KlikMojok – Di lereng-lereng Gunung Wilis yang menjulang gagah, sebuah ancaman tak kasat mata seringkali bersembunyi di balik semak kering dan dedaunan gugur. Meski hujan dua hari telah membasahi puncaknya, memadamkan jejak bara Karhutla Gunung Wilis Kediri yang sempat merayap dari Nganjuk, kewaspadaan tak boleh mengendur. Musim kemarau panjang telah meninggalkan bekas, dan bahaya kebakaran masih mengintai, menuntut perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Kediri.
Pemerintah Kabupaten Kediri, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bergerak cepat untuk memastikan api tak kembali menyala. Personel diterjunkan untuk memantau titik-titik rawan, terutama di kawasan yang sebelumnya terdampak. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Ariyanto, menegaskan bahwa cuaca panas ekstrem memerlukan pemantauan berkelanjutan. “Berdasarkan arahan Mas Bup (Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana), kita terus memantau dampak Karhutla Kawasan Gunung Wilis ini,” ujarnya pada Selasa (8/9/2026), menyoroti tingkat kesulitan penanganan kebakaran di medan pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau.
Upaya pemantauan ini melibatkan tim gabungan solid dari Perhutani, TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya. Mereka menyisir area yang sebelumnya menjadi jalur rambatan api, seperti Resor Pengelolaan Hutan (RPH) Parang dan RPH Kanyoran di wilayah Kediri, yang api awalnya berasal dari RPH Bajulan, Kabupaten Nganjuk. Untuk menjangkau titik-titik terpencil, teknologi drone pun dimanfaatkan, memberikan pandangan udara yang krusial bagi petugas di lapangan.
Laporan dari petugas pada 7 September mengkonfirmasi bahwa titik-titik api telah padam berkat hujan yang mengguyur puncak Gunung Wilis selama dua hari berturut-turut. Namun, redanya api bukanlah akhir dari ancaman. Justru, ini menjadi momen krusial untuk memperkuat langkah mitigasi dan edukasi masyarakat mengenai bahaya kebakaran musim kemarau.
BPBD Kediri tak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Laporan cepat menjadi kunci penanganan dini. “Kepada masyarakat kita juga mengimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan di hutan atau meninggalkan pembakaran sampah tanpa pengawasan yang bisa menjadi penyebab kebakaran,” tegas Ariyanto, mengingatkan bahwa tindakan kecil yang lalai bisa memicu bencana besar.
Pencegahan, menurut Ariyanto, adalah benteng utama. “Pencegahan menjadi kunci utama,” ucapnya, menekankan bahwa di tengah kondisi medan yang menantang, upaya preventif jauh lebih efektif daripada pemadaman. Data dari Kepala Satpol PP Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satrio Wicaksono, kian menguatkan urgensi ini. Tercatat, sepanjang tahun 2026 hingga September, Kabupaten Kediri telah menghadapi sekitar 300 kejadian kebakaran.
Angka 300 ini bukan sekadar statistik; ia adalah cerminan rentannya wilayah terhadap api. Kebakaran lahan tebu mendominasi dengan 63 kejadian, disusul rumpun bambu sebanyak 71 kejadian, dan bahkan 47 kejadian di bangunan rumah. Ini menunjukkan bahwa ancaman api tidak hanya terbatas pada hutan, tetapi merambah ke lahan pertanian dan permukiman warga. Peningkatan frekuensi kejadian yang signifikan terjadi pada periode Juli hingga September, saat puncak musim kemarau.
Dalam menghadapi sisa periode kemarau yang masih membayangi, partisipasi aktif masyarakat menjadi garda terdepan. Setiap puntung rokok yang dibuang sembarangan, setiap pembakaran sampah yang tak diawasi, atau pembukaan lahan dengan cara membakar, bisa menjadi percikan awal malapetaka. Melaporkan setiap potensi titik api dengan cepat bukan hanya membantu petugas, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan keselamatan bersama. Gunung Wilis, dengan segala keindahannya, adalah pengingat bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindunginya dari ancaman bara yang tak kenal ampun.












