KlikMojok – Sutradara muda keturunan Tionghoa, Melia Santosa Liem Meilie, berencana membawa kisah inspiratif tentang toleransi antara warga Tionghoa dan suku Madura di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, ke layar lebar.
Untuk merealisasikan proyek ini, Melia bersama timnya dari ‘Penting Production’ telah secara resmi meminta restu dari Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, guna mengangkat kehidupan harmonis masyarakat Dungkek ke dalam format film.
Melia menjelaskan alasannya memilih Dungkek sebagai latar cerita. “Dungkek itu tanah kelahiran saya. Disana itu nilai toleransinya sangat tinggi. Saya dan banyak keluarga besar saya di Dungkek itu keturunan Tionghoa dan beragama Kristen, tapi sangat rukun dengan orang asli Dungkek yang muslim,” ujarnya pada Minggu (27/09/2026).
Ia melanjutkan ceritanya, mengungkapkan bahwa masa kecilnya dihabiskan di Dungkek sebelum akhirnya pindah ke Surabaya. Pada masa itu, komunitas keturunan Tionghoa di Dungkek cukup besar, dengan orang tua, kakek, dan sebagian besar anggota keluarga besarnya mencari nafkah sebagai pedagang di daerah tersebut.
“Tapi kami ini rukun-rukun saja. Seperti saudara dengan orang-orang muslim di Dungkek. Nilai toleransi yang tinggi ini membuat saya tertarik untuk membuatnya jadi film,” tambahnya.
Guna mewujudkan ambisinya untuk mengangkat kisah toleransi Dungkek ke layar lebar, Melia beserta timnya kembali menyambangi kampung halamannya tersebut untuk melakukan survei dan pendalaman cerita.
“Saya menelusuri kembali kampung halaman saya di Dungkek. Menemui ‘engkong-engkong’ saya yang masih ada di Dungkek. Saya ingin kembali mendengar cerita tentang Dungkek,” jelas Melia.
Melia memperkirakan bahwa proses survei dan riset mendalam ini akan memakan waktu sekitar enam bulan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa cerita yang diangkat dalam film nantinya benar-benar merepresentasikan kehidupan dan dinamika masyarakat Dungkek secara akurat.
“Film ini rencananya mulai produksi tahun 2027. Nantinya pembuatan film ini akan melibatkan teman-teman kreatif Sumenep, selain saya bawa juga tenaga profesional yang memiliki keahlian di bidang perfilman,” papar Melia mengenai rencana produksi.
Melia mengungkapkan bahwa kunjungannya kepada Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, merupakan bentuk penghormatan atau “kulonuwun” dari dirinya dan tim yang akan menggarap film bertema Dungkek tersebut.
“Saya sudah menyampaikan ke Pak Bupati. Ternyata beliau setuju dan sangat mendukung pembuatan film ini. Menurut pak Bupati, di Dungkek itu memang nilai toleransinya yang patut diacungi jempol,” ujarnya, mengutip respons positif dari Bupati.
Melia menaruh harapan besar agar film tentang Dungkek ini tidak hanya sukses di pasar nasional, tetapi juga mampu meraih perhatian penonton internasional.
Sebagai informasi tambahan, Melia Liem sebelumnya telah membuktikan kemampuannya sebagai sutradara melalui film layar lebar berjudul NuShanTa(Ra), sebuah produksi dari Perhimpunan Pendidikan dan Pengajaran Kristen (PPPK) Petra, yang dijadwalkan rilis di bioskop pada tahun 2025.












