelahiran 1994 tersebut, mengingatkan jemaah akan peran strategis santri dalam kehidupan bermasyarakat.
Lebih jauh, dalam muatan tausiahnya, Gus Iqdam mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada kejaran harta, posisi jabatan, maupun kesenangan duniawi semata yang sifatnya fana. Dengan gaya penyampaian khas yang interaktif dan diselingi celetukan ringan, ia mengajak jemaah untuk senantiasa memperbanyak bekal kehidupan akhirat melalui amal saleh dan penghormatan tulus kepada orang tua serta para guru. Pesan keagamaan yang disampaikan dengan lugas dan mudah diterima oleh seluruh kalangan masyarakat yang hadir ini menjadi pengingat kolektif.
Gelaran puncak Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Pasuruan kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan daerah, menyempurnakan harmoni spiritual yang telah tercipta. “Karena duniawi itu sifatnya sementara dan cepat habis. Tapi kalau tidak ingin habis, mari kita perbanyak bersedekah, beribadah kepada Allah SWT, serta selalu menghormati orang tua dan guru,” pungkas Gus Iqdam, meninggalkan pesan yang mendalam agar setiap hati yang hadir membawa pulang bukan hanya kesan semata, melainkan juga tekad untuk mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.












