Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Pengalaman Langsung: Siswa SDAI eLKISI Kuasai Perkembangbiakan Tumbuhan Lewat Praktik di Edupark

badge-check

Pengalaman Langsung: Siswa SDAI eLKISI Kuasai Perkembangbiakan Tumbuhan Lewat Praktik di Edupark Perbesar

KlikMojok – Pada hari Sabtu, 10 Oktober 2026, siswa kelas IV dan V SDAI Internasional eLKISI mengikuti kegiatan praktik menanam kacang hijau di eLKISI Edupark, Mojokerto. Kegiatan ini merupakan bagian penting dari pembelajaran mengenai perkembangbiakan tumbuhan, di mana para siswa mendapatkan pengalaman langsung di laboratorium alam. Mereka belajar berbagai tahapan, mulai dari membuat lubang tanam hingga memahami pentingnya penyiraman yang tepat.

Praktik lapangan ini dirancang sebagai kelanjutan dari materi yang telah dipelajari di kelas, khususnya tentang perkembangbiakan tumbuhan secara generatif melalui biji. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat melihat dan mempraktikkan secara langsung tahapan-tahapan awal dalam proses pertumbuhan suatu tumbuhan.

eLKISI Edupark, yang terletak di lingkungan Pondok Pesantren eLKISI Pungging, Kabupaten Mojokerto, berfungsi sebagai laboratorium alam yang ideal untuk kegiatan semacam ini. Di lokasi tersebut, proses pembelajaran tidak hanya terbatas pada penyampaian teori. Sebaliknya, siswa secara aktif terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari memegang biji, menyiapkan media tanam, hingga melaksanakan proses penanaman secara mandiri.

Agustin Dwi Ayuningsih, M.Pd., selaku pendamping kegiatan, menjelaskan bahwa praktik menanam ini memiliki tujuan utama untuk memperkenalkan salah satu metode perkembangbiakan tumbuhan, yaitu secara generatif melalui biji. Ia menambahkan, “Dengan praktik langsung, siswa diharapkan lebih mudah memahami materi yang sebelumnya mereka pelajari di kelas.”

Kegiatan dimulai dengan sesi penjelasan komprehensif mengenai beragam cara perkembangbiakan tumbuhan. Setelah sesi tersebut, para siswa langsung memulai tahap penanaman kacang hijau, menggunakan media tanah yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Dalam proses ini, siswa dibimbing untuk mempelajari cara membuat lubang tanam dengan kedalaman yang tepat, menentukan jumlah biji yang akan ditanam, serta mengatur jarak antar lubang. Penentuan jarak ini penting agar setiap tanaman memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Usai menempatkan biji di dalam tanah, langkah berikutnya adalah menyiramnya dengan jumlah air yang secukupnya. Tindakan ini bertujuan untuk menjaga kelembapan tanah, yang krusial untuk mendukung dan mempercepat proses perkecambahan biji.

Agustin turut menegaskan bahwa kegiatan menanam tidak lantas berakhir setelah biji ditanam ke dalam tanah. Ia menjelaskan bahwa tanaman memerlukan perawatan berkelanjutan dan intensif agar dapat tumbuh dengan sehat dan baik.

Para siswa juga diajarkan mengenai pentingnya penyiraman rutin, yang umumnya dilakukan sekali sehari pada pagi hari. Namun, mereka juga ditekankan untuk selalu memperhatikan kondisi tanah. Media tanam harus dijaga agar tidak menjadi terlalu kering, namun di sisi lain, juga tidak boleh sampai tergenang air, karena keduanya dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Melalui seluruh rangkaian proses ini, siswa memperoleh pemahaman mendalam bahwa pertumbuhan tanaman adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu, perhatian yang cermat, dan perawatan yang konsisten serta berkelanjutan. “Praktik itu sekaligus melatih kesabaran dan tanggung jawab karena siswa perlu memperhatikan perkembangan tanaman yang telah mereka tanam,” tambahnya.

Salah seorang peserta, Jihan Aulia Ahfa, siswa kelas IV, mengungkapkan bahwa ia mendapatkan pengalaman baru yang berharga dari kegiatan praktik menanam ini. Jihan menyatakan, “Dari sini saya mendapatkan ilmu menanam kacang hijau dengan baik dan benar. Saya capek, tapi seru karena mendapatkan pengalaman baru.”

Dengan adanya praktik langsung di Edupark, para siswa dapat secara nyata melihat keterkaitan erat antara materi pelajaran yang telah mereka terima di kelas dengan proses-proses alamiah yang sesungguhnya terjadi di lingkungan sekitar. Hal ini berarti mereka tidak hanya memahami konsep perkembangbiakan tumbuhan secara teoritis, tetapi juga secara langsung mengalami dan melaksanakan setiap tahapan, mulai dari menanam hingga merawatnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Tragedi di Pertigaan Karangrejo: Pelajaran Berharga dari Kecelakaan Bus Sugeng Rahayu di Magetan

11 Okt 2026 - 06:14 WIB

Tragedi di Pertigaan Karangrejo: Pelajaran Berharga dari Kecelakaan Bus Sugeng Rahayu di Magetan

Senja di Tengah Jagung: Kisah Haru Lansia Kuli Bangunan yang Meninggal di Sawah Ponorogo

11 Okt 2026 - 06:13 WIB

Senja di Tengah Jagung: Kisah Haru Lansia Kuli Bangunan yang Meninggal di Sawah Ponorogo

Inovasi Pembelajaran Lingkungan: Murid Kelas I SDIT Al-Ibrah Sulap Sampah Plastik Jadi Pot Tanaman Unik

11 Okt 2026 - 06:11 WIB

Inovasi Pembelajaran Lingkungan: Murid Kelas I SDIT Al-Ibrah Sulap Sampah Plastik Jadi Pot Tanaman Unik

Gelombang Masalembo dan Penantian Pulang: Kisah Korban KM Virgo Transport 8 Asal Jember

10 Okt 2026 - 21:05 WIB

Gelombang Masalembo dan Penantian Pulang: Kisah Korban KM Virgo Transport 8 Asal Jember

Ketika Pagar Tak Cukup Kuat: Tragedi Anak Sapi di Sumur Situbondo dan Pelajaran Berharga

10 Okt 2026 - 21:05 WIB

Ketika Pagar Tak Cukup Kuat: Tragedi Anak Sapi di Sumur Situbondo dan Pelajaran Berharga
Trending di Pendidikan