KlikMojok – Di balik tembok tinggi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya atau yang lebih dikenal dengan Rutan Medaeng di Waru, Sidoarjo, semangat produktivitas warga binaan tak pernah padam. Mereka secara aktif mengembangkan berbagai keterampilan melalui program pembinaan kemandirian, menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. Beragam hasil karya ini meliputi pembuatan roti dan donat, masakan nasi bakar, hingga produksi sabun cuci piring yang telah berhasil dipasarkan kepada masyarakat luas.
Program pembinaan kemandirian ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang selama para warga binaan menjalani masa hukuman mereka. Lebih dari itu, inisiatif ini dirancang sebagai bekal penting agar mereka memiliki kemampuan untuk mandiri dan bahkan mengembangkan usaha sendiri setelah kembali berintegrasi dengan masyarakat.
Menurut Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, pelaksanaan pembinaan kemandirian ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan kerja yang telah disesuaikan secara cermat dengan keterampilan dan potensi unik yang dimiliki oleh masing-masing warga binaan.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 69 warga binaan aktif terlibat dalam beragam kegiatan produktif tersebut. Bidang-bidang yang mereka tekuni sangat bervariasi, mencakup produksi makanan dan minuman, proses pembuatan sabun, penyediaan layanan barbershop, jasa laundry, serta pekerjaan merapikan komponen produk yang berasal dari pihak ketiga sebelum dikembalikan kepada perusahaan pemesan.
Tristiantoro menjelaskan pada Jumat lalu, “Semua itu bertujuan memberikan keterampilan atau skill bagi warga binaan di Rutan Surabaya. Mudah-mudahan dengan adanya pembekalan ini, setelah bebas nanti mereka bisa mengembangkan keterampilannya di luar.”
Salah satu kegiatan yang menonjol dan sangat produktif adalah sektor pembuatan donat. Setiap harinya, warga binaan di Rutan Medaeng mampu menghasilkan sekitar 500 buah donat. Selain itu, mereka juga aktif memproduksi roti abon, berbagai jenis gorengan, dan nasi bakar yang disajikan dengan beragam pilihan lauk lezat. Seluruh produk kuliner ini dipasarkan melalui koperasi rutan, dan menariknya, masyarakat di luar rutan juga memiliki kesempatan untuk memesan produk-produk ini guna berbagai keperluan, mulai dari acara keluarga hingga hajatan.
Untuk harga, satu kotak donat yang berisi enam buah ditawarkan seharga Rp 30 ribu. Sementara itu, satu kotak roti abon dibanderol dengan harga Rp 50 ribu. Nasi bakar sendiri dipasarkan dengan kisaran harga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per porsi, tergantung pilihan lauk.
Khusus untuk produk roti abon, proses produksinya dilakukan berdasarkan sistem pesanan (pre-order). Kebijakan ini diterapkan demi menjaga kesegaran optimal dan kualitas produk yang prima, mengingat roti abon memiliki daya tahan yang terbatas.
Tak hanya berfokus pada bidang kuliner, warga binaan juga berinovasi dengan memproduksi sabun cuci piring yang diberi merek “Smart Clean Rusabaya”. Produk pembersih ini tidak hanya digunakan di dalam rutan, melainkan juga berhasil dipasarkan ke luar dan menjadi favorit banyak warung makan yang memesannya secara rutin.
“Untuk bakery dan kuliner dipasarkan di dalam rutan, sedangkan sabun cuci perabotan rumah tangga kami jual ke luar,” jelas Tristiantoro.
Program pembinaan ini juga merambah ke layanan jasa, seperti barbershop yang melayani pemotongan rambut bagi warga binaan dan petugas rutan, serta jasa laundry. Selain itu, warga binaan juga aktif dilibatkan dalam pekerjaan merapikan komponen produk milik pihak ketiga, termasuk memenuhi pesanan yang terkait dengan kebutuhan PT Pindad, sebuah perusahaan industri pertahanan terkemuka.
Tristiantoro menambahkan bahwa semua kegiatan ini tidak hanya berfungsi untuk memberikan pengalaman kerja dan keterampilan praktis yang berharga, tetapi juga secara signifikan menciptakan nilai ekonomi bagi warga binaan. Sebagai bentuk apresiasi, mereka menerima premi atau imbalan atas setiap pekerjaan yang telah diselesaikan.
“Kalau di luar istilahnya gaji, tetapi di sini disebut premi. Mereka mendapatkan penghasilan dari produk yang dihasilkan di dalam rutan,” terang Kepala Rutan Kelas I Surabaya tersebut.
Bagi masyarakat yang tertarik untuk memesan produk-produk hasil karya warga binaan, dapat dengan mudah menghubungi pihak Rutan Kelas I Surabaya melalui aplikasi WhatsApp atau mengunjungi akun Instagram resmi mereka di @rutan_surabaya.
Tristiantoro mengungkapkan harapannya agar program pembinaan ini tidak hanya mampu meningkatkan kepercayaan diri para warga binaan, tetapi juga secara bertahap mengubah stigma dan pandangan masyarakat terhadap mereka. Ia menegaskan bahwa, meskipun sedang menjalani masa hukuman, warga binaan tetap memiliki kesempatan luas untuk berkarya, berinovasi, dan memberikan manfaat positif bagi orang lain.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa memotivasi warga binaan sekaligus mengubah stigma negatif masyarakat. Meski sedang menjalani hukuman, kreativitas dan keterampilan mereka tetap bisa kami fasilitasi melalui kegiatan yang positif,” pungkas Tristiantoro.












