SIDOARJO – Sebanyak 72 siswa dari berbagai Sekolah Islam Terpadu (SIT) se-Jawa Timur mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) OSIS SIT se-Jatim di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Sidoarjo, 28–29 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para siswa untuk mengasah kemampuan kepemimpinan sekaligus membangun karakter sebagai calon pemimpin muda. Mengusung tema “Wujudkan Kepemimpinan Islam yang Bertanggung Jawab, Visioner dan Berdedikasi Tinggi”, LDKS dikemas melalui materi, diskusi, pelatihan, hingga praktik.

Peserta terdiri atas 46 siswa putra dan 26 siswa putri. Mereka mendapatkan pembekalan dari sejumlah pemateri, di antaranya Kodim Sidoarjo, Coach Feri D. Sampurno, serta Lembaga Trainer Rumah Kepemimpinan Surabaya.
Kegiatan dibuka Sekretaris JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Alief Nuryadi, M.M., pada Jumat (28/8). Dalam pembukaan tersebut, Alief berpesan agar peserta tidak sekadar mengikuti rangkaian kegiatan, tetapi mampu mengambil manfaat dan menerapkannya setelah kembali ke sekolah.
Ada tiga pesan yang disampaikan kepada para peserta. Pertama, mengikuti seluruh kegiatan dengan optimal. Kedua, menghubungkan dan merefleksikan materi yang diperoleh dengan kehidupan sehari-hari. Ketiga, mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang didapat di sekolah masing-masing.
Pesan tersebut menjadi penting karena LDKS tidak dirancang hanya sebagai kegiatan seremonial bagi pengurus OSIS. Para peserta diarahkan untuk memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan proses, tanggung jawab, dan kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan.
Berbagai agenda disiapkan selama dua hari pelaksanaan. Selain pembinaan ruhiyah melalui qiyamul lail, salat Subuh, kultum, tahsin dan tilawah, peserta juga mengikuti stretching dan senam pagi.
Materi kepemimpinan kemudian dikembangkan melalui Achievement Motivation Training (AMT). Sesi tersebut diarahkan untuk membangun motivasi dan kesiapan peserta dalam menjalankan peran sebagai pemimpin.
Peserta juga mendapatkan workshop sponsorship. Dalam sesi tersebut, siswa diajak memahami praktik membuat proposal sponsorship, melakukan penawaran kepada sponsor, mencari dana, hingga bekerja sama dengan sponsor.
Materi kemudian dilanjutkan dengan penyusunan program kerja dan rencana tindak lanjut (RTL). Peserta menyusun program kerja OSIS, mempresentasikan program, serta menyusun RTL yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Rangkaian kegiatan tersebut membuat peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis. Mereka juga berlatih menyusun gagasan, menyampaikan pendapat, bekerja sama, serta membuat perencanaan yang dapat diimplementasikan.
Melalui LDKS ini, JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur berharap tumbuh generasi pemimpin muda yang memiliki karakter Islami, bertanggung jawab, visioner, dan memiliki dedikasi tinggi.
Kepemimpinan yang dibangun pun tidak berhenti di lingkungan kegiatan. Setelah kembali ke sekolah, para peserta diharapkan mampu membawa pengalaman tersebut untuk menggerakkan organisasi siswa, membuat program yang bermanfaat, serta menjadi teladan bagi teman-temannya.
LDKS OSIS SIT se-Jawa Timur akhirnya bukan sekadar ruang untuk belajar menjadi ketua atau pengurus organisasi. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi proses menyiapkan siswa agar mampu mengambil tanggung jawab, melihat persoalan secara lebih luas, menyusun solusi, dan berani mengimplementasikan gagasannya.
Dari BPVP Sidoarjo, 72 siswa membawa bekal yang sama: menjadi pemimpin muda yang tidak hanya mampu berbicara tentang kepemimpinan, tetapi juga siap membuktikannya melalui tindakan.













