KlikMojok – Pada hari Rabu, 16 September 2026, suasana belajar di ruang kelas Gedung Ma’had Azhari, Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI Mojokerto tampak begitu fokus. Mengenakan seragam hijau khas eLKISI dan peci putih, para santri kelas VIII Azhari Putra mengikuti sesi pembelajaran Tata Bahasa Arab atau Nahwu yang mendalam, dengan fokus utama membedah bab Ma Al-Hijaziah.
Kegiatan ini bukan sekadar menghafal rumus-rumus Nahwu, melainkan sebuah proses analisis komprehensif. Para santri Azhari Putra eLKISI diajak untuk membongkar tuntas Ma Al-Hijaziah, mulai dari memahami fungsi spesifik huruf ‘ma’ hingga mampu membedakannya dengan ‘Ma Al-Tamimiah’, dua kaidah penting dalam gramatika Arab.
Khavivah Eka Harnida, guru mata pelajaran Nahwu yang membimbing para santri, menjelaskan bahwa materi Ma Al-Hijaziah memegang peranan krusial dalam menguraikan struktur kalimat negasi (nafi) dalam bahasa Arab. Sambil menyimak penjelasan di papan tulis, para santri tampak serius mencatat poin-poin penting di buku masing-masing.
“Kaidah Ma Al-Hijaziah ini menarik karena huruf ma di sini berfungsi seperti laisa, yaitu merafakkan isim ( tarfa’u al-ism ) dan menasabkan khabar ( tansibu al-khabar ). Pemahaman syarat beramalnya sangat penting agar santri tidak keliru dengan Ma Al-Tamimiah,” ujar Khavivah Eka Harnida, yang merupakan lulusan Magister Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Khavivah menambahkan, pembelajaran Nahwu secara intensif merupakan bagian integral dari Kurikulum Azhari eLKISI. Kurikulum ini mengadopsi sistem pendidikan Al-Azhar Kairo, Mesir, yang diterapkan untuk jenjang SMP dan SMA. Penekanan utama kurikulum ini adalah penguasaan ilmu keislaman, tahfiz Al-Qur’an, serta pengembangan wawasan global para santri.
Melalui Program Azhari ini, santri dibimbing secara terstruktur untuk menguasai ilmu turats dan gramatika Arab. Pembekalan ini bertujuan sebagai persiapan matang untuk menempuh ujian syahadah Al-Azhar, sebuah sertifikasi penting dalam studi keislaman.
Kelulusan dalam ujian syahadah tersebut akan menjadi salah satu bekal akademik yang kuat bagi santri yang berambisi untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Mesir, maupun di berbagai perguruan tinggi terkemuka lainnya di kawasan Timur Tengah.
Dalam proses belajar mengajar, Khavivah Eka Harnida menerapkan metode yang efektif, yaitu dengan menggunakan peta konsep dan diagram di papan tulis. Pendekatan ini membantu menjelaskan kaidah secara bertahap dan mudah dipahami oleh santri.
Para santri Azhari mempelajari sejumlah syarat penting agar huruf ‘ma’ dapat beramal secara hijaziah, di antaranya adalah masuknya ‘in ziyadah’, kondisi di mana negasi tidak dibatalkan oleh huruf ‘illa’, serta susunan isim dan khabar yang tidak tertukar posisinya.
Setelah mendapatkan penjelasan teori, para santri tidak hanya berhenti di situ. Mereka kemudian diajak untuk menganalisis berbagai contoh kalimat dan mengerjakan latihan soal secara langsung, mengaplikasikan kaidah yang telah dipelajari.
Metode pembelajaran ini diarahkan agar santri tidak sekadar menghafal kaidah Nahwu, melainkan juga mampu menerapkan kaidah tersebut secara aktif saat membaca dan menganalisis struktur bahasa Arab dalam berbagai teks. Pendalaman Nahwu ini juga menjadi salah satu bekal fundamental bagi santri untuk memahami Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik berbahasa Arab secara lebih tepat dan mendalam.












