KlikMojok – Gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 10 September 2026, telah memicu gelombang protes luas dari masyarakat. Pasalnya, atraksi yang menampilkan “ritual setan” dengan pemujaan dan sesajen berupa penyembelihan kambing memicu kontroversi dan kecaman keras.
Sejumlah elemen yang hadir dalam atraksi pada tanggal tersebut, seperti kostum, atribut, dan adegan yang secara eksplisit menggambarkan pemujaan setan, termasuk visualisasi penyembelihan kambing sebagai sesajen, menjadi pemicu utama kontroversi. Atraksi ini mendapat kritik tajam karena dinilai melanggar ajaran agama serta norma kesusilaan yang berlaku di masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Muhammad Wahid, S.Pd.I., M.Pd., selaku Ketua Umum DPP LSM ASLI, secara tegas menyampaikan kecamannya terhadap aksi “ritual setan” yang dipertontonkan dalam karnaval tersebut. Beliau berpendapat bahwa beberapa elemen yang disajikan sangat mencolok dan menimbulkan kekhawatiran serius dari perspektif syariat Islam.
“Kita melihat kostum necromancer atau penyihir ilmu hitam, jubah bergambar tengkorak, altar pemujaan, hingga simbol-simbol seperti pentagram terbalik dan baphomet. Semua ini merupakan bentuk tasyabbuh — menyerupai — kelompok okultisme dan paganisme,” ujar Muhammad Wahid pada Rabu, 16 September 2026.
Untuk memperkuat argumennya, Muhammad Wahid mengutip sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Dawud).
Berdasarkan landasan hadis tersebut, Muhammad Wahid menegaskan bahwa peniruan terhadap praktik-praktik pemujaan yang ditujukan kepada selain Allah tidak dapat dianggap remeh hanya sebagai bentuk hiburan seni semata.
Poin lain yang dianggap paling sensitif, lanjutnya, adalah adanya adegan penyembelihan kambing yang secara visual digambarkan sebagai persembahan atau sesajen yang ditujukan kepada makhluk halus, jin, atau setan.
“Dalam Islam, penyembelihan itu ibadah. Jika dilakukan dengan niat atau ditampilkan seolah-olah untuk selain Allah, maka itu adalah syirik akbar — dosa besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Ini bukan sekadar masalah selera seni, melainkan masalah akidah,” tegas Muhammad Wahid.
Lebih lanjut, Muhammad Wahid turut mengingatkan masyarakat agar senantiasa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa yang sempat terjadi di negara Brasil beberapa waktu silam.
Kala itu, sebuah karnaval yang mengusung tema serupa berakhir tragis dengan terjadinya bencana banjir bandang dahsyat, mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerugian material yang sangat besar.
“Jangan sampai kita menganggap remeh hal-hal yang melampaui batas. Brasil dulu dilanda banjir bandang hebat tak lama setelah menggelar karnaval bertema setan. Bukan berarti itu sebab-akibat secara langsung, tetapi menjadi pelajaran berharga: jangan menantang langit dengan melanggar aturan-Nya,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Muhammad Wahid sangat berharap agar pemerintah dan pihak penyelenggara segera melakukan evaluasi menyeluruh serta mencabut atraksi-atraksi yang secara jelas melanggar norma-norma agama.
Menurutnya, seni dan budaya seharusnya berfungsi sebagai sarana untuk memperindah akhlak dan budi pekerti, bukan malah merusak akidah generasi muda melalui penampilan seperti “ritual setan” tersebut.
“Budaya kita luhur, agama kita mengajarkan kebaikan. Mari kita tampilkan yang baik, yang benar, dan yang bermanfaat. Jangan kita biarkan generasi ini terbiasa melihat hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah Swt,” pungkas Muhammad Wahid.












