KlikMojok – Pagi di Dusun Kampung, Desa Sopet, Kecamatan Jangkar, Situbondo, biasanya diwarnai suara-suara ternak yang baru bangun dan aktivitas warga yang bersiap menyambut hari. Namun, Sabtu (10/10/2026) itu, ketenangan subuh pecah oleh kepanikan. Seekor anak sapi berusia tiga bulan milik Tomo, warga setempat, ditemukan terjebak dalam sumur tua yang dalam, mengawali drama penyelamatan yang berakhir tragis dan menyisakan pelajaran berharga tentang keselamatan ternak.
Sekitar pukul 06.00 WIB, kegelisahan mulai menyelimuti. Anak sapi yang masih ringkih itu, entah bagaimana, berhasil menerobos pagar pengaman sumur. Sebuah lubang gelap sedalam sembilan meter menelannya, menjebak harapan dan nyawa mungil itu di dasar yang dingin. Bukan hanya sekadar kecelakaan, peristiwa ini adalah cerminan dari tantangan pengelolaan lingkungan pedesaan, di mana infrastruktur dasar seperti sumur seringkali menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap, namun juga menyimpan potensi bahaya yang tak terduga.
Laporan cepat dari warga segera memicu respons dari berbagai pihak. Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Situbondo, Puriyono, mengonfirmasi bahwa tim gabungan, yang terdiri dari petugas Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Situbondo, Tagana Dinas Sosial, petugas pemadam kebakaran wilayah Asembagus, Kecamatan Jangkar, Polsek Jangkar, Koramil Jangkar, Pemerintah Desa Sopet, serta warga setempat, bergegas menuju lokasi. Namun, medan yang mereka hadapi bukanlah perkara mudah. “Petugas bersama Tagana dan Damkar wilayah Asembagus mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Namun, proses evakuasi terkendala ukuran sumur yang sempit dan dalam,” ujar Puriyono, menjelaskan tantangan utama. Sumur itu, dengan dimensi hanya sekitar 120 x 120 sentimeter dan kedalaman sembilan meter, serta genangan air setinggi sekitar delapan meter, bagai jebakan maut yang nyaris mustahil ditembus.
Berjam-jam upaya penyelamatan berlangsung. Tim gabungan berusaha keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk menarik anak sapi yang terperangkap. Namun, setiap gerakan terbatas oleh ruang yang sempit, setiap strategi terbentur oleh kedalaman yang ekstrem. Ketidakberdayaan mulai merayapi. Pada akhirnya, di tengah keputusasaan, anak sapi yang malang itu menyerah. Nyawanya tak tertolong, meninggalkan duka mendalam bagi pemiliknya dan menjadi pengingat pahit bagi semua yang menyaksikan. Meski tidak ada korban jiwa manusia, kerugian materiil, meskipun belum dirinci, tentu menambah beban kesedihan.
Tragedi ini, lebih dari sekadar berita tentang kecelakaan hewan, adalah sebuah “pendidikan” berharga bagi komunitas. Ia menyoroti urgensi untuk tidak mengabaikan detail terkecil dalam aspek keamanan, terutama di lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peristiwa di Dusun Kampung ini menjadi peringatan keras bagi setiap warga, khususnya para peternak, untuk selalu memastikan pagar pengaman sumur, baik di sekitar kandang maupun area tempat ternak berkeliaran, dalam kondisi prima, kokoh, dan tertutup rapat. Sebab, kelalaian sekecil apa pun bisa berujung pada tragedi yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka dan pelajaran yang mendalam bagi sebuah desa. Keselamatan, baik bagi manusia maupun hewan, adalah tanggung jawab bersama yang tak boleh dikesampingkan.












