KlikMojok – Pada Kamis (17/9/2026), Latihan Dasar Kepemimpinan Kader (LDKK) SMK Pemuda Krian menyuguhkan materi segar tentang “Lead Like an Influencer” di Kampus STIDKI Ar-Rahmah, Pacet. Sesi ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan pemahaman bahwa menjadi seorang pemimpin di era digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan jabatan semata, melainkan juga kemampuan untuk membangun pengaruh, menjadi kreator, serta memanfaatkan platform media sosial secara lebih bertanggung jawab.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Krian, Emil Mukhtar Effendi, S.Pd., menjadi narasumber utama dalam pembahasan gagasan kepemimpinan yang relevan dengan generasi muda ini. Ia mengajak para peserta LDKK untuk memahami bahwa kepemimpinan di era digital membutuhkan lebih dari sekadar otoritas formal. Kemampuan untuk membangun pengaruh, memberikan teladan, dan berkomunikasi secara efektif melalui berbagai platform media sosial kini menjadi aspek yang sangat krusial.
Dalam paparannya, Emil Mukhtar Effendi mendorong para pelajar untuk tidak hanya berperan sebagai penonton atau penikmat konten digital. Sebaliknya, ia menekankan potensi mereka untuk menjadi kreator konten yang mampu menyebarkan pesan positif dan membangun pengaruh yang signifikan melalui ruang digital. Hal ini membuka perspektif baru bagi siswa tentang bagaimana mereka bisa berkontribusi dan memimpin di lingkungan modern.
Emil kemudian membandingkan dua pendekatan kepemimpinan yang berbeda. Menurutnya, pemimpin konvensional cenderung lebih mengandalkan hierarki, wewenang formal yang melekat pada jabatan, dan instruksi yang bersifat satu arah dari atas ke bawah. Sementara itu, konsep pemimpin ala influencer menekankan pada keteladanan pribadi, empati terhadap orang lain, daya tarik personal, serta kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan saling percaya dengan berbagai pihak.
Dalam pendekatan kepemimpinan ala influencer, kemampuan untuk memengaruhi orang lain tidak semata-mata bergantung pada kedudukan atau jabatan yang dipegang. Sebaliknya, seorang pemimpin dapat membangun kepercayaan yang mendalam, sehingga orang lain termotivasi untuk mengikuti gagasan atau arahan yang disampaikan secara sukarela dan tanpa paksaan. Konsep ini kemudian secara lugas dihubungkan dengan kebiasaan umum generasi muda dalam menggunakan media sosial sehari-hari.
Lebih lanjut, Emil Mukhtar Effendi juga menjelaskan karakteristik unik dari tiga platform media sosial populer yang banyak digunakan oleh kalangan anak muda. TikTok, misalnya, dinilai sangat efektif untuk menjangkau audiens secara cepat melalui format video pendek yang mengikuti tren viral. Instagram, di sisi lain, menawarkan ruang untuk membangun citra diri yang positif serta berinteraksi dengan komunitas melalui foto, video, dan fitur cerita (stories).
Sementara itu, YouTube menyediakan platform untuk konten berdurasi lebih panjang, yang memungkinkan suatu gagasan atau topik dibahas secara lebih mendalam dan komprehensif. Pembahasan mengenai perbedaan karakter platform ini diarahkan agar peserta tidak hanya sekadar aktif menggunakan media sosial, tetapi juga mulai memahami nuansa komunikasi di setiap platform dan mampu menyesuaikan cara penyampaian pesan mereka.
Salah satu peserta LDKK, Aurell Prita Natasya, mengungkapkan apresiasinya terhadap materi tersebut. “Pembawaannya yang menyenangkan membuat materi ini tidak membosankan, dan materi yang disampaikan juga sangat relevan, taktis, dan adaptif untuk kami,” ujarnya, menunjukkan bahwa materi tersebut sangat dekat dengan realitas kehidupan pelajar saat ini.
Melalui sesi “Lead Like an Influencer” ini, para peserta diajak untuk melihat bahwa kepemimpinan di ruang digital tidak hanya diukur dari jumlah pengikut (followers) semata. Lebih dari itu, kepemimpinan sejati terletak pada kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara efektif, membangun kepercayaan yang kokoh, dan menggunakan media sosial secara bijaksana serta bertanggung jawab.












