KlikMojok – Kemarau panjang yang berkelanjutan di Kabupaten Magetan telah memicu dampak serius terhadap Telaga Sarangan, sebuah daya tarik wisata air yang populer. Pada Kamis (15/10/2026) siang, pantauan di lokasi menunjukkan bahwa permukaan air telaga telah menyusut lebih dari 50 persen, memaksa wisatawan yang ingin mencoba wahana speedboat untuk ekstra hati-hati menuruni tangga yang semakin curam menuju bibir telaga.
Di area Telaga Sarangan, yang terletak di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, hamparan bebatuan yang sebelumnya terendam air kini tampak jelas mencuat ke permukaan. Fenomena ini merupakan akibat langsung dari penurunan debit air yang sangat drastis.
Bagi para penyedia jasa speedboat, kondisi muka air yang menurun drastis ini berarti akses ke dermaga keberangkatan bergeser jauh ke bawah dari posisi normalnya. Akibatnya, penumpang harus berjalan memutari bebatuan yang kini muncul dan menuruni tangga alami untuk mencapai perahu.
Menurut Rendy, salah seorang pemilik armada speedboat di Telaga Sarangan, penyusutan air ini utamanya disebabkan oleh tingginya pemanfaatan air telaga. Air tersebut dialirkan untuk pasokan irigasi lahan pertanian serta memenuhi kebutuhan operasional Pabrik Gula (PG) Rejosari Magetan.
“Airnya dialirkan untuk irigasi sawah dan PG sampai air telaga menyusut separuh lebih. Pengunjung yang mau naik speedboat terpaksa harus turun sampai ke pinggir telaga,” ujar Rendy pada Kamis (15/10/2026).
Dalam kondisi normal, Telaga Sarangan mampu menampung air hingga 3 juta meter kubik. Namun, sisa debit air yang ada saat ini masih diprioritaskan untuk mengairi belasan desa di Kecamatan Plaosan dan Poncol, selain untuk memenuhi kuota industri PG Rejosari.
Dampak Kekeringan Meluas ke Sektor Pertanian di Plaosan
Efek kemarau tidak hanya memukul sektor pariwisata, tetapi juga merusak sektor pertanian di wilayah Kecamatan Plaosan. Puluhan hektare tanaman hortikultura milik para petani di Kelurahan Plaosan dan Desa Sidomulyo dilaporkan telah mengalami gagal panen total atau puso.
Tanaman komoditas utama seperti kubis, terung, dan tomat terlihat layu dan mengering di atas lahan pertanian mereka, disebabkan oleh terhentinya pasokan air irigasi yang vital.
Sukiyo, salah seorang petani yang mengalami dampak langsung, mengungkapkan kebingungannya menghadapi musim kemarau tahun ini. Ia pesimis lantaran modal tanam yang telah dikeluarkan dipastikan akan hilang percuma.
“Malas ke kebun, Mas, karena tanam apa saja mati akibat tidak ada air. Petani di sini gagal panen semua,” ungkap Sukiyo dengan nada lesu.
Kondisi ini secara nyata memperlihatkan bahwa dampak dari kemarau panjang telah menciptakan tekanan berantai terhadap perekonomian warga di kawasan lereng Gunung Lawu. Para petani sangat berharap agar hujan dapat segera turun, sementara para pelaku usaha wisata diimbau untuk terus mengutamakan keselamatan penumpang di tengah kondisi air telaga yang terus surut.












