Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Peran Krusial Masjid Nuruzzaman Unair dalam Membentuk Jiwa Pengabdian Dokter dan Dosen Handayani

badge-check

Peran Krusial Masjid Nuruzzaman Unair dalam Membentuk Jiwa Pengabdian Dokter dan Dosen Handayani Perbesar

KlikMojok – Dr. dr. Handayani, M.Kes., seorang Dosen Fakultas Kedokteran sekaligus Dekan Sekolah Manajemen dan Kesehatan Berkelanjutan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), berbagi kisah inspiratifnya mengenai bagaimana nilai-nilai yang ia dapatkan dari Masjid Nuruzzaman Kampus B Universitas Airlangga (Unair) menjadi bekal penting dalam perjalanan pengabdiannya. Pembelajaran spiritual tersebut membimbingnya tidak hanya sebagai dokter dan dosen, tetapi juga dalam mendampingi mahasiswa untuk menjangkau kelompok anak-anak yang kurang beruntung, menegaskan peran krusial Masjid Nuruzzaman Unair dalam membentuk karakternya.

Beliau mengawali kisahnya dengan sebuah refleksi mendalam, “Hidup ini bukan tentang merancang peta yang lurus tanpa hambatan, melainkan tentang bagaimana kita berjalan dengan keyakinan di atas takdir yang telah Allah tetapkan.”

Kenangan akan aroma lorong sekolah di Madiun bertahun-tahun silam masih melekat kuat dalam ingatan Dr. Handayani. Saat itu, di tengah kebimbangan yang kerap melanda remaja akhir masa SMA, seorang alumnus datang berkunjung. Dengan penuh semangat, alumnus tersebut berdiri di hadapan para siswa, termasuk Dr. Handayani, dan membagikan pengalamannya menempuh studi di fakultas kedokteran. Binar di mata sang alumnus saat bercerita secara tidak langsung menularkan semangat dan harapan ke dalam diri Dr. Handayani.

Ketika momen pendaftaran kuliah tiba, Dr. Handayani membulatkan tekad untuk mendaftarkan diri di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) sebagai pilihan utamanya. Namun, sebagai seorang anak muda yang masih dalam proses pencarian jati diri, ia juga menyiapkan beberapa opsi lain seperti hukum, ekonomi, dan arsitektur. Keputusan ini didasari oleh prinsip sederhana: menyerahkan sepenuhnya kepada Allah untuk memilihkan jalan terbaik baginya.

Takdir kemudian membawanya pada pengumuman penerimaan di FK Unair, sebuah kabar yang melampaui ekspektasinya kala itu. Berasal dari sebuah kampung kecil di Kabupaten Madiun dengan latar belakang orang tua petani, Dr. Handayani sempat merasa gamang menghadapi tantangan tersebut. Namun, pada titik itulah ia belajar menenangkan batinnya dengan berpikir, “Ini pilihan Allah untukku. Menjadi dokter adalah jalan kemuliaan. Kenapa tidak?”

Pengalamannya sebagai mahasiswa kedokteran di Surabaya tidak hanya berkutat pada hafalan anatomi tubuh manusia atau perjuangan dengan buku-buku tebal. Justru, di luar ruang perkuliahan, dinamika jiwanya banyak ditempa dan berkembang di serambi Masjid Nuruzzaman Kampus B Unair.

Bagi Dr. Handayani, yang kala itu berstatus anak kos jauh dari orang tua, masjid tersebut menjadi rumah kedua dan tempat untuk melabuhkan segala kepenatan. Di sana, ia secara tekun belajar membaca Al-Qur’an dengan baik, kemudian melanjutkan dengan mengikuti berbagai majelis kajian Islam, terutama yang diadakan setiap Jumat siang dan akhir pekan.

Energi masa mudanya disalurkan ke berbagai ruang pergerakan dan organisasi. Ia aktif terlibat dalam kepengurusan Senat Mahasiswa, Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), serta berproses di organisasi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan, ia tidak ragu untuk menghadiri pengajian-pengajian yang memiliki corak pemikiran cukup keras dan kritis, memperluas wawasannya.

Pada masa itu, Dr. Handayani memandang semua aktivitas tersebut sebagai laboratorium kehidupan. Ia hanya ingin terus berjalan, menyerap setiap pelajaran, dan mencari jalan yang diridai Ilahi. Lebih lanjut, di Masjid Nuruzzaman, ia belajar untuk merawat nurani, memastikan bahwa ilmu yang kelak ia miliki tidak akan menjadikannya pribadi yang tinggi hati.

Atas kehendak Allah (Kadarullah), garis hidup Dr. Handayani bergerak dengan cepat. Hanya beberapa pekan sebelum ia resmi lulus dan dilantik sebagai dokter pada tahun 1989, ia melangsungkan pernikahan. Tidak berselang lama, pada tahun 1990, ia harus mengikuti suaminya hijrah ke Kota Padang, membawa serta putri kecil mereka untuk merantau jauh dari tanah Jawa.

Dari tahun 1992 hingga 1995, dengan izin suaminya, Dr. Handayani mengabdi sebagai dokter dengan status pegawai tidak tetap (PTT) di salah satu puskesmas yang berlokasi di Kota Padang. Setelah masa PTT-nya berakhir, ia sempat mencoba melamar ke Dinas Kesehatan, namun sayangnya tidak diterima.

Suaminya kemudian menyarankan agar Dr. Handayani melanjutkan pendidikan spesialis. Formulir pendaftaran sudah ada di tangan dan informasi lengkap sudah didapatkan, tinggal proses pendaftaran. Namun, ia harus berhadapan dengan kenyataan saat itu: hidup di perantauan tanpa sanak saudara atau orang tua yang bisa memberikan bantuan, sementara ia sudah dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Ditambah lagi, suaminya memiliki jadwal kerja yang sangat ketat sebagai pegawai BUMN. Dalam kondisi seperti itu, melanjutkan pendidikan spesialis terasa seperti mendaki bukit terjal yang hampir mustahil untuk dilakukan.

Di tengah kebimbangan yang mendalam, sebuah pintu kesempatan lain kemudian terbuka: adanya lowongan dosen di Universitas Andalas. Dr. Handayani mendaftarkan diri, dan alhamdulillah, ia diterima.

Meskipun menjadi dosen bukanlah cita-cita masa kecilnya, Dr. Handayani kembali belajar untuk membaca tanda-tanda takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Baginya, profesi dokter adalah mulia, dan profesi guru atau dosen juga memiliki kemuliaan yang setara. Ia merasa seolah Allah menganugerahkan dua mahkota kemuliaan sekaligus dalam hidupnya: merawat fisik manusia melalui ilmu kedokteran dan merawat akal budi generasi bangsa melalui pengajaran di ruang-ruang kelas.

Sejak tahun 1996, Dr. Handayani telah mengabdi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Saat ini, ia melanjutkan pengabdiannya di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Dunia pendidikan kedokteran di Indonesia belakangan ini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat. Berbagai isu muncul, mulai dari kasus perundungan, bunuh diri, tingginya biaya studi di beberapa institusi, peningkatan jumlah institusi pendidikan dokter, hingga kehebohan seputar pembukaan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) baru, serta berbagai permasalahan lainnya.

Untuk menjadi seorang dokter di masa kini, keahlian dalam meresepkan obat atau memegang pisau bedah saja tidaklah cukup. Seorang mahasiswa kedokteran memerlukan bekal jiwa yang kokoh agar kelak mereka dapat tetap rendah hati, membumi, dan memiliki empati yang menyejukkan hati para pasien.

Dalam konteks inilah Fakultas Kedokteran Islam seperti FK Unusa mengambil peran penting melalui konsep “Pendidikan Kedokteran Plus”. Selain kurikulum nasional yang ketat, FK Unusa juga membekali mahasiswanya dengan penguatan kepemimpinan, penumbuhan jiwa kewirausahaan, serta fondasi keislaman yang kuat. Program-program yang diterapkan mencakup hafalan wajib juz 30, pemberdayaan pesantren, kajian etika profesi dokter muslim, hingga pelatihan kebencanaan dan latihan kepemimpinan melalui organisasi mahasiswa.

Melalui jejaring yang luas, yang meliputi pondok pesantren, Dinas Kesehatan, pemerintah daerah, serta kolaborasi dengan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, FK Unusa secara rutin mengajak mahasiswanya untuk terjun langsung ke tengah masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai cara mengobati, tetapi juga mengasah kemampuan mengorganisasi acara, mendengarkan keluh kesah warga pesantren, dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat bawah. Semua ikhtiar ini memiliki satu tujuan utama: melahirkan dokter-dokter yang memiliki karakter “rahmatanlilalamin” (rahmat bagi seluruh alam).

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Dr. Handayani dalam mendampingi mahasiswanya terjadi pada tahun 2018. Kala itu, ia membimbing lima orang mahasiswa FK Unusa, yaitu Diaz, Akbar, Attya, Hafidz, dan Dian, untuk menyusun serta melaksanakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan skema Pengabdian kepada Masyarakat.

Sasaran yang dipilih untuk program tersebut sangat spesifik, yakni anak-anak jalanan dan kelompok anak kurang beruntung yang tinggal di rumah singgah Kampung Anak Negeri (Kanro), di bawah binaan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Surabaya. Sekitar 25 anak tinggal di Kanro dengan latar belakang kehidupan yang amat beragam dan seringkali penuh luka.

Di antara mereka, ada yang telah kehilangan orang tua, sebagian lagi memiliki ayah yang sedang menjalani masa tahanan di penjara, sementara ibu mereka tidak memiliki penghasilan untuk menyekolahkan. Beberapa anak terbiasa mengamen di jalanan, ada pula yang dianggap nakal sehingga dikeluarkan dari sekolah, bahkan ada yang diusir dari rumah.

Di balik perilaku anak-anak tersebut yang terkadang tampak keras, memberontak, atau sulit diatur, tim mahasiswa dan Dr. Handayani belajar untuk memahami bahwa setiap anak menyimpan cerita dan luka batin yang sangat dalam. Pengalaman hidup yang berat membuat mereka rentan merasa ditolak, tidak disayangi, dan berpotensi memicu perilaku menyimpang atau bahkan radikal.

Berangkat dari pemahaman tersebut, tim mahasiswa yang dibimbingnya menyusun program “Radical Personality Test” dan pembelajaran “Anak Negeri” di Kanro, Surabaya. Dalam program ini, nilai-nilai nasionalisme yang berpijak pada Pancasila serta ajaran Islam disampaikan melalui metode yang menyenangkan dan dekat dengan dunia anak-anak. Aktivitas yang dilakukan bervariasi, mulai dari permainan ular tangga hingga berbagai kegiatan kelompok yang dirancang untuk melatih kerja sama, komunikasi, tanggung jawab, serta kepemimpinan mereka.

Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diajak untuk belajar bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling bermusuhan. Mereka juga diajarkan bahwa aturan dibuat untuk menjaga kebersamaan, dan bahwa setiap individu memiliki kesempatan berharga untuk berbuat kebaikan.

Alhamdulillah, proposal PKM tersebut berhasil meraih hibah dalam skema Pengabdian kepada Masyarakat dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Keberhasilan ini terasa sangat istimewa karena menjadi hibah PKM pertama yang diraih dalam sejarah Fakultas Kedokteran Unusa.

Dari tujuh tim PKM Unusa yang berhasil mendapatkan hibah, hanya dua tim yang berhasil lolos seleksi wilayah dan mendapatkan tiket untuk mengikuti ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-31 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan sangat membanggakan bagi Unusa.

Rektor Unusa pada saat itu, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., bersama dengan Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA, secara khusus memberikan penghargaan atas prestasi yang diraih oleh tim FK Unusa.

Ketua tim mahasiswa, Diaz Syafrie Abdillah, telah berhasil lulus sebagai dokter dengan predikat cum laude dan menyandang gelar lulusan terbaik FK Unusa. Saat ini, ia sedang melanjutkan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah di FK Unair. Sementara itu, semua anggota tim lainnya juga telah menyelesaikan studinya, dengan sebagian melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan sebagian lagi telah bekerja di berbagai instansi.

Bagi Dr. Handayani pribadi, nilai terbesar dari kegiatan ini bukanlah sekadar keberhasilan dalam meraih hibah. Lebih dari itu, ia menyaksikan secara langsung bagaimana para mahasiswa belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Mereka memahami bahwa seseorang yang mungkin tampak sulit didekati justru adalah mereka yang paling membutuhkan perhatian.

Mereka juga menyadari bahwa pelayanan kesehatan tidak selalu harus dimulai dari ruang periksa rumah sakit, dan bahwa seorang calon dokter harus mampu memahami manusia secara utuh. Pemahaman ini melampaui sekadar gejala penyakit, mencakup pula lingkungan dan kondisi sosial yang membentuk kehidupan pasien.

Keberhasilan program PKM ini juga menjadi pemantik semangat bagi Unusa untuk terus mendorong budaya riset dan pengabdian. Akibatnya, kini universitas secara konsisten memfasilitasi mahasiswanya untuk berpartisipasi dalam PKM Dikti setiap tahun. Pengalaman ini semakin menegaskan bahwa kehadiran seorang dosen tidak hanya terbatas pada mengajar di ruang kuliah, melainkan juga membersamai mahasiswa dalam mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata yang bermanfaat di tengah masyarakat.

Ketika merefleksikan kembali perjalanan hidupnya, Dr. Handayani menyadari bahwa banyak keputusan penting dalam hidup tidak selalu lahir dari kepastian. Seringkali ada inspirasi yang datang secara sederhana, harapan yang tiba-tiba berbelok arah, kesempatan yang tak terduga, serta keadaan yang memaksa seseorang untuk menyusun rencana baru. Namun, selama seseorang terus berikhtiar, berdoa, menjaga niat, dan bersedia untuk terus belajar, akan selalu ada ruang untuk menemukan makna terbaik di setiap persimpangan jalan kehidupan.

Kepada adik-adik mahasiswa dan sesama alumni Masjid Nuruzzaman, Dr. Handayani berpesan untuk senantiasa merawat hubungan dengan Allah melalui Al-Qur’an, ibadah, dan aktif mengikuti majelis ilmu. Ia juga mengajak untuk menjadikan masjid sebagai tempat menumbuhkan persaudaraan yang kokoh serta memperkuat karakter diri.

Beliau melanjutkan pesannya, “Berorganisasilah, perluas wawasan, dan jangan pernah takut untuk melangkah turun ke masyarakat. Sebab, pada akhirnya, arti kesuksesan bukan terletak pada seberapa tinggi gelar yang kita rengkuh, melainkan seberapa tulus kita melayani dan seberapa besar manfaat kehadiran kita bagi sesama manusia.”

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa dari ruang kuliah, ilmu pengetahuan dikembangkan. Dari masjid kampus, nurani diperkaya. Dan dari tengah masyarakat, pelajaran tentang pengabdian didapatkan. Sungguh, di sepanjang sisa usia, setiap individu harus terus berikhtiar untuk menjadi hamba yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Harmonisasi Peran Ibu dan Aktivis: Kisah Inspiratif Kader Nasyiatul Aisyiyah Sidoarjo di Musywil Jawa Timur

16 Okt 2026 - 12:37 WIB

Harmonisasi Peran Ibu dan Aktivis: Kisah Inspiratif Kader Nasyiatul Aisyiyah Sidoarjo di Musywil Jawa Timur

13 Siswa SMA Muhi Jelajahi 3 Negara dalam Program ILCCP 3: Bekal Wawasan Global

16 Okt 2026 - 09:44 WIB

13 Siswa SMA Muhi Jelajahi 3 Negara dalam Program ILCCP 3: Bekal Wawasan Global

Madura Raya Kirim Delegasi Lengkap ke CRM Award 2026: Empat Kabupaten Siap Bersaing

16 Okt 2026 - 09:43 WIB

Madura Raya Kirim Delegasi Lengkap ke CRM Award 2026: Empat Kabupaten Siap Bersaing

Ketika Samudra Memulangkan Senyap: Kisah Pencarian Nelayan Pacitan yang Hilang di Ngadirojo

16 Okt 2026 - 06:13 WIB

Ketika Samudra Memulangkan Senyap: Kisah Pencarian Nelayan Pacitan yang Hilang di Ngadirojo

Luka Bara di Lereng Bromo: Empat Nyawa Terenggut, Menanti Jawaban dari Konservasi yang Terluka

16 Okt 2026 - 06:12 WIB

Luka Bara di Lereng Bromo: Empat Nyawa Terenggut, Menanti Jawaban dari Konservasi yang Terluka
Trending di Pendidikan