KlikMojok – Ir. Tamhid Masyhudi, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, menegaskan pentingnya prinsip keadilan dan ihsan bagi kepemimpinan baru Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur. Pernyataan tersebut disampaikan pada penutupan Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur yang berlangsung di Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada Ahad, 18 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, Tamhid Masyhudi juga secara khusus mengajak seluruh pengurus PWNA Jatim periode 2026–2030 untuk segera melakukan konsolidasi menyeluruh hingga tingkat ranting guna menerjemahkan hasil Musywil menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Tamhid Masyhudi menekankan esensi dari kedua prinsip tersebut. Ia menyatakan, “Kalau kita ingin masyarakat makmur, pemimpin dan rakyat harus mampu menghadirkan keadilan dan ihsan. Keadilan memastikan hak-hak ditunaikan, sedangkan ihsan mendorong kita untuk memberikan kebaikan yang lebih luas.”
Selain memberikan arahan, Tamhid Masyhudi juga menyampaikan ucapan selamat kepada Dr. Arin Setiyowati, S.H.I., M.A., yang telah terpilih sebagai ketua, beserta seluruh anggota formatur PWNA Jawa Timur untuk periode kepemimpinan 2026–2030.
Dengan penuh harapan, ia berujar, “Selamat kepada Dr. Arin Setiyowati dan formatur terpilih PWNA Jawa Timur periode 2026–2030. Semoga amanah ini menjadi jalan untuk memperkuat perjuangan dan menghadirkan gerakan perempuan berkemajuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.”
Menurut pandangan Tamhid, organisasi Muhammadiyah mengemban tanggung jawab besar untuk senantiasa mencerahkan kehidupan. Hal ini diwujudkan melalui empat pilar utama: dakwah, tajdid atau pembaruan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pelaksanaan amal nyata. Keempat elemen ini, jelasnya, merupakan kekuatan fundamental dalam upaya membangun peradaban yang lebih baik.
Ia merinci peran masing-masing pilar tersebut: dakwah berfungsi untuk menggerakkan nilai-nilai luhur Islam, tajdid berupaya menghadirkan pembaruan yang relevan, ilmu pengetahuan menjadi fondasi utama bagi kemajuan, sementara amal nyata adalah wujud konkret dari keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat luas.
Semangat perjuangan ini, imbuh Tamhid, terlihat jelas dari antusiasme kehadiran kader Nasyiatul Aisyiyah yang datang dari berbagai pelosok Jawa Timur. Perjalanan jauh, mulai dari Kangean hingga Banyuwangi, tidak sedikit pun menyurutkan tekad mereka untuk berpartisipasi dalam musyawarah dan bersama-sama menentukan arah strategis organisasi ke depan.
Bagi Tamhid, semangat yang ditunjukkan oleh para kader ini menjadi indikator kuat bahwa dakwah Muhammadiyah terus berkembang dan tumbuh. Bahkan, jangkauan pengabdian organisasi ini telah meluas hingga ke kancah internasional.
Sebagai contoh, ia menyebutkan pendirian sekolah Muhammadiyah di Victoria, Australia, serta inisiatif Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Kuala Lumpur yang aktif mengembangkan sekolah internasional. Menurutnya, jalur pendidikan merupakan salah satu strategi paling efektif untuk memperluas dampak positif dan manfaat dari gerakan Muhammadiyah.
Khusus di wilayah Jawa Timur, Tamhid memaparkan data yang menunjukkan luasnya jangkauan amal usaha persyarikatan. Terdapat sekitar 1.040 sekolah Muhammadiyah dan 1.550 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta Taman Kanak-kanak (TK) Aisyiyah. Angka-angka ini, menurutnya, secara jelas menggambarkan betapa luasnya pengabdian Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam berkontribusi membangun kualitas sumber daya manusia di provinsi ini.
Ia kemudian menguraikan rahasia di balik keberlanjutan gerakan Muhammadiyah. “Kenapa Muhammadiyah bisa terus bergerak? Salah satunya karena memiliki sifat ihsan, yaitu semangat memberikan yang terbaik dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Gerakan amal tidak cukup hanya melakukan sesuatu, tetapi bagaimana kita memberikan manfaat yang lebih baik bagi sesama,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tamhid mengingatkan bahwa setiap gerakan berkemajuan harus senantiasa ditopang oleh kekuatan spiritual yang kokoh. Ia berpendapat bahwa ibadah yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan akan menumbuhkan integritas pribadi, rasa tanggung jawab yang tinggi, serta kepedulian mendalam terhadap sesama.
Para kader Nasyiatul Aisyiyah juga didorong untuk terus-menerus meningkatkan kapasitas diri. Salah satu caranya adalah melalui penguasaan di bidang sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika (STEAM). Menurutnya, semangat keislaman haruslah berjalan seiring dengan profesionalisme agar para kader mampu merespons dan menghadapi berbagai tantangan zaman yang terus berkembang.
Ia juga memberikan pengingat penting bahwa setiap amanah yang diemban pasti akan disertai dengan ujian dan tantangan. Oleh karena itu, para kader diminta untuk tidak menyerah saat menghadapi kesulitan, melainkan menjadikannya sebagai kesempatan berharga untuk belajar dan terus bertumbuh menjadi lebih baik.
Mengakhiri sambutannya, Tamhid Masyhudi kembali menekankan ajakan kepada kepemimpinan baru PWNA Jatim untuk segera melaksanakan konsolidasi organisasi. Proses ini harus mencakup hingga ke tingkat daerah, cabang, dan bahkan ranting. Ia menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan Musywil bukan hanya pada keputusan yang dihasilkan, melainkan pada kemampuan untuk menerjemahkan hasil-hasil musyawarah tersebut menjadi gerakan konkret yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.












