KlikMojok – Kabar mengejutkan datang dari perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang dilaporkan hilang saat meliput erupsi, akhirnya resmi dihentikan setelah 10 hari tanpa hasil. Keputusan dramatis ini diambil setelah tim gabungan SAR tak menemukan satu pun tanda keberadaan mereka maupun kapal Arupadhatu yang digunakan.
Selama lebih dari seminggu, tim pencari yang melibatkan berbagai unsur telah berjibaku menyisir area berbahaya tersebut. Namun, setiap upaya selalu berujung nihil. Bahkan, menurut Kepala SAR Banten, Al Amrad, penghentian operasi ini sebenarnya sudah melewati batas waktu standar operasional prosedur (SOP) tim SAR.
Al Amrad menjelaskan dalam keterangan resminya, “Dari semua yang kita evaluasi, di awal tadi tentang aturan kami di Basarnas ini, operasi SAR tujuh hari, hari ketujuh juga kita lakukan pencarian, tidak ada tanda-tanda, objek juga.” Ia menambahkan bahwa seharusnya operasi dihentikan pada hari ketujuh, namun karena berbagai pertimbangan, pencarian diperpanjang hingga hari kesepuluh.
Momen dramatis sempat menyelimuti operasi ini saat harapan menemukan para korban sempat membumbung tinggi. Sebuah tim pencari melaporkan penemuan dua buah jaket pelampung. Namun, kegembiraan itu sirna setelah dikonfirmasi dengan pemilik kapal. Jaket pelampung berwarna oranye yang ditemukan tersebut dipastikan bukan milik kapal Arupadhatu, yang diketahui memiliki jaket pelampung berwarna merah.
Tak hanya itu, dugaan bahwa para jurnalis dan awak kapal mungkin terdampar di salah satu pulau terdekat juga telah diselidiki secara intensif. Tim SAR dengan gigih menyisir Pulau Sertung, yang termasuk dalam kawasan berbahaya, serta Pulau Panjang dan Krakatau. Sayangnya, lagi-lagi, tidak ada jejak keberadaan mereka yang ditemukan di pulau-pulau tersebut. Dengan dihentikannya operasi ini, nasib lima jurnalis dan tiga awak kapal peliput erupsi Gunung Anak Krakatau kini menjadi misteri yang belum terpecahkan.












