KlikMojok – Pagi itu, tak ada lagi gemerlap sepatu, sandal, atau tas kulit yang tertata rapi di tiga kios milik Munjanah (62). Bukan pula tawar-menawar riuh pembeli yang menyambutnya, melainkan bau sangit yang menusuk hidung, berpadu dengan pemandangan puing-puing bangunan, seng yang terpelintir, dan barang dagangan yang menghitam menjadi arang. Api telah melahap segalanya di Pasar Cukir Jombang, termasuk harapan yang baru saja ia bangun dengan mengisi penuh kios-kiosnya. Sebuah pelajaran pahit tentang ketidakpastian hidup baru saja tertulis.
Di antara reruntuhan Pasar Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Kamis (22/10/2026) pagi, Munjanah berdiri menatap sisa-sisa tempatnya mencari nafkah. Matanya menyapu tiga kios miliknya yang kini tinggal puing. Dinding yang semula putih kini hangus kehitaman, sementara atap seng terlepas dan berserakan, membentuk pola abstrak di atas tanah. Garis polisi berwarna kuning terbentang, menjadi penanda batas antara kenyataan yang menyakitkan dan kenangan tentang apa yang pernah ada.
Bagi sebagian orang, yang tersisa mungkin hanya bangunan rusak dan barang-barang hangus. Namun, bagi Munjanah, reruntuhan itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: modal usaha yang lenyap dalam semalam, barang dagangan yang tak sempat diselamatkan, dan harapan untuk terus menghidupi diri dari hasil berjualan yang kini terenggut. Ini adalah pendidikan kehidupan yang paling keras, mengajarkan tentang kehilangan dan ketidakberdayaan di hadapan musibah.
“Kios sepatu, sandal dan tas, semuanya habis. Padahal saya baru kulakan. Kalau dirupiahkan sekitar seratus juta rupiah. Ini takdir. Semuanya saya kembalikan kepada Allah. Nasib kita semua ditentukan Allah,” kata Munjanah dengan suara tercekat, mencoba menahan gejolak di dadanya. Kalimat itu terucap di tengah kehilangan yang tak kecil. Tiga kios miliknya baru saja diisi barang dagangan baru. Stok masih penuh, modal baru saja berputar, dan barang-barang itu semestinya menjadi sumber penghasilan pada hari-hari berikutnya. Namun, dalam hitungan waktu, semuanya berubah menjadi abu. Hati Munjanah seperti dihantam godam. Remuk.
Musibah itu datang ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam tidurnya. Sekitar pukul 01.30 WIB, Kamis (22/10/2026), Munjanah mendapat kabar mengejutkan bahwa kios-kios miliknya terbakar. Hari itu, ia sebenarnya telah memiliki rencana lain, yaitu berniat libur berjualan untuk berziarah ke Kajen, Jawa Tengah. Namun, kabar kebakaran tersebut seketika membuyarkan rencana sucinya.
Tak ada kesempatan sama sekali untuk menyelamatkan barang dagangan. Api telanjur melalap kios-kios di pasar tersebut dengan cepat dan ganas. Ketika Munjanah kembali ke Pasar Cukir setelah api padam, pemandangan di hadapannya jauh dari apa yang pernah ia bayangkan. Bangunan yang selama ini menjadi tempatnya mencari penghidupan telah porak-poranda. Barang dagangan yang baru dibeli tak lagi bisa dijual. Semuanya habis dilalap api. Bencana memang datang tanpa permisi, tak memberi waktu bagi seseorang untuk bersiap, apalagi berpamitan dengan sesuatu yang selama ini diperjuangkan.
Kebakaran hebat ini melanda Pasar Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Kamis dini hari. Sekitar 30 kios dilaporkan terbakar, sebagian besar merupakan kios yang menjual pakaian. Kepala Desa Cukir, Sugito, mengaku menerima informasi kebakaran dari masyarakat sekitar pukul 01.30 WIB. Setelah mendapatkan kabar tersebut, ia segera menuju lokasi kejadian.
Setibanya di pasar, Sugito mendapati api telah berkobar dengan hebat. Asap tebal mengepul tinggi di atas kawasan yang setiap pagi menjadi pusat aktivitas perdagangan masyarakat setempat. “Api kira-kira berasal dari titik satu, dua dan tiga. Beruntung saat kejadian, para pedagang belum beraktivitas. Karena pasar ini aktivitasnya pagi hari,” kata Sugito di lokasi kejadian.
Meskipun terjadi pada dini hari ketika pasar belum ramai, kebakaran itu meninggalkan kerusakan besar. Puluhan kios terdampak, sementara para pedagang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa barang-barang yang mereka siapkan untuk dijual kini tak tersisa. Sugito menambahkan bahwa jumlah kerugian materiil belum dapat dipastikan. Pendataan masih diperlukan untuk mengetahui besarnya kerugian yang dialami para pedagang, terlebih sebagian dari mereka baru saja menambah stok dagangan. “Kerugiannya pasti banyak. Karena mereka baru menyetok dagangan. Nilainya belum kita hitung,” ujarnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang, Wiku F Diaz, membenarkan peristiwa kebakaran tersebut. Untuk menangani kejadian itu, BPBD mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi. Hingga proses penanganan berlangsung, dugaan sementara kebakaran dipicu korsleting listrik. Namun, penyebab pasti peristiwa tersebut masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut dari pihak terkait.
Di Pasar Cukir, api mungkin pada akhirnya bisa dipadamkan. Asap perlahan menghilang, sementara petugas mulai menangani sisa-sisa kebakaran. Namun, bagi para pedagang yang kiosnya hangus, berakhirnya kobaran api bukan berarti berakhir pula dampak dari musibah itu. Bagi Munjanah, kehilangan tiga kios berarti kehilangan tempat untuk berjualan sekaligus barang dagangan senilai sekitar Rp100 juta menurut perkiraannya. Untuk kembali berdiri, ia harus menghadapi kenyataan bahwa modal dan stok yang baru saja dibelinya telah musnah.
Di hadapan reruntuhan itu, Munjanah tak memiliki banyak hal untuk dilakukan selain menerima kenyataan. Matanya mungkin masih menyimpan kesedihan yang mendalam, tetapi ia berusaha menguatkan diri dengan keyakinan yang dipegangnya teguh. “Semuanya saya kembalikan kepada Allah,” ucapnya lirih. Kalimat sederhana itu menjadi pegangan di tengah kehilangan yang begitu besar. Di antara seng yang berserakan dan barang dagangan yang berubah menjadi arang, Munjanah berusaha menerima takdir, sembari merenungkan bahwa jalan untuk kembali memulai usahanya belum terlihat jelas di cakrawala.
Kebakaran Pasar Cukir bukan sekadar kisah tentang puluhan kios yang dilalap api. Di balik setiap bangunan yang hangus, ada pedagang yang kehilangan modal, ada keluarga yang menggantungkan hidup pada hasil jualan, dan ada harapan yang harus dirajut kembali dari awal. Bagi Munjanah, pagi setelah kebakaran bukanlah awal hari untuk membuka kios seperti biasanya. Pagi itu, ia justru harus menatap kenyataan bahwa tempatnya mencari nafkah telah menjadi puing. Dan dari puing-puing itulah, perjuangan untuk bangkit kembali, sebuah pendidikan tentang ketabahan dan resilience, kelak harus dimulai.












