Pada hari Kamis, 20 Agustus 2026, tepat pukul 11.50 WIB, roda pesawat dengan nomor penerbangan JT015Q 19AUG 2100 akhirnya menyentuh landasan Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo. Momen ini menandai berakhirnya perjalanan panjang dari Tanah Suci bagi Redaktur Budaya Tagar.co, Ichwan Arif, beserta keluarganya, sekaligus menjadi awal dari sebuah perjalanan spiritual yang lebih mendalam.
Ichwan Arif, bersama istri dan keempat anaknya, merasakan kebahagiaan serta rasa syukur yang tak terhingga karena telah kembali menginjakkan kaki di tanah air setelah menempuh perjalanan yang penuh makna.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Tanah Suci, saya, istri, dan keempat anak kami kembali menginjakkan kaki di tanah air. Secara lahiriah, perjalanan spiritual Umrah telah selesai, namun sesungguhnya, dalam makna yang lebih mendalam, perjalanan ini baru saja dimulai.
Selama beberapa hari menjadi tamu Allah, mereka menikmati setiap detik yang dipenuhi oleh limpahan rahmat dan keberkahan. Pengalaman shalat di Masjid Nabawi, bersujud di Raudah yang dikenal sebagai taman surga, dan berziarah ke makam Rasulullah, terasa seperti menapak jejak perjuangan Rasulullah SAW.
Prosesi mengambil miqat, mengelilingi Ka’bah dalam tawaf, berlari kecil di antara Bukit Safa dan Marwah saat sa’i, hingga mengakhiri Umrah dengan tahalul, seolah-olah membawa mereka menelusuri jejak Nabi Ibrahim dan Hajar. Pengalaman-pengalaman spiritual ini, menurut Ichwan Arif, akan senantiasa terpatri dan tidak akan pernah pudar dari hati mereka.
Namun, kepulangan selalu menghadirkan dua rasa yang berjalan beriringan. Di satu sisi, ada rasa syukur yang mendalam karena Allah telah menyempurnakan ibadah mereka dengan kesehatan dan keselamatan yang terjaga.
Di sisi lain, muncul kesedihan yang begitu mendalam karena harus berpisah dengan rumah Allah, Kota Nabi, taman surga, serta jejak-jejak sejarah Islam yang selama ini hanya mereka baca, kini telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri.
Meskipun demikian, Ichwan Arif menyadari bahwa kepulangan ini bukanlah garis akhir dari perjalanan spiritual. Sebaliknya, ini adalah titik awal dari sebuah perjalanan kehidupan yang baru dan lebih bermakna.
Ia menegaskan bahwa Umrah seharusnya tidak hanya berhenti menjadi kenangan indah semata, melainkan harus menjelma menjadi energi yang kuat untuk memperbarui iman, memperteguh ketakwaan, memperdalam keikhlasan, dan menumbuhkan rasa syukur dalam setiap langkah kehidupan.
Ichwan Arif berharap cahaya spiritual yang mereka bawa dari Tanah Suci akan terus menyala di dalam rumah, menjadi teladan bagi istri dan keempat anak mereka, serta tercermin dalam setiap ucapan, pekerjaan, dan keputusan yang mereka ambil sehari-hari.
Sebab, ukuran keberhasilan ibadah Umrah bukan hanya terletak pada kemampuan seseorang untuk mencapai Makkah dan Madinah. Lebih dari itu, keberhasilan Umrah diukur dari seberapa mampu seseorang menjaga hati agar tetap dekat kepada Allah setelah kembali ke tanah air.
Oleh karena itu, kepulangan ini adalah permulaan untuk terus berjuang menjadi hamba yang istikamah, bertakwa, dan senantiasa merindukan panggilan-Nya kembali. Inilah esensi dari perjalanan spiritual yang sesungguhnya.













