Menu

Mode Gelap
Geger! Menteri Agama Nasaruddin Umar Lepas Jabatan Demi Kursi Ketum PBNU, Perebutan Kian Panas Maulid Nabi: Kemenag Gelar Selawat Kebangsaan dan Teologi Lingkungan, Warganet Soroti Makna Mendalam 17 Sekolah Nasional Terintegrasi Resmi Dibuka, Siap Cetak Generasi Emas 2045! TERUNGKAP! Lahan 8,85 Hektare Bersertifikat, Mamuju Tengah Gaspol Wujudkan Sekolah Rakyat Permanen untuk Anak Miskin Merajut Kebersamaan dalam Setiap Suap: Kisah Ancakan Maulid Nabi di Tanah Osing Kemiren Menyemai Kesiapsiagaan di Pelosok: REDKAR Mojokerto dan Edukasi Penanganan Kebakaran

Pendidikan

Menyemai Kesiapsiagaan di Pelosok: REDKAR Mojokerto dan Edukasi Penanganan Kebakaran

badge-check


					Menyemai Kesiapsiagaan di Pelosok: REDKAR Mojokerto dan Edukasi Penanganan Kebakaran Perbesar

KlikMojok – Di antara hiruk pikuk keseharian desa, bahaya kebakaran seringkali datang tak terduga, melahap harta benda, bahkan nyawa. Namun, respons cepat tak selalu harus menanti sirine mobil pemadam meraung di kejauhan. Di sanalah peran vital masyarakat, sebagai mata dan tangan pertama, menjadi kunci pencegahan tragedi yang lebih besar. Menyadari urgensi ini, Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengambil langkah proaktif melalui pembentukan Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR), sebuah inisiatif pendidikan dan pemberdayaan yang kini mulai mengakar di Desa Mlirip, Kecamatan Jetis.

Inisiatif strategis ini bukan sekadar membentuk tim, melainkan menanamkan kesadaran kolektif. Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Rizal Octavian, secara resmi membuka pembentukan dan pembinaan REDKAR di Balai Desa Mlirip, menegaskan bahwa keberadaan relawan di tingkat desa sangat krusial. Kebakaran, menurutnya, dapat menyambar kapan saja tanpa pandang bulu, menjadikan kecepatan respons sebagai faktor penentu.

Dalam sambutannya, Wabup Rizal menggarisbawahi peran vital para relawan. Ia menyampaikan, “Redkar adalah garda terdepan masyarakat dalam membangun kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan terhadap bahaya kebakaran. Dengan posisi yang lebih dekat dengan masyarakat, REDKAR diharapkan menjadi bagian pertama yang bergerak ketika terjadi keadaan darurat,” ujarnya pada Rabu (26/8/2026).

Namun, peran REDKAR jauh melampaui sekadar memadamkan api. Para relawan dibekali pengetahuan untuk melakukan pemantauan lingkungan, mengidentifikasi potensi bahaya, serta menjadi penghubung informasi yang cepat kepada petugas profesional. Mereka juga berperan aktif dalam mengamankan warga dan membantu proses evakuasi yang terkoordinasi.

Wabup Rizal menambahkan, “Apabila terjadi kebakaran, relawan yang berada paling dekat dengan lokasi dapat membantu memberikan informasi secara cepat kepada petugas, membantu mengamankan masyarakat, membantu proses evakuasi, serta apabila situasi memungkinkan dan aman, melakukan penanganan awal sebelum petugas pemadam kebakaran tiba,” imbuhnya. Kendati demikian, ia menekankan bahwa keselamatan relawan adalah prioritas utama. Kecepatan tindakan harus diiringi pemahaman akan batas kemampuan dan prosedur keselamatan, agar niat baik tidak berujung pada korban baru.

Apresiasi tinggi pun disampaikan kepada masyarakat yang dengan sukarela mendedikasikan diri menjadi bagian dari REDKAR. Keterlibatan warga, menurut Wabup, adalah modal berharga dalam membentuk Kabupaten Mojokerto yang lebih tangguh dalam menghadapi segala bentuk bencana. “Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, Mari kita bersama-sama wujudkan Kabupaten Mojokerto yang semakin tangguh, semakin peduli, dan semakin siap dalam menghadapi bahaya kebakaran,” pungkasnya, menginspirasi semangat kolaborasi.

Senada dengan Wakil Bupati, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, menegaskan bahwa pembentukan REDKAR di Desa Mlirip hanyalah permulaan. Program pemberdayaan masyarakat ini akan terus digulirkan dan diperluas ke berbagai desa lainnya di Mojokerto. “Pemberdayaan relawan kebakaran telah berjalan sejak awal tahun. Desa Mlirip menjadi salah satu dari empat desa yang menjadi sasaran program dan selanjutnya kami akan terus membentuk berbagai desa karena kami percaya inti penanganan bencana adalah kesadaran masyarakat,” terangnya, menggarisbawahi filosofi di balik gerakan ini.

Rinaldi meyakini bahwa semakin banyak warga yang teredukasi dan memiliki kesadaran akan potensi bencana, semakin kokoh pula sistem kesiapsiagaan di tingkat akar rumput. Pembentukan REDKAR Desa Mlirip diharapkan menjadi fondasi kuat untuk sinergi antara pemerintah, BPBD, dan masyarakat. Ini adalah wujud nyata pendidikan mitigasi bencana yang menjangkau langsung warga, mengubah mereka dari sekadar objek menjadi subjek aktif dalam menjaga keselamatan bersama.

Dengan barisan Relawan Pemadam Kebakaran yang terlatih dan siaga di garis depan, potensi ancaman api diharapkan dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin. Ini bukan hanya tentang memadamkan api, melainkan tentang menyalakan lentera kesadaran, menumbuhkan jiwa kepedulian, dan membangun fondasi pendidikan bencana yang kuat di setiap sudut desa Mojokerto, demi menekan angka korban jiwa dan kerugian material yang tak terhingga.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Merajut Kebersamaan dalam Setiap Suap: Kisah Ancakan Maulid Nabi di Tanah Osing Kemiren

27 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Pendidikan Karakter Lewat Aksi Nyata: SMPN 1 Banyakan Kediri Salurkan Donasi NTT

27 Agustus 2026 - 06:12 WIB

Maulid Nabi di TKIT Permata Kraksaan, Kenalkan 4 Sifat Rasul Sejak Dini

27 Agustus 2026 - 04:21 WIB

Maulid Dalas Fest 2026: Panggung Kreativitas Siswa SMP Muhammadiyah 12 GKB dan Keteladanan Rasulullah

26 Agustus 2026 - 21:54 WIB

Inovasi Dosen K3 Umla: Deteksi Dini Kelelahan dan Risiko Diabetes pada Nelayan Paciran Lamongan

26 Agustus 2026 - 21:51 WIB

Trending di Pendidikan