KlikMojok – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Surakarta, berkolaborasi dengan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), baru-baru ini menyelenggarakan sebuah acara refleksi penting. Kegiatan ini diadakan dalam rangka Milad ke-61 Kokam, mengambil tema “Jejak Darah di Kedung Kopi: Refleksi 61 Tahun Kokam, Melawan Lupa dan Merawat Bangsa.” Acara yang berfokus pada penguatan ingatan sejarah ini berlangsung di Gedung Dakwah Balai Muhammadiyah Surakarta pada hari Jumat, 23 Oktober 2026.
Refleksi Milad ke-61 Kokam ini berhasil menarik perhatian sekitar 350 peserta. Audiens yang hadir sangat beragam, mencakup anggota aktif Kokam Solo, para senior dari Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM, perwakilan dari Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) dari seluruh wilayah Solo, serta jamaah pengajian umum.
Rangkaian acara dibuka dengan pemutaran film “Kedung Kopi”, sebuah karya sinematografi yang disutradarai oleh Akbar Vandebar. Setelah pemutaran film, sang sutradara, Akbar Vandebar, berkesempatan untuk menyampaikan materi dan wawasannya terkait film tersebut. Sesi pemaparan materi kemudian dilanjutkan oleh Drs. K.H. Subari, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta.
Selain pemaparan materi, acara ini juga menyediakan sesi tanya jawab interaktif, memberikan kesempatan bagi para jamaah untuk berdiskusi langsung dengan narasumber. Puncak acara ditutup dengan penyerahan cendera mata sebagai bentuk penghargaan kepada para tokoh Kokam serta seluruh narasumber yang telah berkontribusi.
Dalam presentasinya, Akbar Vandebar menguraikan proses produksi film “Kedung Kopi 22 Oktober 1965”. Ia menjelaskan bahwa film ini rampung diproduksi pada tahun 2017, yakni sekitar 52 tahun setelah peristiwa bersejarah yang digambarkannya benar-benar terjadi.
Produksi film ini didasari oleh keinginan kuat untuk mengangkat kembali peristiwa sejarah yang perlahan mulai memudar dari ingatan kolektif masyarakat. Akbar Vandebar mengungkapkan bahwa ide awal pembuatan film ini muncul setelah ia bertemu dengan beberapa tokoh di Solo, salah satunya Usman Amiruddin, yang banyak berbagi cerita tentang berbagai kejadian terkait PKI di Kota Solo pada masa lampau.
Melalui serangkaian proses riset dan produksi, Akbar Vandebar berupaya keras untuk merekam dan mendokumentasikan kisah-kisah sejarah serta perjuangan heroik para pendahulu. Tujuannya adalah agar warisan berharga ini dapat terus dikenal dan dipahami oleh generasi-generasi penerus.
Mengutip pernyataan Akbar, ia menegaskan, “Esensi dari film ini bagaimana kita bisa mengemas sejarah, bagaimana mengemas cerita tentang heroisme orang-orang terdahulu untuk melanjutkan jejak perjuangan mereka.”
Lebih lanjut, Akbar Vandebar secara khusus mengajak para generasi muda Muhammadiyah untuk aktif berkontribusi dalam upaya pendokumentasian sejarah. Kontribusi ini dapat diwujudkan melalui beragam bidang, mulai dari multimedia, sinematografi, hingga karya-karya tulisan.
Ia berpendapat bahwa penyampaian kisah sejarah tidak selalu membutuhkan peralatan yang canggih dan mahal. Yang terpenting, menurutnya, adalah kemampuan untuk mengemas cerita dengan baik dan efektif, serta menyampaikan nilai-nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat luas.
Akbar menyampaikan harapannya agar film “Kedung Kopi” dapat menjadi salah satu ikhtiar penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap peristiwa bersejarah tersebut. Ia menekankan betapa krusialnya mempelajari sejarah, guna memastikan bahwa kejadian-kejadian masa lalu tidak akan pernah dilupakan oleh generasi penerus bangsa.
Sementara itu, Drs. K.H. Subari, selaku Wakil Ketua PDM Kota Surakarta, turut menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas Milad ke-61 Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam).
Dalam kesempatan tersebut, Drs. K.H. Subari juga menyatakan harapannya agar Kokam dapat terus berkembang dan senantiasa mempertahankan peran vitalnya dalam perjuangan dakwah Muhammadiyah di masa mendatang.
Mengenai peristiwa Kedung Kopi, Drs. K.H. Subari menjelaskan bahwa kejadian tragis tersebut meninggalkan jejak yang sangat mendalam dan membekas kuat di kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM).
Beliau menambahkan bahwa para pemuda yang menjadi korban dalam peristiwa Kedung Kopi diketahui berangkat dari Balai Muhammadiyah. Mereka sedang dalam perjalanan kembali menuju kampung halaman mereka di Kampung Sewu ketika insiden tersebut terjadi.
Menurut K.H. Subari, peristiwa Kedung Kopi secara signifikan berkaitan dengan situasi dan kondisi yang melatarbelakangi tumbuhnya semangat kesiapsiagaan dan kewaspadaan di kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah.
K.H. Subari turut menginformasikan bahwa Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) secara resmi didirikan di Jakarta pada tanggal 1 Oktober. Pembentukan organisasi ini kemudian mendapat sambutan hangat di berbagai daerah, termasuk di Surakarta, di mana pada masa-masa awal kepemimpinannya dipegang oleh almarhum Suwardi, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah.
Melalui refleksi Milad ke-61 ini, PDPM Kota Surakarta dan Kokam secara kolektif menegaskan kembali betapa vitalnya merawat ingatan sejarah. Hal ini merupakan bagian integral dari upaya berkelanjutan untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan luhur kepada generasi muda. Semangat yang diusung ini sangat selaras dengan pesan “Jas Merah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), sebuah pengingat penting akan urgensi memahami masa lalu demi menjaga dan merawat keberlangsungan bangsa.












