KlikMojok – Di tengah riuhnya tawa anak-anak yang sering menghiasi tepian sungai, sebuah tragedi sunyi merenggut nyawa Sabil, bocah berusia lima tahun, di aliran Sungai Sekayu, Dukuh Tengah, Desa Nambangrejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo. Peristiwa nahas pada Jumat pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, bukan sekadar kecelakaan air biasa, melainkan cermin dari krusialnya pengawasan orang tua terhadap anak-anak, terutama saat bermain di lingkungan yang berpotensi membahayakan. Sabil, yang kala itu asyik bermain bersama dua temannya tanpa dampingan orang dewasa, tak mampu bertahan saat tubuh mungilnya terseret arus dalam.
Kejadian tragis ini bermula ketika Sabil bersama kedua temannya bermain di area sungai. Menurut Kapolsek Sukorejo Iptu Agus Tri Cahyo Wiyono, insiden ini terjadi tanpa pengawasan orang tua atau orang dewasa lainnya. Anak-anak tersebut bahkan mencoba berenang, padahal Sabil diketahui tidak memiliki kemampuan berenang. Situasi inilah yang kemudian berujung pada petaka di bagian sungai dengan kedalaman yang cukup signifikan.
“Jadi kronologisnya, korban dengan dua temannya tanpa pengawasan keluarga atau orang yang lebih tua bermain-main di sungai. Termasuk berenang dan korban ternyata tidak bisa berenang, akhirnya terjadi laka air,” kata Agus, pada Jumat (9/10/2026), menjelaskan detail awal kejadian yang memilukan tersebut.
Kejutan dan ketakutan melanda dua teman Sabil yang menyaksikan langsung insiden itu. Mereka berlari mencari pertolongan, namun informasi mengenai anak tenggelam baru tersebar setelah beberapa saat. Warga desa yang mendengar kabar duka itu segera berbondong-bondong menuju lokasi, bergabung dengan petugas kepolisian dalam upaya pencarian yang mencekam.
Pencarian yang berlangsung sekitar satu jam itu akhirnya membuahkan hasil. Arif Effendi, salah seorang warga yang turut menyelam, berhasil menemukan jasad Sabil di dasar sungai. Tubuh mungil itu tersangkut di sela-sela bebatuan, memerlukan upaya ekstra untuk dikeluarkan sebelum akhirnya diangkat ke permukaan. Kedalaman sungai di titik penemuan diperkirakan mencapai lima meter, menunjukkan betapa berbahayanya area tersebut bagi anak-anak. Iptu Agus Tri Cahyo Wiyono menambahkan bahwa jarak antara lokasi dugaan tenggelam dan penemuan korban tidak terlalu jauh, namun evakuasi tetap memerlukan kehati-hatian mengingat kedalaman air.
Setelah berhasil dievakuasi, petugas segera melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian dan pemeriksaan visual terhadap tubuh korban. “Dari hasil pemeriksaan, kesimpulannya adalah memang benar bahwa ini murni laka air,” jelas Agus, menegaskan bahwa tidak ada unsur pidana dalam insiden tragis ini. Namun, di balik kesimpulan itu tersimpan peringatan keras. Polisi mengingatkan masyarakat, khususnya para orang tua, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap anak-anak mereka, terutama ketika berada di dekat area berbahaya seperti sungai. Anak-anak yang belum mahir berenang sebaiknya tidak dibiarkan bermain atau mendekati sungai tanpa pendampingan ketat dari orang dewasa, mengingat kondisi dasar perairan yang tidak terduga dan kedalaman yang bisa mengancam jiwa.
“Imbauan yang perlu kita sampaikan kepada masyarakat, tetap waspada, hati-hati, dan pengawasan orang tua itu penting terhadap anak-anaknya. Jangan sampai nanti lalai dan terjadi kejadian serupa,” pungkas Iptu Agus, menyuarakan keprihatinan yang mendalam. Kisah Sabil adalah pengingat pahit bahwa lingkungan sekitar, yang seringkali dianggap sebagai tempat bermain yang menyenangkan, bisa menyimpan bahaya tak terduga. Tragedi ini bukan hanya tentang sebuah kecelakaan di Ponorogo, melainkan sebuah pelajaran universal tentang pendidikan keselamatan dan tanggung jawab kolektif untuk melindungi generasi penerus kita dari risiko yang tak terlihat, memastikan tawa polos anak-anak tetap bergema, bukan berganti dengan tangisan penyesalan.












