KlikMojok – Telepon dari negeri jauh itu membawa kabar duka yang merobek hati keluarga di Dusun Sanan, Desa Gondang, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Endang Susilowati, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang telah empat tahun mengadu nasib di Turki, kini telah tiada. Namun, di tengah gema tangis, sebuah dilema berat mencuat: bagaimana memulangkan jasadnya yang terpisah ribuan kilometer dari tanah kelahiran? Ini adalah kisah tentang perjuangan, harapan, dan kekuatan solidaritas yang merajut asa di antara sesama anak bangsa.
Joko Pramono, salah satu kerabat dekat Endang, mengisahkan bahwa kabar duka itu tiba pada Senin, 19 Oktober 2026. Seketika, keluarga dihadapkan pada dua pilihan yang sama pahitnya: membawa pulang Endang untuk dimakamkan di kampung halaman, atau merelakannya beristirahat abadi di tanah asing. “Dan awalnya keluarga bersepakat untuk dibawa pulang,” tutur Joko. Namun, niat itu goyah ketika informasi mengenai biaya pemulangan jenazah dari Turki ke Indonesia terkuak: sekitar Rp150 juta. Angka fantastis ini, seringkali setara dengan mimpi panjang bagi banyak keluarga pekerja migran, menjadi beban yang terasa begitu berat, nyaris mustahil.
Dengan berat hati, keluarga terpaksa menelan kenyataan pahit tersebut. Harapan untuk menyambut Endang kembali, meski hanya jasadnya, perlahan meredup. “Kesepakatan yang awalnya dibawa pulang akhirnya berubah biarlah dimakamkan di Turki,” terang Joko Pramono, menggambarkan betapa beratnya keputusan tersebut. Keluarga pun mulai mengurus persyaratan administrasi untuk pemakaman di Turki, merelakan Endang bersemayam jauh dari pusara leluhurnya, terpisah dari sanak keluarga di Blitar.
Namun, takdir memiliki jalannya sendiri. Di tengah pengurusan dokumen pemakaman di Turki, sebuah panggilan telepon kembali mengejutkan keluarga di Blitar. Kali ini, kabar yang datang membawa secercah cahaya di tengah kegelapan. Perwakilan Masyarakat Indonesia Istanbul (MII) dan Paguyuban Jegeg Bagus Bali mengabarkan bahwa mereka tak tinggal diam. Sebuah aksi solidaritas spontan telah digulirkan untuk menggalang dana pemulangan jenazah Endang, menunjukkan bahwa ikatan kemanusiaan sebangsa tak mengenal batas geografis.
Di bawah kepemimpinan Sari Rusmiati dari MII dan Ni Made Trisnawati dari Paguyuban Jegeg Bagus Bali, untaian kepedulian itu terjalin erat. Dalam waktu hanya 48 jam, donasi yang terkumpul berhasil memenuhi seluruh kebutuhan biaya pemulangan. Bantuan tak terduga ini membuka kembali pintu harapan yang sempat tertutup rapat, memberikan kesempatan bagi keluarga untuk kembali mengajukan permohonan pemulangan jenazah Endang ke Indonesia. Dengan segera, keinginan tersebut disampaikan kepada otoritas terkait agar proses repatriasi dapat dilanjutkan.
Menurut Joko, setelah persoalan biaya teratasi, proses pemulangan jenazah berjalan relatif cepat dan lancar. Jenazah Endang diterbangkan dari Bandara Internasional Istanbul (IST) menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, menggunakan maskapai Turkish Airlines. Setibanya di tanah air, jasadnya disambut oleh ambulans yang telah disiapkan oleh Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), siap mengantarkannya dalam perjalanan terakhir menuju rumah duka di Kabupaten Blitar.
Suasana haru tak terbendung saat jenazah Endang tiba di kampung halamannya. Tangis pilu kedua orang tua Endang, Mulkardji dan Mulsiah, beserta anggota keluarga lainnya, pecah menyambut kedatangan putri mereka. Setelah melalui perjalanan panjang penuh liku dari Turki, Endang akhirnya dimakamkan di Dusun Sanan pada Kamis, 22 Oktober 2026, beristirahat di dekat orang-orang yang dicintainya. Mewakili keluarga, Winarno, kakak kandung Endang, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah membantu. “Kami tidak mampu membalas satu per satu ketulusan Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian. Terima kasih sebesar-besarnya atas pengorbanan waktu dan tenaganya,” tutur Winarno, suaranya bergetar menahan haru.
Endang Susilowati adalah ibu dari tiga anak, seorang pejuang devisa yang berstatus PMI legal. Selama empat tahun ia mendedikasikan hidupnya bekerja di sebuah hotel di Turki, jauh dari keluarga demi masa depan anak-anaknya. Namun, takdir berkata lain. Ia sempat dirawat selama 10 hari di Özel Avcılar Anadolu Hastanesi, Avcılar, Istanbul, sebelum akhirnya menyerah pada kanker payudara dan kanker paru-paru stadium akhir yang dideritanya. Kisah Endang adalah cerminan ribuan kisah Pekerja Migran Indonesia lainnya, yang di tengah perjuangan dan risiko, menemukan pelukan hangat solidaritas. Kepergiannya mengajarkan bahwa di balik setiap angka remitansi, ada kisah manusiawi yang mendalam, dan bahwa ikatan persaudaraan sebangsa tak mengenal batas geografis, bahkan dalam duka yang paling mendalam sekalipun.












