Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Api di Jantung Savana: Belajar dari 33 Kasus Karhutla dan Dampak Ekologis di Bondowoso

badge-check

Api di Jantung Savana: Belajar dari 33 Kasus Karhutla dan Dampak Ekologis di Bondowoso Perbesar

KlikMojok – Aroma hangus dan pemandangan savana yang menghitam, atau tegakan pinus yang menyisakan arang, menjadi saksi bisu betapa rentannya alam di hadapan kelalaian manusia. Di Kabupaten Bondowoso, hingga 16 September 2026, fenomena pilu ini telah terulang sebanyak 33 kali dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), merenggut sekitar 123 hektare bentang alam yang berharga. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan ancaman nyata terhadap ekosistem, pariwisata, dan keberlanjutan lingkungan.

Kristianto Putro Prasojo, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso, mengungkapkan bahwa puluhan insiden tersebut tersebar di berbagai wilayah hutan dan lahan, termasuk hutan pinus di Kecamatan Curahdami yang kerap menjadi sasaran amuk api. “Frekuensi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sepanjang tahun ini hingga 16 September sebanyak 33 kasus. Terdiri dari hutan dan lahan, termasuk di hutan pinus Curahdami,” kata Kristianto pada Jumat (18/9/2026), menegaskan skala permasalahan yang dihadapi.

Dalam catatan BPBD, insiden kebakaran di kawasan Ijen yang terjadi dalam sepekan terakhir juga termasuk dalam hitungan 33 kasus tersebut. Namun, luasan pasti area terdampak di Taman Wisata Alam (TWA) Ijen masih menunggu rilis resmi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). “Yang kemarin kejadian Ijen kita belum dapat rilis resmi dari BKSDA berapa luasan terdampak kebakaran di TWA Ijen itu,” ujarnya, menandakan kompleksitas dalam pendataan dan penanganan di area konservasi.

Mirisnya, mayoritas kejadian karhutla ini disinyalir berakar dari kelalaian manusia. Sebuah pengingat akan pentingnya edukasi dan kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian alam. BPBD Bondowoso sendiri telah memetakan sejumlah wilayah yang dinilai sangat rawan, terutama Kecamatan Wringin dan Ijen, sebagai fokus utama upaya mitigasi. “Kita sudah memetakan mana saja wilayah rawan kebakaran, terutama di Kecamatan Wringin dan Ijen,” lanjut Kristianto.

Penanganan karhutla di setiap lokasi menuntut strategi yang berbeda. Untuk wilayah Curahdami, BPBD menilai jangkauan dan penanganan masih dapat dikelola dengan sumber daya yang ada. Namun, kawasan Ijen, dengan kondisi geografis dan medan yang lebih menantang, membutuhkan respons yang jauh lebih cepat dan terkoordinasi. “Curahdami masih bisa menjangkau. Kalau di Ijen butuh percepatan,” tutur Kristianto, menggarisbawahi urgensi tindakan di salah satu permata pariwisata Bondowoso tersebut.

Meskipun demikian, semangat pariwisata di Bondowoso tak lantas padam. Kawah Wurung, destinasi ikonik di Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol/Ijen, tetap membuka diri bagi wisatawan setelah insiden kebakaran pada 25 Agustus 2026 lalu. Gede Budiawan, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, memastikan bahwa api tidak menjalar hingga fasilitas umum kawasan wisata, melainkan hanya berdampak pada area sekitar padang savana. “Tetap buka. Masih beruntung kebakaran itu tidak sampai ke fasum. Hanya berada di sekitaran padang savana,” kata Gede, memberikan angin segar bagi sektor pariwisata lokal.

Pasca-kejadian, langkah-langkah preventif segera diambil. Pihaknya, bersama para pegawai dan pengelola destinasi wisata, aktif membersihkan sampah serta bahan-bahan kering di sekitar fasilitas umum. Upaya ini krusial untuk mengurangi material yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran di masa mendatang. “Kami juga bersama para pegawai dan pengelola telah membersihkan sampah atau bahan-bahan kering di sekitar fasum agar tidak menjadi pemantik terjadinya kebakaran,” jelasnya, menunjukkan komitmen terhadap pembelajaran dan pencegahan.

Sebagai bagian dari upaya edukasi dan mitigasi, Gede juga tak henti mengimbau wisatawan untuk tidak merokok selama berada di kawasan wisata, terutama mengingat kondisi vegetasi yang sangat rawan terbakar. Ini adalah pesan penting yang harus dipahami oleh setiap pengunjung demi menjaga kelestarian alam. Selain Kawah Wurung, wisatawan juga diajak untuk menjelajahi destinasi lain di sekitarnya, seperti Jabal Kirmit dan Guest House yang kaya akan nilai sejarah, memperkaya pengalaman wisata sekaligus menyebarkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Kasus karhutla di Bondowoso ini adalah pengingat bahwa perlindungan alam adalah tanggung jawab bersama, dari pemerintah hingga setiap individu yang menikmati keindahannya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pesta yang Berakhir Nestapa: Menguak Luka Tragedi Rem Blong Truk di Lumajang dan Pentingnya Keselamatan Jalan

18 Sep 2026 - 15:17 WIB

Pesta yang Berakhir Nestapa: Menguak Luka Tragedi Rem Blong Truk di Lumajang dan Pentingnya Keselamatan Jalan

Menguasai Teknologi: Guru Surabaya Kuasai AI untuk Ciptakan Media Pembelajaran Interaktif

18 Sep 2026 - 15:17 WIB

Menguasai Teknologi: Guru Surabaya Kuasai AI untuk Ciptakan Media Pembelajaran Interaktif

Edukasi Keselamatan Lalu Lintas: Satlantas Polresta Sidoarjo Libatkan Siswa Miosi Lewat Lomba Helm

18 Sep 2026 - 15:16 WIB

Edukasi Keselamatan Lalu Lintas: Satlantas Polresta Sidoarjo Libatkan Siswa Miosi Lewat Lomba Helm

Bayangan Angka di Balik Gerbang Investasi Situbondo: Pelajaran dari Jebakan Kredit Macet Korporasi

18 Sep 2026 - 12:37 WIB

Bayangan Angka di Balik Gerbang Investasi Situbondo: Pelajaran dari Jebakan Kredit Macet Korporasi

Malam Tragis di Lamongan: Ledakan Pabrik Blesscon Merenggut Empat Nyawa, Menyoroti Urgensi Keselamatan Kerja

18 Sep 2026 - 12:37 WIB

Malam Tragis di Lamongan: Ledakan Pabrik Blesscon Merenggut Empat Nyawa, Menyoroti Urgensi Keselamatan Kerja
Trending di Pendidikan