KlikMojok – Deru mesin truk tangki memecah keheningan siang di Desa Cantel, Kecamatan Pitu, Ngawi. Seketika, barisan warga bergegas, jeriken dan galon kosong beradu suara, berebut mengisi bejana-bejana harapan. Di sinilah, di tengah pusaran kemarau panjang yang mendera, ribuan jiwa di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, tengah bergulat dengan krisis air bersih, sebuah pelajaran pahit tentang ketahanan dan pentingnya setiap tetes air dalam menghadapi dampak kekeringan Ngawi.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi menunjukkan bahwa dampak kekeringan telah menjangkau 21 desa yang tersebar di tujuh kecamatan, menyebabkan 4.403 jiwa kesulitan mendapatkan akses air bersih. Sumur-sumur permukiman yang mengering serta pasokan air PDAM yang kian terbatas, memaksa warga kini sepenuhnya mengandalkan distribusi bantuan air bersih untuk bertahan.
Kondisi pelik ini begitu nyata dirasakan warga Desa Cantel. Pada Jumat (9/10/2026) siang, pemandangan ratusan warga berbondong-bondong mendatangi tempat penampungan air, membawa jeriken dan galon bekas air mineral, menjadi potret keseharian. Tak jarang, sebagian warga bahkan membawa lebih dari enam galon demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air bantuan tersebut menjadi satu-satunya sumber penting bagi masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih di tengah kemarau berkepanjangan yang tak kunjung usai.
Warga setempat mengisahkan, sumur-sumur di lingkungan permukiman mereka telah mengering selama sekitar satu bulan terakhir. Sementara itu, aliran air PDAM belakangan hanya muncul sesekali dengan debit yang sangat kecil, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara memadai. Situasi ini mendorong warga untuk menggunakan setiap persediaan air secara cermat, mulai dari minum dan memasak hingga memenuhi kebutuhan ternak mereka yang juga sangat bergantung pada air.
Ketika bantuan tak kunjung tiba, pilihan terakhir seringkali adalah mencari sumber air alternatif, bahkan hingga ke kawasan hutan yang jaraknya cukup jauh dari permukiman. Puryanto, salah seorang warga Desa Cantel, menggambarkan betapa beratnya perjuangan ini. “Susah banget apalagi kalau bantuan tidak datang nyarinya jauh ke hutan untuk minum juga kebutuhan ternak sudah sebulan terakhir sumur mengering,” ujar Puryanto, menyoroti kesulitan ekstrem yang mereka alami.
Kesulitan memperoleh air bersih ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga, tetapi juga menambah beban berat bagi warga yang memelihara ternak. Mereka harus memastikan ketersediaan air untuk konsumsi keluarga sekaligus menjaga kebutuhan ternak tetap terpenuhi, menambah kompleksitas tantangan hidup di tengah krisis air.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ngawi, Yudha Herlambang, menegaskan skala masalah yang ada. “Hingga kini sudah ada 4 ribu jiwa lebih yang terdampak kekeringan, sumur-sumur mengering akibat kemarau panjang,” kata Yudha, menggarisbawahi urgensi penanganan.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat, BPBD Kabupaten Ngawi mencatat bahwa distribusi bantuan air bersih dikirim setiap hari oleh berbagai pihak ke wilayah terdampak. Penyaluran ini merupakan upaya kolektif untuk meringankan beban warga yang kesulitan mendapatkan air dari sumber di sekitar tempat tinggal mereka. Di Desa Cantel, kedatangan truk tangki memang selalu menjadi momen yang dinanti, memberikan kesempatan bagi warga untuk mengisi kembali persediaan air.
Namun, kebutuhan yang terus berlangsung membuat keberlanjutan distribusi menjadi sangat penting, terutama selama sumur belum kembali terisi dan aliran PDAM masih terbatas. Warga berharap bantuan air bersih dapat diberikan secara rutin selama kekeringan masih terjadi. Kepastian pasokan dinilai krusial agar kebutuhan rumah tangga dan ternak tetap terpenuhi, tanpa harus terus-menerus mencari sumber air yang lokasinya jauh dari permukiman.
Lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, perjuangan warga Ngawi ini adalah cerminan ketahanan dan adaptasi. Setiap tetes air yang mereka dapatkan bukan hanya penawar dahaga, melainkan juga simbol harapan dan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga sumber daya alam serta solidaritas sosial dalam menghadapi perubahan iklim. Selama kemarau masih menjadi siklus tahunan, kisah di Ngawi ini akan terus mengingatkan kita akan nilai tak ternilai dari air bersih dan urgensi upaya kolektif dalam menghadapinya.












