KlikMojok – Seniman patung terkemuka, I Nyoman Nuarta, mengungkapkan bahwa proses menciptakan sebuah karya monumental jauh melampaui sekadar memiliki ide brilian. Dalam forum “Seniman Wicara” yang diselenggarakan di Balai Budaya Surabaya, ia menekankan bahwa tantangan utama justru terletak pada fase setelah gagasan terbentuk. Ini mencakup upaya meyakinkan berbagai pihak, menggalang dukungan, memperhitungkan aspek biaya dan teknologi yang kompleks, hingga akhirnya mentransformasi imajinasi menjadi sebuah karya fisik yang kokoh dan dapat dinikmati masyarakat di ruang publik.
Kisah perjuangan panjang dalam mewujudkan visi artistiknya ini dibagikan oleh Nuarta secara langsung. Acara tersebut merupakan bagian integral dari rangkaian kegiatan ARTSUBS 2026, yang berlangsung di selasar Balai Budaya, Surabaya, pada Senin, 21 September 2026.
Dalam sesi diskusi tersebut, pematung kelahiran Tabanan, Bali, ini duduk bersama kurator ARTSUBS, Nirwan Dewanto. Mereka berdua mendalami cerita bagaimana sebuah konsep awal yang nyaris tanpa dukungan signifikan, pada akhirnya berhasil berevolusi menjadi sebuah proyek seni berskala monumental yang diakui.
Nuarta secara terbuka menceritakan fase awal perjuangannya. Ia mengungkapkan, “Saya menyiapkan lahan pribadi seluas 23 hektare. Ketika tidak ada pihak yang membantu, saya melapor kepada Presiden Soeharto, hingga akhirnya beliau mencairkan pinjaman sebesar Rp23 miliar.”
Meski demikian, bantuan dana awal tersebut bukan akhir dari segala persoalan. Nuarta menjelaskan bahwa setelah proyek berjalan kurang lebih delapan tahun, pinjaman yang telah dicairkan mulai ditagih. Ia bahkan sempat berupaya menawarkan aset pribadinya yang ditaksir bernilai sekitar Rp1,3 triliun kepada pihak negara, namun sayangnya, tidak ada kepastian atau tindak lanjut yang jelas dari penawaran tersebut.
Menggambarkan kompleksitas situasi saat itu, Nuarta menambahkan, “Begitu banyak polemik dan dinamika yang terjadi.”
Perjalanan panjang proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) akhirnya menemukan titik terang melalui kerja sama strategis dengan Grup Alam Sutera. Berkat kolaborasi ini, kawasan tersebut berhasil dikembangkan menjadi sebuah destinasi pariwisata dan budaya yang kini sangat populer dan ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan.
Bagi I Nyoman Nuarta, seluruh pengalaman yang ia lalui dalam pembangunan GWK menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga. Ia menyimpulkan bahwa seorang seniman yang berambisi menciptakan karya berskala monumental wajib memiliki keberanian untuk memulai sesuatu yang mungkin pada awalnya tidak akan langsung mendapatkan kepercayaan atau dukungan dari orang lain.
Nuarta juga mengungkapkan bahwa sebagian besar proyek-proyek awal yang ia kerjakan justru lahir dari inisiatif pribadinya. Metode kerjanya adalah dengan terlebih dahulu merumuskan gagasan, kemudian menyusun detail proyek tersebut, sebelum akhirnya aktif menawarkannya kepada berbagai pihak yang potensial.
“Pertama-tama adalah mengajukan proposal proyek. Saya membuat proyek gagasannya terlebih dahulu, lalu menawarkannya kepada pihak mana pun,” jelasnya.
Dalam seluruh rangkaian proses tersebut, Nuarta menekankan bahwa membangun dan memanfaatkan jaringan atau relasi menjadi instrumen yang krusial. Berbagai entitas, mulai dari pemerintah, sektor swasta, komunitas akademisi, hingga pihak-pihak lain yang memiliki sumber daya relevan, dapat menjadi mitra penting dalam mewujudkan sebuah proyek. Oleh karena itu, menurut Nuarta, peran seorang seniman tidak bisa hanya terbatas pada menciptakan karya semata.
Seorang seniman juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengartikulasikan gagasannya dengan jelas serta meyakinkan, sekaligus membuktikan bahwa ide-ide tersebut memang patut dan layak untuk direalisasikan.
“Menjual karya seni itu tidak mudah. Dibutuhkan pembuktian konkret, bukan sekadar janji,” tegas Nuarta.
Berbekal pengalaman panjangnya dalam menggarap berbagai karya monumental, Nuarta juga terdorong untuk mengembangkan metode konstruksi yang jauh lebih efisien. Ia mengungkapkan bahwa ia telah berhasil mematenkan teknik khusus untuk pembuatan patung-patung organis berskala besar sejak tahun 1993.
Menurut seniman kelahiran Tabanan, Bali, ini, penguasaan teknologi yang mumpuni merupakan faktor kunci yang memungkinkan proses pengerjaan patung berukuran raksasa dapat dilakukan dengan jauh lebih efisien dan terstruktur.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sistem kerangka khusus yang telah ia kembangkan dan gunakan dapat secara signifikan mengurangi kebutuhan akan scaffolding atau struktur penyangga tambahan pada tahapan pengerjaan tertentu. Efisiensi yang dihasilkan dari metode ini, menurut Nuarta, bahkan bisa mencapai angka sekitar 40 persen.
Selain efisiensi teknis, standar Health, Safety, Environment (HSE) dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga menjadi aspek yang sangat penting dan tak terpisahkan dalam seluruh proses konstruksi karya-karya monumental tersebut.
Untuk Nuarta, aspek-aspek teknis bukanlah hal yang dapat sepenuhnya didelegasikan kepada pihak lain. Ia berpendapat bahwa seorang seniman yang berkeinginan menciptakan karya monumental harus memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana visi artistiknya dapat diinterpretasikan dan diwujudkan menjadi sebuah konstruksi fisik yang konkret dan berdiri kokoh.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa “Keyakinan serta kolaborasi dengan pihak akademisi” merupakan salah satu fondasi penting dalam menuntaskan proses konstruksi sebuah karya monumental.












