KlikMojok – Sepeda buatan Indonesia, khususnya dari pabrik Polygon di Sidoarjo, menunjukkan daya saing yang kuat di pasar internasional. Sekitar 70 persen dari total produksi sepeda merek Polygon yang dihasilkan oleh PT Insera Sena di Sidoarjo diekspor ke berbagai negara. Pasar Eropa menjadi tujuan utama ekspor, diikuti oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Potensi signifikan dari industri sepeda nasional ini menjadi sorotan utama saat Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan langsung ke fasilitas produksi PT Insera Sena yang berlokasi di Jalan Raya Lingkar Timur, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada Jumat (16/10).
Selama inspeksi tersebut, Wapres Gibran didampingi oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Sidoarjo Subandi. Mereka secara langsung mengamati seluruh tahapan proses produksi sepeda Polygon, mulai dari fase pengembangan produk awal hingga seluruh rangkaian proses manufaktur yang sepenuhnya mengandalkan keterlibatan tenaga kerja lokal.
Soni Hartanto, yang menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) sekaligus Direktur Operasional PT Insera Sena, menyatakan bahwa kunjungan dari jajaran pemerintah tersebut merupakan indikasi perhatian positif yang diberikan terhadap keberlanjutan industri di dalam negeri. Ia menambahkan bahwa sektor industri tidak hanya diharapkan mampu memproduksi barang yang kompetitif, melainkan juga wajib terus berinovasi, mempertahankan standar kualitas, serta meningkatkan kapabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berasal dari lingkungan lokal.
Soni menjelaskan, “Kami fokus pada pengembangan inovasi. Tadi juga diperlihatkan bagaimana tim Research and Development (R&D) kami mengembangkan produk sendiri. Kami juga menunjukkan bahwa proses produksi ini dikerjakan oleh anak bangsa.”
Soni Hartanto lebih lanjut menekankan bahwa inovasi dan konsistensi dalam menjaga kualitas merupakan dua elemen krusial yang terus dipertahankan oleh perusahaan. Upaya ini sangat penting guna memastikan bahwa produk sepeda Polygon tetap memiliki daya saing tinggi, baik di pasar dalam negeri maupun di kancah internasional. Khususnya untuk pasar ekspor, Benua Eropa masih mendominasi sebagai pasar terbesar bagi produk Polygon, dengan Prancis menjadi salah satu negara tujuan utama. Di samping itu, PT Insera Sena juga aktif membidik pasar di Amerika Serikat, Kanada, Australia, serta beberapa negara lain di seluruh dunia.
Menurut Soni, upaya pengembangan ekspor memegang peranan vital dalam meningkatkan kontribusi industri nasional terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menegaskan, “Kami terus berupaya mengembangkan ekspor. Itu menjadi kebanggaan bagi industri nasional dan juga bangsa Indonesia.”
Selain fokus pada ekspor, kunjungan tersebut juga menyoroti pentingnya penguatan kapabilitas industri lokal. Soni mengungkapkan bahwa pemerintah memiliki harapan besar agar industri nasional senantiasa mengembangkan inovasi, meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), dan memperluas penggunaan komponen serta sumber daya yang tersedia secara lokal. Ia menambahkan, dukungan dari pemerintah sangat esensial agar industri dapat terus bertumbuh dan beradaptasi di tengah dinamika serta tantangan ekonomi global.
Sebagai wujud konkret kolaborasi, PT Insera Sena telah mengimplementasikan berbagai program pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi tenaga kerja, bekerja sama dengan instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Perusahaan juga secara aktif menjalin kemitraan dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Faktanya, sebagian besar tenaga kerja yang dipekerjakan di perusahaan ini adalah lulusan SMK yang mendapatkan pembekalan keterampilan tambahan melalui program magang dan pelatihan praktis yang dilakukan langsung di lingkungan industri.
Soni memberikan contoh bahwa keterampilan teknis vital seperti pengelasan, pengecatan, dan perakitan terus-menerus diasah dan ditingkatkan agar selaras dengan standar dan kebutuhan produksi. Menurutnya, materi pembelajaran yang diperoleh di bangku sekolah perlu diperkuat dengan pengalaman praktis langsung di dunia kerja. Melalui inisiatif program magang dan pelatihan intensif, baik siswa maupun tenaga kerja muda memiliki kesempatan untuk mengasah dan meningkatkan kompetensi mereka secara signifikan sebelum benar-benar memasuki dunia industri.
“Kami bukan hanya menerima mereka untuk magang, tetapi juga mengembangkan kemampuan mereka. Misalnya, dalam proses pengelasan, pengecatan, dan perakitan, kami memberikan pelatihan untuk mempertajam keterampilan mereka,” papar Soni.
Soni menyampaikan harapannya agar kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, sektor industri, dan institusi pendidikan dapat terus dipererat dan ditingkatkan. Dengan sinergi ini, ia percaya bahwa kebutuhan akan tenaga kerja terampil dapat terpenuhi secara optimal, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi Sumber Daya Manusia (SDM) lokal untuk tumbuh dan berkembang. Langkah-langkah strategis ini dianggap krusial untuk mempertahankan daya saing industri manufaktur di Jawa Timur dan secara simultan memperkuat posisi produk buatan Indonesia di kancah pasar internasional.












