KlikMojok – Menyambut peringatan Hari Santri Nasional 2026, Persatuan Guru Madrasah Mandiri (PGMM) Kabupaten Pacitan tengah mempersiapkan sebuah acara besar bertajuk Pekan Budaya Santri. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 22 hingga 24 Oktober 2026 ini bertujuan untuk menjadi panggung kreativitas, kolaborasi, dan kemandirian bagi generasi muda di Kabupaten Pacitan, sekaligus merajut keberagaman budaya santri.
Perayaan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Pacitan direncanakan bukan sekadar menjadi agenda seremonial biasa. PGMM Pacitan berinisiatif untuk menyelenggarakan Pekan Budaya Santri pada tanggal 22–24 Oktober 2026, menjadikannya sebuah perhelatan istimewa.
Agenda ini dirancang sebagai ruang pertemuan dan interaksi bagi pelajar, santri, perwakilan madrasah, sekolah umum, pesantren, serta berbagai unsur masyarakat lainnya di Pacitan.
Beragam kegiatan menarik telah disiapkan untuk memeriahkan Pekan Budaya Santri. Rangkaian acara meliputi Expo Pesantren dan Kemandirian Santri, Karnaval Kreasi Sarung, Festival Kaligrafi Santri, melukis ala santri, Gebyar TK dan PAUD, hingga penampilan Band Santri. Melalui berbagai rangkaian acara ini, generasi muda akan mendapatkan wadah untuk menampilkan kreativitas mereka sekaligus memperkenalkan potensi yang dimiliki oleh pesantren.
Ketua PD PGMM Kabupaten Pacitan, Imron Prawito, menjelaskan bahwa inisiatif kegiatan menuju Hari Santri ini lahir dari keinginan untuk memperluas makna peringatan Hari Santri itu sendiri. Menurut Imron, agenda tersebut tidak hanya berfokus pada organisasi guru madrasah, tetapi juga secara aktif melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan bersama.
“PGMM hadir bukan hanya sebagai organisasi yang melakukan aksi untuk guru. Tahun ini kami ingin menghadirkan ruang bagi generasi-generasi muda dan generasi yang akan datang agar lebih bersemangat dalam belajar,” terang Imron Prawito.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, PGMM menjalin kolaborasi erat dengan Dinas Pendidikan setempat. Kemitraan ini bertujuan untuk melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga lingkungan pondok pesantren dari berbagai organisasi masyarakat yang ada di Pacitan.
Sejumlah perlombaan keagamaan juga akan turut mengisi rangkaian kegiatan Pekan Budaya Santri. Lomba-lomba tersebut meliputi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Hifzil Quran (MHQ), kaligrafi, Pildacil, shalawat Al Banjari tingkat SMP/MTs, serta hadrah kontemporer tingkat SD/MI.
Panitia merencanakan agar perlombaan tersebut berlangsung pada tanggal 23–24 Oktober 2026. Sementara itu, beberapa lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan mencakup panggung expo, Pendopo Kabupaten Pacitan, dan Masjid Agung Pacitan.
Bagi Imron Prawito, keterlibatan berbagai unsur pendidikan dan pesantren ini bukan sekadar upaya untuk memperbanyak jumlah peserta. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat menunjukkan keragaman lembaga pendidikan, tradisi, karakter, dan budaya Pacitan dalam satu ruang kebersamaan yang harmonis.
“Harapan kami, inilah wujud Pacitan yang beragam, Pacitan yang berbudaya dan memiliki banyak karakter. Pacitan tidak bisa dilepaskan dari budaya santri karena berbagai organisasi memiliki pesantren dan santri,” ujarnya.
Oleh karena itu, Imron berharap bahwa perbedaan latar belakang lembaga maupun organisasi yang terlibat tidak akan menjadi sekat dalam peringatan Hari Santri ini. Sebaliknya, keberagaman tersebut diharapkan dapat menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun kebersamaan di tengah masyarakat Pacitan.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi kegiatan bersama. Inilah kekayaan Pacitan dan ruang bagaimana kita bisa hadir bersama mewujudkan visi dan misi untuk membangun Pacitan menjadi lebih baik,” tegasnya.
Saat ini, PGMM masih dalam tahap intensif menyusun persiapan kegiatan. Organisasi tersebut tengah merancang petunjuk teknis untuk setiap agenda yang akan dilaksanakan sebelum menyampaikannya kepada pihak-pihak yang akan terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Selain itu, PGMM juga telah menjalin komunikasi dengan sejumlah pesantren terkemuka di Pacitan. Imron Prawito menyampaikan bahwa pihaknya telah bersilaturahmi dengan Gus Lukman dari Pondok Tremas dan Gus Hamam dari Pondok Kikil.
Pertemuan-pertemuan tersebut bertujuan untuk meminta kritik, saran, arahan, sekaligus dukungan penuh terhadap rencana penyelenggaraan Expo Hari Santri dan berbagai kegiatan kemandirian santri yang akan dilaksanakan.
“Kami meminta kritik, saran, dan arahan agar kegiatan expo Hari Santri ini berjalan sebagaimana mestinya. Kami juga berharap dukungan dari berbagai pesantren untuk bersama-sama menyukseskan expo kemandirian santri,” kata Imron.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pacitan, melalui Sekretariat Daerah, telah mengundang Ketua PGMM Pacitan dalam rapat koordinasi persiapan menuju Hari Santri Nasional 2026. Rapat penting tersebut berlangsung pada tanggal 6 Oktober 2026 di Ruang Krida Pembangunan Kabupaten Pacitan.
Rangkaian agenda yang digagas PGMM ini nantinya turut menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pacitan. Dengan memadukan unsur pendidikan, seni, budaya, kompetisi, dan kemandirian santri, Pekan Budaya Santri diharapkan tidak hanya berhenti sebagai panggung pertunjukan. Lebih jauh lagi, menjelang Hari Santri Nasional 2026 ini diharapkan menjadi ruang pertemuan yang merefleksikan dan merayakan keberagaman Pacitan.












