KlikMojok – Suasana di Jalan PB Sudirman, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Kamis (3/9/2026) siang, terasa berbeda. Puluhan wajah penuh harap, namun kini diselimuti gurat cemas dan kekecewaan, memenuhi kantor travel umrah PT Annisah Ahmada. Mereka adalah calon jamaah umrah Mojokerto dan Jombang yang seharusnya sudah menjejakkan kaki di Tanah Suci, namun mimpi itu kini terganjal oleh penundaan jadwal keberangkatan yang berulang, tak hanya sekali, melainkan hingga tiga kali. Kisah ini bukan sekadar tentang jadwal yang molor, melainkan tentang harapan spiritual yang tertunda, kepercayaan yang terkikis, dan dilema berat yang harus dihadapi ratusan individu.
Awalnya, para jamaah dijanjikan akan berangkat pada 30 Agustus 2026. Namun, tanggal itu bergeser menjadi 1 September 2026. Belum sempat terealisasi, kabar penundaan kembali datang, menjadwalkan ulang keberangkatan pada 5 September 2026. Kondisi ini memecah sikap para calon jamaah menjadi dua kubu: sebagian masih memilih untuk melanjutkan perjalanan, namun dengan syarat kepastian tertulis, sementara yang lain, dengan berat hati, memilih untuk mengajukan pengembalian dana atau refund.

Di antara mereka yang masih berpegang pada harapan adalah Ria Setiowanti (47), warga Desa Sooko, Kabupaten Mojokerto. Pemilik salon Cantika Ria ini mengaku tetap ingin melanjutkan perjalanan sucinya, asalkan ada jaminan hitam di atas putih dari pihak travel. “Kalau sampai tanggal 5 September mundur lagi, saya pilih mundur. Alasan saya karena saya masih ingin ke sana (Mekkah), saya yakin dan insyaallah bismillah berangkat tanggal 5,” ungkapnya penuh harap. Ria telah mendaftar sejak awal Juni 2026, menyetorkan total Rp37,15 juta, termasuk biaya paket umrah Rp36,8 juta dan tur ke Thaif Rp350 ribu. Ia tergiur dengan janji hotel yang berlokasi di sekitar pelataran Mekkah dan maskapai Garuda Indonesia. “Awalnya berangkat tanggal 30 Agustus kemudian mundur tanggal 1 September katanya ada miss komunikasi pihak agen tiket. Kemudian mundur lagi tanggal 5 September. Harapannya lancar, tanggal 5 berangkat dan di sana pun sesuai hotel yang dijanjikan karena yang berpengaruh dengan harga itu kan hotel dan maskapai. Ini dijanjikan Garuda,” jelasnya, menyiratkan betapa pentingnya detail-detail tersebut bagi kepuasan perjalanannya.
Namun, tidak semua bisa seoptimis Ria. Novi Asriani, calon jamaah lainnya, telah mencapai batas kesabaran. Kekecewaan yang mendalam setelah dua kali pembatalan keberangkatan membuatnya bulat memutuskan untuk mengajukan refund. “Karena saya terlanjur kecewa, jadi saya minta di-refund saja. Semoga refund benar-benar terbayar. Minta doanya,” ujarnya dengan nada pasrah. Novi telah menyetorkan Rp36,8 juta untuk biaya umrahnya. Ironisnya, ia memilih travel ini karena banyaknya rekomendasi positif dari teman-teman yang menyebut pelayanan PT Annisah Ahmada sangat baik. “Awalnya banyak yang rekomendasi kalau travel ini bagus, ditambah orang-orang yang menggunakan jasa travel ini juga bagus. Karena saya berpikir kalau awalnya tidak jelas, jadi lebih refund-an. Lebih baik saya kehilangan uang. Pihak travel menjanjikan pengembalian dana dalam waktu sekitar tujuh hari, jika tidak saya akan melapor ke Polres Mojokerto Kota,” tegasnya, menunjukkan keseriusan atas kekecewaan yang dirasakan. Kekecewaan Novi semakin mendalam mengingat persiapan yang telah ia lakukan bersama keluarga. “Saya sudah bagi-bagi nasi kotak ke tetangga, cuma tidak bilang dalam rangka apa. Cuma keluarga tahu kalau mau umroh. Excited banget. Gimana ya? Sudah senang banget mau ke bandara, sudah kumpul keluarga mau diantar ke bandara tapi tiba-tiba malam dibatalin. Ini tidak satu kali tapi dua kali,” tuturnya, menggambarkan betapa harapan itu telah dihempaskan berkali-kali.
Gelombang kekhawatiran juga merembet ke calon jamaah yang jadwal keberangkatannya masih jauh. Siti Magfiroh Pendowo, warga Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, yang seharusnya berangkat pada 5 Desember 2026 bersama rombongan 10 orang, kini mulai ragu. Ia mendaftar pada 8 Agustus 2026 berdasarkan rekomendasi tetangga yang menyebut travel ini sudah berdiri lima tahun dan tidak pernah bermasalah. “Karena ramai seperti ini, khawatir jadi saya berencana pindah travel. Saya daftar ke sini karena saya tahu dari tetangga, katanya bagus, kakaknya yang berangkat melalui travel ini dan saya cari tahu, tidak ada masalah selama ini. Travel ini sudah berdiri lima tahun,” pungkasnya, menunjukkan bagaimana insiden ini meruntuhkan kepercayaan yang telah lama terbangun.
Menanggapi gejolak ini, Manager PT Annisah Ahmada, Zulfan Rizki Maulana, menjelaskan bahwa kendala utama terletak pada proses tiket melalui agen di Jakarta. “Ini ada kendala dengan pihak agen tiket. Kami masih berusaha memperbaiki. Kita sudah bayar tiket tapi tiketnya belum ada. Agen tiketnya di Jakarta. Cuma travel kita saja yang ada kendala sehingga jadwal keberangkatan calon jamaah yang semula ditetapkan pada 30 Agustus 2026 terpaksa mundur,” urainya. Zulfan mengakui bahwa sekitar 360 calon jamaah umrah dari Mojokerto dan Jombang terdampak penundaan ini. Meski demikian, ia menegaskan komitmen pihaknya. “Insya Allah berangkat (tanggal 5 September 2026), tapi keputusan akhir tetap kami diserahkan kepada masing-masing calon jamaah. Mau lanjut berangkat atau refund akan kami layani,” janjinya, mencoba meyakinkan para jamaah yang berkumpul.
Hingga Kamis siang, kantor travel umrah PT Annisah Ahmada masih ramai didatangi calon jamaah yang mencari kejelasan. Kehadiran petugas dari TNI/Polri di lokasi menjadi saksi bisu betapa seriusnya persoalan ini, yang tak hanya menyangkut aspek finansial, tetapi juga emosional dan spiritual. Penundaan keberangkatan umrah berulang kali ini menjadi cerminan rapuhnya janji di tengah besarnya harapan, meninggalkan ratusan jamaah dalam ketidakpastian, menanti panggilan Baitullah yang entah kapan akan benar-benar tiba.













