Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Prof. Sugiarti: Dialog Hati ke Hati Kunci Orang Tua Dampingi Remaja di Era Digital

badge-check

Prof. Sugiarti: Dialog Hati ke Hati Kunci Orang Tua Dampingi Remaja di Era Digital Perbesar

KlikMojok – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., pada Ahad (27/9/2026) menyampaikan materi penting dalam Tablig Akbar Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sidoarjo yang diselenggarakan di halaman SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sugiarti menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi remaja masa kini, mulai dari penggunaan gawai, tawaran pinjaman cepat, hingga kasus perundungan, dan menekankan pentingnya pendekatan dialogis orang tua untuk mendampingi anak-anak mereka. Beliau mengingatkan bahwa orang tua tidak seharusnya sekadar melarang, melainkan harus membangun komunikasi yang efektif dengan anak.

Dalam Tablig Akbar tersebut, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, menekankan tiga pilar utama: penguatan akhlak, ketahanan keluarga, dan perlindungan remaja. Tema acara ini adalah “Peran Aisyiyah dalam Penguatan Akhlak, Ketahanan Keluarga, dan Perlindungan Remaja Menuju Generasi Islami Berkemajuan”.

Sugiarti menjelaskan bahwa Aisyiyah, sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, mengusung visi berkemajuan yang mencakup aspek pencerahan, pembebasan, dan pemberdayaan. Visi ini, lanjutnya, diwujudkan melalui pengembangan berbagai amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

“Saya melihat Sidoarjo memiliki keunikan selain daerah kota lainnya,” ujar Sugiarti, mengungkapkan pandangannya terhadap potensi daerah tersebut. Ia juga mengapresiasi peluncuran batik oleh ibu-ibu Cabang Sidoarjo, menilai kegiatan ini sebagai salah satu bentuk kerja Lembaga Seni Budaya dan Olahraga. Sugiarti berharap kolaborasi antar majelis dan lembaga di Aisyiyah dapat terus berkembang di Sidoarjo. “Saya yakin Sidoarjo ini bisa menjadi barometer Jawa Timur dalam melihat amal usaha,” katanya penuh optimisme.

Muhammadiyah dan Aisyiyah, menurut Sugiarti, juga secara aktif terlibat dalam berbagai aktivitas sosial yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. “Tidak sekadar berdakwah secara lisan, tetapi perbuatan nyata,” tegasnya, menegaskan pentingnya implementasi nilai-nilai dakwah dalam kehidupan sehari-hari.

Prof. Sugiarti kemudian menekankan bahwa dakwah harus mampu menjangkau khalayak yang lebih luas dan bersifat terbuka bagi siapa pun. Ia mencontohkan pengalamannya mengajar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di mana mahasiswanya berasal dari beragam latar belakang agama, termasuk Islam, Hindu, dan Kristen. “Ada yang agama Islam, Hindu, Kristen,” ujarnya, menunjukkan inklusivitas dalam pendidikan. Oleh karena itu, tugas Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak hanya terbatas pada dakwah keagamaan, tetapi juga harus menyentuh isu-isu kemanusiaan dan kebangsaan yang lebih luas.

Pembahasan kemudian beralih pada urgensi penguatan akhlak. Sugiarti mengingatkan bahwa salah satu misi utama kerasulan Nabi Muhammad saw. adalah untuk menyempurnakan akhlak. Beliau mengutip Surah Al-Baqarah ayat 83 yang memerintahkan manusia untuk bertutur kata baik. Menurutnya, pembentukan akhlak dapat dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan keseharian, yaitu cara berbicara. “Kalau kita bertutur kata yang baik, itu akan mencerminkan akhlak kita,” jelasnya.

Orang tua, dalam pandangan Sugiarti, memiliki peran krusial sebagai teladan bagi anak-anaknya, termasuk dalam penggunaan bahasa yang baik di lingkungan rumah. Prinsip yang sama juga berlaku di lingkungan sekolah. “Ketika mengajar di kelas, yang baik akan menghormati bapak ibu guru dan menggunakan bahasa yang santun,” katanya. Ia juga mengingatkan seluruh peserta untuk senantiasa menjaga tutur kata dan menghindari kebiasaan bergunjing.

Lebih lanjut, penguatan akhlak dapat dicapai melalui internalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Nilai-nilai ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum berbagai mata pelajaran, mulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. “Karena itu mempunyai tugas penguatan akhlak kepada generasi penerus masa depan,” ujarnya. Penguatan akhlak ini, menurutnya, sangat penting untuk membentengi generasi muda dari berbagai persoalan sosial seperti minuman keras, narkoba, dan isu kesehatan serius seperti HIV/AIDS. Dalam konteks ini, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah selalu menyandingkan ilmu dengan agama. “Ilmu tanpa agama menjadi lumpuh, agama tanpa ilmu menjadi buta,” tuturnya.

Sugiarti kemudian mengaitkan penguatan akhlak dengan ketahanan keluarga, menegaskan bahwa rumah tangga merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter. “Kita punya tugas yang luar biasa untuk kepentingan kemanusiaan,” katanya. Ketahanan keluarga dibutuhkan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ayah dan ibu diharapkan saling melengkapi dan menjadi teladan bagi anak-anak mereka. “Hati-hati, jangan-jangan kita belum bisa menjadi teladan,” ujarnya mengingatkan.

Pada bagian akhir paparannya, Prof. Sugiarti membahas tantangan spesifik yang dihadapi remaja di tengah perkembangan teknologi. Risalah Islam Berkemajuan, menurutnya, mencakup berbagai aspek kehidupan, dari spiritual, ekonomi, hingga sosial. Oleh karena itu, Aisyiyah perlu merangkul generasi muda Muhammadiyah seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Nasyiatul Aisyiyah (NA), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Mereka perlu diajak berdiskusi mengenai beragam persoalan remaja, dan ruang konsultasi juga harus disediakan agar kaum muda memiliki wadah untuk membicarakan masalah yang mereka hadapi.

Sugiarti memberikan contoh tawaran pinjaman cepat yang mudah ditemukan melalui gawai. “Dua menit sudah ditransfer, tapi itu jebakan,” katanya, menyoroti bahaya pinjaman online. Ia juga menyinggung fenomena perundungan di kalangan pelajar, menekankan perlunya deteksi dini terhadap siswa yang menjadi korban agar masalah tidak berlarut-larut. Kemudahan akses informasi di era digital juga menuntut orang tua untuk lebih proaktif mendampingi anak. “Kita pahami putra-putri kita, mana yang boleh, mana yang tidak boleh,” ujarnya.

Prof. Sugiarti menjelaskan bahwa gawai memiliki dua sisi, positif dan negatif. Teknologi dapat menjadi alat pendukung pembelajaran dan mempermudah aktivitas dakwah, namun penggunaannya tetap memerlukan pendampingan yang cermat. Oleh karena itu, komunikasi dengan anak sebaiknya dibangun melalui dialog. “Tidak perlu mendikte, ultimatum,” tegasnya. Anak-anak, lanjutnya, perlu diajak berbicara dari hati ke hati. Dengan pendekatan ini, penguatan akhlak, ketahanan keluarga, dan perlindungan remaja dapat dimulai dari hubungan yang erat dan penuh pengertian antara orang tua dan anak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Merayakan 65 Tahun Perjalanan Pendidikan, SD Muhdelta Gelar Karnaval Imajinatif dan Family Day Penuh Kebersamaan

2 Okt 2026 - 21:07 WIB

Merayakan 65 Tahun Perjalanan Pendidikan, SD Muhdelta Gelar Karnaval Imajinatif dan Family Day Penuh Kebersamaan

Membangun Karakter Holistik: Mabit SMP Muhammadiyah 8 Tanggulangin Ajak Siswa Belajar dari Alam Trawas

2 Okt 2026 - 18:47 WIB

Membangun Karakter Holistik: Mabit SMP Muhammadiyah 8 Tanggulangin Ajak Siswa Belajar dari Alam Trawas

Syahganda Nainggolan Pimpin Bakom: Misi Komunikasi Dua Arah dan Tantangan AI

2 Okt 2026 - 18:45 WIB

Syahganda Nainggolan Pimpin Bakom: Misi Komunikasi Dua Arah dan Tantangan AI

Dosen Uhamka Integrasikan Pengalaman Jurnalistik ke Modul Ajar, Dorong Kompetensi Menulis Mahasiswa

2 Okt 2026 - 15:16 WIB

Dosen Uhamka Integrasikan Pengalaman Jurnalistik ke Modul Ajar, Dorong Kompetensi Menulis Mahasiswa

Ketika Rintik Tak Cukup Mengusir Dahaga: Menanti Musim Penghujan Sejati di Ponorogo

2 Okt 2026 - 12:40 WIB

Ketika Rintik Tak Cukup Mengusir Dahaga: Menanti Musim Penghujan Sejati di Ponorogo
Trending di Pendidikan