KlikMojok – Debu mengepul di setiap langkah, memeluk erat dedaunan yang kini mengering. Di Desa Pandanan, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, kemarau panjang bukan sekadar pergantian musim, melainkan ancaman nyata yang merenggut akses vital: air bersih. Krisis kekeringan Gresik ini mengubah rutinitas, dari sekadar mandi hingga urusan dapur, menjadi perjuangan harian.
Bertahun-tahun lamanya, warga di Pandanan dan setidaknya empat desa tetangga—Tumapel, Kandangan, Tambakrejo, serta Panjunan—hidup dalam bayang-bayang kelangkaan. Ketiadaan jaringan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menjadi akar masalah yang tak kunjung teratasi, memaksa mereka bergantung pada sumber air tadah hujan atau membeli dengan harga tinggi. Kondisi ini bukan hanya soal kehausan fisik, melainkan juga dampak sosial dan ekonomi yang mendalam, termasuk potensi gangguan kesehatan dan bahkan absensi anak-anak dari bangku sekolah karena harus membantu mencari air atau jatuh sakit.
Namun, di tengah keputusasaan itu, secercah harapan tiba. Pada Kamis, 22 Oktober 2026, iring-iringan truk tangki berwarna biru memecah keheningan desa. Sebanyak 10 tangki air bersih, inisiatif kepedulian dari Polres Gresik, didistribusikan untuk meringankan beban warga. Lima tangki pertama diarahkan ke Dusun Pandanan, dua tangki berikutnya ke Dusun Gancung, dan tiga tangki sisanya ke Dusun Wates. Penyaluran ini dikawal langsung oleh Kapolsek Duduksampeyan, Iptu I Ketut Riasa, beserta anggota, didampingi Kepala Desa Pandanan, Suryadi.
I Ketut Riasa mengungkapkan, penyaluran air bersih ini merupakan bentuk nyata kepedulian kepolisian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan. “Semoga bantuan air bersih ini bermanfaat dan meringankan beban masyarakat,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Bagi Suryadi, Kepala Desa Pandanan, bantuan ini adalah napas sementara yang sangat berarti. Ia menyoroti bahwa sedikitnya lima desa di Kecamatan Duduksampeyan masih berjuang keras mendapatkan air bersih, kondisi yang diperparah oleh absennya layanan PDAM. Meskipun mengapresiasi uluran tangan dari Polsek Duduksampeyan, Suryadi menitipkan pesan penting, sebuah permohonan yang mencerminkan kebutuhan jangka panjang: “Kalau bisa penyaluran air bersih tidak kali ini saja tapi terus berlanjut karena warga sangat membutuhkan.” Permohonan ini bukan sekadar permintaan, melainkan cerminan dari sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya infrastruktur dasar yang berkelanjutan.
Samiadji (54), salah seorang warga, merasakan langsung manfaat bantuan ini. Raut wajahnya menunjukkan kelegaan saat air mengalir memenuhi jeriken dan bak penampungan. “Sangat terbantu sekali tidak hanya buat mandi tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya, menggambarkan betapa vitalnya setiap tetes air yang datang.
Bantuan air bersih ini mungkin hanya sebuah oase di tengah kemarau panjang yang tak berkesudahan. Ia mengajarkan kita tentang nilai sejati setetes air, sekaligus menyoroti pekerjaan rumah besar dalam penyediaan akses dasar bagi seluruh warga. Di balik setiap tetes air yang disalurkan, terhampar harapan akan solusi permanen, dan sebuah pelajaran tentang kebersamaan, kepedulian, serta urgensi pembangunan infrastruktur yang merata demi masa depan yang lebih baik.












