KlikMojok – Petang itu, di tengah hamparan hijau keemasan sawah jagung Dukuh Bulu I, Desa Bulu, Kecamatan Sambit, Ponorogo, sebuah rutinitas harian seorang kuli bangunan berusia 74 tahun berakhir tragis. Misradi, warga Dukuh Kebatan I, Desa Campurejo, Sambit, yang gigih bekerja di usia senjanya, ditemukan tak bernyawa pada Sabtu (10/10/2026) petang, meninggalkan duka dan pertanyaan tentang perjuangan hidup di masa tua.
Setiap pagi, Misradi menunaikan tugasnya sebagai kuli bangunan di Kecamatan Sawoo, sebuah dedikasi yang tak surut dimakan usia. Pukul 07.00 WIB, seperti biasa, ia berpamitan kepada anaknya, siap memulai hari dengan keringat dan tenaga. Dua rekan kerjanya bersaksi, Misradi berada di lokasi pekerjaan dalam kondisi sehat, menjalani aktivitasnya tanpa keluhan, seolah usia tak menjadi penghalang bagi semangatnya untuk terus berkarya dan menafkahi diri.
Sekitar pukul 16.00 WIB, Misradi dan kedua rekannya beranjak pulang. Mereka sempat beriringan, bahkan kedua rekannya mendahului Misradi yang mengendarai sepeda motor Honda Supra miliknya. Tak ada firasat buruk, tak ada tanda-tanda mencurigakan. Semuanya tampak normal, seperti perjalanan pulang kerja pada umumnya. Namun, ketika waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB dan Misradi tak kunjung tiba di rumah, kekhawatiran mulai menyelimuti sanak keluarga. Anaknya segera menghubungi kedua rekan kerja sang ayah untuk menanyakan keberadaan Misradi. Setelah mendengar bahwa Misradi sudah pulang lebih dulu namun belum sampai di rumah, mereka bertiga tanpa ragu sepakat untuk mencari Misradi.
Pencarian pun dimulai, menelusuri jejak-jejak yang mungkin ditinggalkan Misradi. Arah pencarian difokuskan ke area persawahan di Dukuh Bulu I, Desa Bulu, tempat yang sering Misradi singgahi untuk mencari rumput setelah pulang bekerja. Sebuah kebiasaan sederhana yang kini menjadi petunjuk krusial. Sekitar pukul 18.00 WIB, harapan samar muncul ketika mereka menemukan sepeda motor Misradi terparkir di lokasi tersebut. Namun, Misradi belum juga terlihat.
Dengan jantung berdebar, pencarian dilanjutkan hingga ke bagian tengah persawahan, di antara jajaran tanaman jagung yang tinggi menjulang, menyulitkan pandangan dari luar. Di sanalah, tak jauh dari tumpukan rumput yang mungkin baru saja dikumpulkannya, Misradi ditemukan dalam posisi terlentang. “Korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia,” ungkap Kapolsek Sambit AKP Moh Isa Latip, menggambarkan momen pilu penemuan itu. Ketiganya segera menghubungi perangkat desa dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sambit.
Tak lama berselang, tim kepolisian dari Polsek Sambit dan Polres Ponorogo, didampingi tenaga kesehatan dari Puskesmas Sambit, tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan identifikasi. Pemeriksaan awal terhadap jenazah tidak menemukan tanda-tanda kekerasan, luka, maupun ceceran darah di sekitar lokasi. Berdasarkan keterangan saksi dan hasil pemeriksaan luar, Misradi diduga kuat meninggal dunia akibat henti jantung. Sebuah akhir yang mendadak, namun damai, di tengah ladang yang menjadi bagian dari kesehariannya.
Pihak keluarga dengan lapang dada menerima peristiwa ini sebagai musibah. Mereka menyatakan tidak bersedia dilakukan autopsi dan telah membuat surat pernyataan resmi terkait hal tersebut. Setelah seluruh proses pemeriksaan dan administrasi selesai, jenazah Misradi diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Kisah Misradi menjadi pengingat akan ketangguhan dan dedikasi para lansia yang masih berjuang mencari nafkah, serta betapa rapuhnya kehidupan yang bisa berakhir kapan saja, bahkan di tengah rutinitas yang paling akrab sekalipun.












