KlikMojok – Kenaikan signifikan pada harga daging ayam potong di Sidoarjo sedang menjadi sorotan utama, secara langsung menekan daya beli masyarakat setempat. Dalam beberapa hari terakhir, harga komoditas penting ini melonjak dari kisaran Rp 35.000 per kilogram menjadi Rp 39.000 hingga Rp 40.000 per kilogram. Imbasnya sangat terasa di pasar-pasar tradisional, dengan volume pembelian yang menurun drastis dan daya beli konsumen dilaporkan merosot hingga 50 persen. Situasi ini mengakibatkan aktivitas jual beli melambat, di mana banyak pelanggan kini memilih untuk mengurangi jumlah pembelian ayam guna menyesuaikan pengeluaran mereka.
Nurul, seorang pedagang ayam potong yang beroperasi di Pasar Waru, Sidoarjo, mengungkapkan bahwa harga ayam kini telah menyentuh angka Rp 40.000 per kilogram. Ia membandingkan dengan harga sebelumnya yang masih stabil di sekitar Rp 35.000 per kilogram. Kondisi ini, menurutnya, secara langsung mempengaruhi jumlah pembeli yang datang ke lapaknya. Nurul sangat berharap agar harga ayam bisa segera kembali normal, sehingga penjualan dapat kembali ramai dan beban ekonomi masyarakat tidak semakin bertambah.
Sentimen serupa juga diutarakan oleh Anas, seorang pedagang ayam potong berusia 27 tahun yang berjualan di Pasar Krian. Ia mengakui adanya pergeseran signifikan dalam pola belanja konsumen sejak harga ayam mengalami peningkatan. Anas menjelaskan, “Biasanya pembeli beli dua kilogram, sekarang jadi satu kilogram. Sejak harga naik, daya beli juga turun sampai 50 persen. Dulu ayam sering habis, sekarang berbeda.”
Akibat penurunan drastis dalam volume pembelian, para pedagang kini terpaksa memutar otak untuk menyiasati operasional usaha mereka agar tetap dapat melayani kebutuhan pelanggan. Sebagai contoh, Anas mengambil inisiatif untuk menjemput langsung stok ayam dari kawasan Gresikan, Kecamatan Krian, demi memastikan ketersediaan dagangannya. Selain itu, harga ayam fillet juga tercatat memiliki selisih sekitar Rp 10.000 lebih tinggi dibandingkan dengan ayam utuh yang belum dipisahkan dari tulangnya. Perbedaan harga ini menjadi faktor penting yang dipertimbangkan konsumen saat memutuskan jenis dan jumlah pembelian.
Di tengah situasi yang menantang ini, para pedagang menaruh harapan besar agar harga ayam dapat segera stabil dan kembali terjangkau oleh masyarakat. Kenaikan harga yang terjadi tidak hanya berpotensi menggerus omzet mereka, tetapi juga memaksa masyarakat untuk semakin membatasi pengeluaran belanja kebutuhan pangan pokok. Kekhawatiran para pedagang semakin memuncak menjelang pergantian tahun. Meskipun perayaan Tahun Baru masih sekitar dua bulan lagi, mereka sudah mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga ayam kembali, mengingat permintaan yang biasanya meningkat signifikan pada periode tersebut. Anas menambahkan, “Harapan saya harga bisa stabil dan murah. Ini tahun baru masih dua bulan lagi. Biasanya menjelang tahun baru harga juga berpotensi naik lagi.”












