KlikMojok – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sidoarjo secara inovatif menggelar edukasi keselamatan lalu lintas di SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi) pada Jumat, 18 September 2026. Kegiatan ini melibatkan siswa dalam lomba praktik memakai helm yang benar sebagai metode seru untuk menanamkan pentingnya etika dan keselamatan berkendara sejak dini.
Sebanyak sepuluh siswa dari Miosi turut serta dalam lomba memakai helm dengan tata cara yang tepat. Lomba ini menjadi salah satu daya tarik utama dalam kunjungan Satlantas Polresta Sidoarjo yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai etika berlalu lintas dan keselamatan berkendara, bertempat di aula Masjid At Tanwir.
Setelah sesi penjelasan komprehensif mengenai penggunaan helm yang benar, Aipda Dwi dari Satlantas Polresta Sidoarjo kemudian mengajak para siswa untuk berpartisipasi dalam lomba praktik tersebut.
Dengan semangat, Aipda Dwi menantang para siswa dengan pertanyaan, “Ayo, setelah dijelaskan penggunaan helm yang benar tadi, siapa yang berani lomba praktik pemakaian helm yang benar?”
Respon positif ditunjukkan oleh sepuluh siswa yang langsung maju ke depan untuk mengikuti kompetisi. Setiap peserta secara bergantian mempraktikkan cara memakai helm, dengan fokus pada ketepatan dan kesesuaian prosedur.
Dalam lomba ini, peserta diwajibkan untuk memposisikan helm agar rata di kepala, dengan jarak sekitar dua jari di atas alis. Langkah berikutnya adalah memasang tali pengaman di bawah dagu, lalu mengencangkannya sampai terdengar bunyi “klik” yang menandakan helm terpasang dengan aman.
Pada kesempatan yang sama, Aipda M. Setyawan turut memberikan penjelasan mengenai krusialnya penggunaan helm berstandar SNI (Standar Nasional Indonesia) setiap kali berkendara. Ia menekankan bahwa pengendara wajib memakai helm dengan posisi yang benar dan bagian depan helm menghadap ke depan.
“Selalu menggunakan helm SNI dengan posisi yang benar dan menghadap ke depan,” tegas Aipda M. Setyawan. Selain fokus pada pengemudi, ia juga mengingatkan bahwa keselamatan penumpang adalah aspek yang tak kalah penting untuk diperhatikan selama perjalanan.
Penumpang diinstruksikan untuk selalu berpegangan dengan erat dan menghindari bermain atau terlalu banyak bergerak saat kendaraan melaju. Selain itu, penumpang juga dilarang mengganggu konsentrasi pengendara agar perjalanan tetap aman dan lancar.
Aipda M. Setyawan juga tidak lupa memberikan peringatan khusus mengenai kewajiban penggunaan helm bagi para pengguna sepeda listrik. “Kalau tidak menggunakan helm, kalau terjadi accident bisa menyebabkan gegar otak,” jelasnya, menyoroti risiko cedera serius.
Lebih lanjut, Aipda Dwi mengingatkan para siswa tentang bahaya menggunakan ponsel saat berkendara. Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan contoh yang baik, yaitu dengan tidak melakukan panggilan telepon tanpa menggunakan perangkat yang aman dan bebas genggam.
Para siswa diingatkan untuk tidak mengambil foto atau merekam video ketika kendaraan sedang bergerak. Larangan serupa juga berlaku untuk penggunaan media sosial selama berkendara, demi menjaga fokus dan keselamatan.
Apabila ada kebutuhan mendesak untuk menggunakan ponsel, pengendara disarankan untuk menepi dan berhenti di tempat yang aman terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar penggunaan ponsel tidak sampai mengganggu konsentrasi yang esensial selama perjalanan.
Petugas Satlantas juga memberikan pemahaman mendalam mengenai fungsi rem dalam konteks keselamatan berkendara. Dijelaskan bahwa fungsi utama rem bukanlah untuk menghentikan kendaraan secara mendadak, melainkan untuk secara bertahap mengurangi kecepatan.
Oleh karena itu, kendaraan tidak boleh dipaksa untuk berhenti secara tiba-tiba karena dapat membahayakan. Pengendara dianjurkan untuk menggunakan rem depan atau belakang secara tepat dan proporsional, disesuaikan dengan kondisi jalan dan situasi perjalanan.
Menutup sesi edukasi, Aipda Dwi kembali menegaskan pesan penting kepada seluruh siswa Miosi agar selalu memprioritaskan keselamatan diri saat berkendara.
“Seganteng apa pun wajahnya, sekeren apa pun motornya, kalau diadu dengan aspal tidak jadi gantengnya, penyesalan ada di belakang,” pungkas Aipda Dwi, memberikan analogi yang kuat untuk menanamkan kesadaran akan risiko kecelakaan.












