KlikMojok – Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, H. Yusuf Diachmad Sabri, S.T., M.B.A., menekankan pentingnya strategi dakwah dari rumah ke rumah untuk membangun kedekatan dan pembinaan berkelanjutan di tingkat ranting. Pesan ini disampaikannya saat mengisi pengajian iftitah dalam pertemuan rutin bulanan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Srembi pada Ahad, 18 Oktober 2026, bertempat di kediaman Ustaz Ainul Muttaqin, M.Pd., di Kembangan Regency, Gresik. Menurutnya, pendekatan personal melalui kunjungan rumah dan komunikasi intensif adalah kunci keberhasilan dakwah Muhammadiyah dalam membina jemaah dan menjaga hubungan erat dengan masyarakat.
H. Yusuf Diachmad Sabri menggarisbawahi perbedaan peran antara pengajian besar yang berfungsi mengumpulkan jemaah dan pengajian rutin yang berfokus pada pembinaan. Ia mendorong Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) untuk aktif membangun kedekatan dengan masyarakat melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah warga, komunikasi personal yang intensif, serta pendampingan yang sifatnya berkelanjutan. Acara tersebut berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.
Dalam kesempatan tersebut, Yusuf, yang kala itu mengenakan baju koko putih dan songkok hitam, mengajak seluruh jemaah untuk merefleksikan kembali perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw. Ia memaparkan perbandingan antara penolakan keras yang dihadapi Rasulullah di Taif dengan sambutan hangat yang diterima dari masyarakat Madinah. Beliau kemudian melontarkan pertanyaan retoris, “Mengapa dakwah Rasulullah mendapat respons berbeda di kedua tempat itu?”
Pertanyaan mendalam tersebut selanjutnya memicu diskusi di antara jemaah mengenai urgensi dalam memahami kondisi sosial masyarakat, perlunya memilih pendekatan dakwah yang relevan, serta pentingnya melaksanakan pembinaan secara berkesinambungan. Yusuf lebih lanjut menjelaskan bahwa setiap pimpinan ranting memiliki karakteristik masyarakat yang unik, dengan perbedaan dalam kebutuhan, tantangan, dan potensi yang dimiliki. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa strategi dakwah harus dirancang secara khusus, disesuaikan dengan kondisi aktual warga di wilayah setempat.
Beliau juga mengaitkan pelajaran penting ini dengan semangat pembinaan kader yang diterapkan dalam kegiatan Baitul Arqam. Dalam konteks operasional ranting, kedekatan dan tingkat kepercayaan masyarakat dapat dibangun secara efektif melalui metode kunjungan dari rumah ke rumah, komunikasi yang terjalin secara intensif, serta pendampingan yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Yusuf menegaskan, “Ranting berhadapan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Kekuatan gerakannya perlu terlihat dalam kemampuan membina jemaah, menjaga hubungan dengan warga, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.”
Selain membahas strategi dakwah personal, H. Yusuf juga mengajak jemaah untuk memahami perbedaan fungsi dan peran vital antara pengajian besar dan pengajian rutin. Kedua jenis pengajian ini, menurutnya, memiliki kontribusi penting dalam menjaga keberlangsungan dakwah Muhammadiyah. Pengajian berskala besar memiliki potensi untuk memperluas jangkauan dakwah, efektif dalam memperkenalkan nilai-nilai fundamental Islam kepada khalayak luas, serta menjadi sarana untuk mempertemukan banyak individu. Namun, Yusuf menekankan bahwa pertemuan semacam itu harus ditindaklanjuti dengan program pembinaan yang terstruktur agar hubungan baik dengan jemaah tetap terpelihara setelah acara usai.
Ia kemudian menguraikan, “Di sinilah pengajian rutin memiliki peran penting. Melalui pertemuan yang terjadwal, jemaah dapat memperdalam pemahaman agama, mempererat persaudaraan, serta membangun kepedulian terhadap sesama.” Pertemuan yang diadakan secara bulanan ini juga memberikan peluang berharga bagi para anggota dan warga sekitar untuk saling mengenal satu sama lain secara lebih dekat. Terjaganya hubungan interpersonal yang baik ini diharapkan dapat memupuk terciptanya lingkungan yang saling mendukung dalam upaya menjalankan berbagai kebaikan.
Di luar pembahasan mengenai strategi dakwah yang efektif, Yusuf juga mengajak para jemaah untuk merenungkan keutamaan dalam mengingat Allah Swt. Beliau mengisahkan tentang para malaikat yang senantiasa berkeliling mencari majelis-majelis zikir, kemudian Allah Swt. bertanya mengenai apa yang sebenarnya diharapkan oleh orang-orang yang berada di dalam majelis tersebut. Dari kisah inspiratif tersebut, jemaah diajak untuk memahami bahwa zikir bukan hanya sekadar aktivitas mengingat Allah Swt., melainkan juga merupakan upaya fundamental untuk menjaga hubungan yang erat dengan-Nya, yang pada gilirannya harus terefleksi dalam perbaikan sikap dan kualitas kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, dalam bagian lain ceramahnya, Yusuf juga mengulas Surah Al-Baqarah ayat 30. Ayat ini mengisahkan dialog penting antara Allah Swt. dan para malaikat saat Allah menyampaikan kehendak-Nya untuk menetapkan seorang khalifah di muka bumi. Pembahasan mendalam mengenai ayat tersebut mendorong jemaah untuk merenungkan kembali tanggung jawab besar manusia dalam mengemban amanah kehidupan. Posisi sebagai khalifah di bumi membawa serta kewajiban mulia untuk senantiasa menjaga kelangsungan kehidupan, menegakkan nilai-nilai kebaikan, serta memberikan manfaat positif bagi seluruh sesama makhluk.
Menurut pandangan Yusuf, di level pimpinan ranting, amanah agung tersebut dapat diimplementasikan melalui berbagai bentuk kepedulian sosial, program pembinaan yang berkesinambungan bagi jemaah, serta penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang secara langsung menjawab kebutuhan riil masyarakat. Dalam konteks ini, kunjungan dari rumah ke rumah menjadi metode yang sangat efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan tersebut sekaligus mempererat tali silaturahmi dan kedekatan dengan warga setempat.












