Menu

Mode Gelap
Peran Krusial Ibu di Era Digital: Ngaji Bareng Ikwam SD Al Islam Cerme Bekali Wali Murid Ilmu Pengasuhan Duta Bangsa di Kancah Global: 54 Mahasiswa PENS Ikuti Mobilitas Internasional ke Cina dan Taiwan Kolaborasi Tanggap Bencana: Lazismu Jatim Distribusikan Bantuan Gempa NTT via Kapal TNI AL Misi Strategis Dewan Kebudayaan Gresik 2026-2029: Mengawal Identitas Budaya di Tengah Modernisasi Warisan Daniel Rembeth: Inspirasi Abadi Pejuang Hak Anak dan Pendidikan Bukan Akhir, Justru Awal: Memaknai Perjalanan Spiritual Umrah Setelah Kembali ke Tanah Air

Pendidikan

Tumpengan Mumtas: Simbol Syukur dan Penguat Kebersamaan Komunitas Pendidikan

badge-check


					Tumpengan Mumtas: Simbol Syukur dan Penguat Kebersamaan Komunitas Pendidikan Perbesar

Pada Senin, 17 Agustus 2026, SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) menggelar acara Tumpengan Mumtas yang penuh kehangatan sebagai penutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Acara ini diselenggarakan di teras sekolah, dihadiri oleh para guru, karyawan, dan Ikatan Wali Murid (Ikwam) Mumtas, yang berkumpul setelah upacara bendera untuk melanjutkan semangat kemerdekaan dalam suasana kebersamaan.

Lebih dari sekadar santap bersama, tradisi tumpengan ini menjadi wujud sederhana bagi seluruh warga Mumtas untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan serta berbagai prestasi yang telah diraih sekolah. Nasi tumpeng yang berbentuk kerucut, dihiasi dengan beragam lauk-pauk di sekelilingnya, secara simbolis merepresentasikan bagaimana berbagai perbedaan dapat bersatu padu dalam semangat kebersamaan.

Sebelum prosesi pemotongan tumpeng, Kepala SD Mumtas, Bapak M. Khoirul Anam, mengambil kesempatan untuk menyampaikan ungkapan rasa syukur atas dua capaian signifikan. Beliau menyatakan, “Alhamdulillah, hari ini kita tidak hanya merayakan kemerdekaan Indonesia yang telah berusia 81 tahun, tetapi juga mensyukuri pencapaian bersama. SPMB tahun pelajaran 2027–2028 telah memenuhi target. Bahkan, karena keterbatasan kuota, kami belum dapat menerima beberapa calon murid.”

Pernyataan tersebut tentu memancarkan energi positif yang kuat bagi seluruh civitas akademika. Bagi institusi pendidikan, tingginya minat masyarakat bukan sekadar catatan statistik, melainkan sebuah amanah besar untuk senantiasa berupaya meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan yang diselenggarakan.

Menyambung pernyataannya, Bapak M. Khoirul Anam menambahkan bahwa, “Karena itu, kemerdekaan harus kita isi dengan kerja sama, semangat belajar, dan saling mendukung untuk menyiapkan generasi penerus bangsa.”

Setelah sambutan, tumpeng pun secara simbolis dipotong. Bapak M. Khoirul Anam kemudian menyerahkan potongan pertama kepada dua individu yang diakui memiliki kontribusi vital dalam menjalin kebersamaan di Mumtas. Penerima pertama adalah Ibu Wiwin Sumirat, S.E., Ketua Ikwam Mumtas, yang mewakili peran aktif para orang tua dalam mendukung berbagai program sekolah. Sosok kedua yang menerima potongan tumpeng adalah Ibu Cholifatul Chasanah, S.Pd., yang merupakan panitia pelaksana dari acara Semarak Lomba 17 Agustus Mumtas.

Sorak gembira dan tepuk tangan meriah segera memenuhi teras sekolah. Berbagai kamera ponsel sontak diangkat, seolah bekerja ekstra untuk mengabadikan momen berharga tersebut, karena kehangatan dan kesederhanaan acara ini terlalu berkesan untuk sekadar menjadi kenangan.

Tidak berselang lama, seluruh warga Mumtas pun mulai menikmati hidangan tumpeng yang lezat, disajikan lengkap dengan berbagai lauk pauk seperti ayam, ikan laut, tempe, tahu, urap, peyek, hingga sambal goreng kelapa yang menggugah selera.

Suasana akrab semakin terasa dengan mengalirnya obrolan ringan dan canda tawa yang bersahutan di antara mereka. Berbagai topik dibahas, mulai dari kisah-kisah lucu para murid di dalam kelas, pengalaman menarik dalam mendampingi proses pembelajaran, hingga harapan-harapan besar agar Mumtas dapat terus berkembang dan meraih kemajuan.

Salah satu peserta, M. Ali, lantas nyeletuk sambil tersenyum, mengatakan, “Rasanya beda, lebih enak karena dimakan bareng-bareng.”

Ungkapan tersebut memang tepat. Ternyata, bumbu paling istimewa yang menyempurnakan hidangan tumpengan ini bukanlah sekadar sambal goreng kelapa, melainkan esensi kebersamaan yang terjalin erat.

Mengakhiri hari itu, seluruh warga Mumtas kembali ke rumah masing-masing dengan perut yang kenyang dan hati yang dipenuhi kehangatan. Momen tumpengan ini sekali lagi menegaskan pelajaran sederhana: bahwa ketika guru, karyawan, dan orang tua dapat duduk bersama dalam semangat persaudaraan yang kuat, setiap pekerjaan yang terasa berat akan menjadi jauh lebih ringan untuk dihadapi.

Di lingkungan SD Mumtas, peringatan kemerdekaan bukan hanya diwujudkan melalui hiasan bernuansa merah putih semata. Lebih dari itu, seluruh warga sekolah memaknai kemerdekaan dengan memperkuat kekompakan, menjalin kebersamaan, dan senantiasa berbagi kebahagiaan antar sesama.

Dan boleh jadi, hidangan paling nikmat pada hari itu bukanlah ayam atau ikan yang tersaji, melainkan jalinan persahabatan yang terhidang hangat di atas satu meja kebersamaan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peran Krusial Ibu di Era Digital: Ngaji Bareng Ikwam SD Al Islam Cerme Bekali Wali Murid Ilmu Pengasuhan

21 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Duta Bangsa di Kancah Global: 54 Mahasiswa PENS Ikuti Mobilitas Internasional ke Cina dan Taiwan

21 Agustus 2026 - 11:34 WIB

Kolaborasi Tanggap Bencana: Lazismu Jatim Distribusikan Bantuan Gempa NTT via Kapal TNI AL

21 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Misi Strategis Dewan Kebudayaan Gresik 2026-2029: Mengawal Identitas Budaya di Tengah Modernisasi

21 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Warisan Daniel Rembeth: Inspirasi Abadi Pejuang Hak Anak dan Pendidikan

20 Agustus 2026 - 20:08 WIB

Trending di Pendidikan