KlikMojok – Pada hari Sabtu, 29 Agustus 2026, SD Alam Muhammadiyah 2 Kedanyang (SD Almadany) di Gresik menyelenggarakan kegiatan pengajian dan pembinaan komprehensif bagi seluruh guru dan karyawan. Acara penting ini menghadirkan Bendahara Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, Kiswanto, S.Pd., M.M., sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, Kiswanto memulai materinya dengan mengajukan pertanyaan reflektif kepada para hadirin: “Sudah senangkah panjenengan semua menjadi guru Muhammadiyah?” Pertanyaan ini menjadi pembuka diskusi mendalam mengenai pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang amanah dan berbagai aspek kesejahteraan profesional.
Pengajian dan pembinaan yang diselenggarakan untuk guru serta karyawan SD Almadany, yang berlokasi di Kebomas, Gresik, secara spesifik berfokus pada urgensi pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dengan prinsip amanah. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu, 29 Agustus 2026.

Kiswanto, S.Pd., M.M., yang menjabat sebagai Bendahara Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, dipercaya untuk menjadi narasumber dalam acara berharga ini.
Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi-materi berbobot kepada para tenaga pendidik dan staf karyawan sekolah yang beralamat lengkap di Perum Graha Kedanyang Giri Asri (GKGA) Blok T.11, Kedanyang, Kebomas, Gresik, Jawa Timur.
Kiswanto memulai sesi kajiannya dengan mengutip ayat suci Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Hujurat ayat 13. Ayat tersebut secara gamblang menjelaskan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia dalam beragam suku dan bangsa dengan tujuan agar mereka saling mengenal dan memahami. Lebih lanjut, ayat ini juga menegaskan bahwa individu yang paling mulia di hadapan Allah adalah mereka yang paling bertakwa.
Selanjutnya, Kiswanto menghubungkan pesan universal dari ayat Al-Qur’an tersebut dengan fenomena demografi global terkini, khususnya tren penurunan angka kelahiran yang signifikan di berbagai belahan dunia.
“Banyak negara kini telah mencapai titik balik demografis, yaitu ketika proporsi usia produktif dalam total populasi mulai menurun,” jelas Kiswanto, menyoroti perubahan struktur populasi global yang krusial.
Beliau menambahkan bahwa sejumlah negara di Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Italia, telah mengalami fase titik balik demografis ini bahkan sebelum tahun 2000, sehingga saat ini mereka dikenal sebagai masyarakat dengan populasi tertua di dunia. Tren serupa kemudian diikuti oleh negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam kurun waktu dua dekade terakhir.
Selama berlangsungnya kegiatan pengajian dan pembinaan ini, Kiswanto kembali melontarkan sebuah pertanyaan yang menstimulasi pemikiran para guru dan karyawan SD Almadany.
“Sudah senangkah panjenengan semua menjadi guru Muhammadiyah?” tanyanya, mengulang pertanyaan yang sama di awal sesi.
Menurut pandangan Kiswanto, kecenderungan untuk membandingkan kondisi ekonomi diri sendiri dengan orang lain seringkali diibaratkan seperti melihat “rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau.”
Ia mengilustrasikan, misalnya, seorang tukang becak mungkin membayangkan kebahagiaan sejati jika ia bisa menjadi seorang guru yang senantiasa dihormati, apalagi dengan adanya Tunjangan Profesi Guru saat ini.
Akan tetapi, Kiswanto melanjutkan, ironisnya seorang guru justru terkadang merasa iri saat menyaksikan kehidupan seorang pengusaha yang tampak lebih mapan dan sejahtera.
“Kuncinya adalah rasa syukur yang harus menjadi prioritas utama agar hidup kita bahagia,” tegas Kiswanto, menekankan pentingnya bersyukur sebagai fondasi kebahagiaan.
Kiswanto juga menambahkan bahwa dalam perannya sebagai pendidik, seorang guru terkadang tanpa sadar melupakan perhatian terhadap anak kandungnya sendiri. Mereka terbiasa mencurahkan tenaga untuk mendidik dan membahagiakan anak-anak didik, yang sejatinya adalah anak orang lain.
Padahal, beliau mengingatkan, terdapat dua dari tiga amalan yang pahalanya akan terus mengalir tanpa terputus bagi seseorang setelah meninggal dunia, yaitu ilmu yang bermanfaat serta doa dari anak yang saleh dan salihah.
Kiswanto kemudian memaparkan tiga indikator utama yang dapat menunjukkan kesalehan seorang anak terhadap orang tuanya. Indikator pertama adalah ketika seorang anak bersujud dan meneteskan air mata di tengah malam saat menunaikan salat Tahajud, memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya.
Indikator kedua adalah kemampuan anak laki-laki untuk memimpin salat Jenazah orang tuanya saat mereka berpulang. Sementara itu, indikator ketiga adalah kesanggupan seorang anak untuk menanggung dan melunasi segala bentuk utang-piutang yang ditinggalkan oleh orang tuanya.
Pria yang lahir di Gresik pada tanggal 15 November 1975 ini juga menggarisbawahi fakta bahwa tidak semua institusi pendidikan memiliki kesempatan atau kemampuan untuk menyelenggarakan pengajian serta pembinaan rutin bagi guru dan karyawannya sebagaimana yang dilakukan oleh SD Almadany.
Menurutnya, kegiatan pembinaan dan pengajian semacam ini membawa banyak manfaat signifikan. Selain berfungsi sebagai wadah untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan, kegiatan ini juga merupakan manifestasi dari ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt.
Ketaatan tersebut, lanjut Kiswanto, dapat diimplementasikan melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan menjalin silaturahmi. Silaturahmi dipercaya mampu menumbuhkan rasa kasih sayang antar sesama, meluaskan pintu rezeki, serta memperpanjang usia.
Lulusan program S2 Manajemen dari STIE Mahardika pada tahun 2009 ini kemudian menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang ideal adalah mereka yang dicintai oleh individu-individu yang dipimpinnya, sekaligus memiliki rasa cinta dan kepedulian yang tulus terhadap mereka.
Untuk membangun hubungan yang harmonis dan efektif antara pemimpin dan yang dipimpin, Kiswanto menyarankan bahwa salah satu metode utamanya adalah dengan menunjukkan perhatian serta kasih sayang yang tulus.
Beliau memberikan contoh sederhana, seperti kebiasaan menyampaikan ucapan selamat milad kepada teman pada malam hari sebelum tanggal ulang tahunnya tiba, sebagai bentuk perhatian kecil yang berarti.
Kiswanto melanjutkan penjelasannya dengan menguraikan karakteristik unik dalam pengelolaan sekolah Muhammadiyah, yang membedakannya secara signifikan dari pengelolaan sekolah-sekolah di luar naungan Muhammadiyah.
Salah satu perbedaan fundamental yang ditekankan adalah perpaduan antara prinsip dakwah persyarikatan dan budaya sekolah yang harus senantiasa berjalan selaras dengan gaya kepemimpinan yang diterapkan.
Dengan demikian, seorang pemimpin di lingkungan sekolah Muhammadiyah dituntut untuk memiliki pemahaman mendalam mengenai karakter dan kebutuhan seluruh warga sekolah. Hal ini penting agar mereka mampu menyelaraskan tuntutan kebutuhan profesional dengan misi dakwah amar makruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
“Sekolah Muhammadiyah yang bukan bisnis. Ada pendekatan islami dan sosial yang dikedepankan,” ujar alumnus Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tahun 2005 itu, menegaskan esensi lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Selain itu, budaya Islami dan nilai-nilai Kemuhammadiyahan juga harus terefleksi secara nyata melalui penerapan prinsip agama yang bersifat mencerahkan. Dalam konteks ini, keteladanan yang ditunjukkan oleh guru dan karyawan menjadi salah satu indikator penting keberhasilan.
Menurut Kiswanto, setiap aktivitas yang dilaksanakan di lingkungan sekolah harus senantiasa didasari oleh niat tulus sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama dengan penuh keikhlasan.
Implementasi dari prinsip ini dapat terwujud melalui berbagai sikap dan perilaku positif, seperti murah senyum, disiplin dalam setiap aspek, penampilan yang rapi dan baik, serta pembentukan budaya sekolah yang kondusif dan positif.
“Orang yang masih memiliki masalah bisa jadi salah memahami agama. Sebab, orang itu akan terlihat dari dengan siapa dia berteman dan membaca buku apa,” ungkap Sekretaris Asosiasi LKMD Gresik periode 2010–2012 tersebut, mengaitkan pemahaman agama dengan kualitas pergaulan dan literasi.
Pria yang juga menjabat sebagai Bendahara Karang Taruna Gresik periode 2012–2015 itu mengakhiri sesi kajiannya dengan merangkum beberapa prinsip fundamental dalam pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berlandaskan amanah.
Menurut rangkumannya, sekolah Muhammadiyah harus mampu memadukan program-program yang memenuhi kebutuhan profesionalisme dengan misi dakwah amar makruf nahi mungkar, serta mengintegrasikannya dengan budaya sekolah yang positif.
Di samping itu, penting bagi sekolah untuk menerapkan transparansi dalam pengelolaan keuangan, mengadopsi gaya kepemimpinan kolektif-kolegial yang selalu mengedepankan asas musyawarah, dan mengembangkan manajemen sumber daya manusia (SDM) yang berbasis pada profesionalisme serta nilai-nilai Kemuhammadiyahan.
Terakhir, sekolah juga diharapkan untuk terus meningkatkan daya saingnya di tengah masyarakat dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, aman, serta mendukung optimalnya tumbuh kembang anak didik.













