KlikMojok – Pada hari Rabu, 16 September 2026, Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin, melakukan kunjungan penting ke Kampung Nelayan Pesisir Pantai Kenjeran, Kelurahan Sukolilo Baru, Surabaya. Kunjungan ini bertujuan untuk menyoroti geliat literasi dan kemandirian ekonomi warga setempat yang telah berkembang pesat melalui berbagai program komunitas literasi.
Secara khusus, Hafidz Muksin, selaku Kepala Badan Bahasa untuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, tiba di Kampung Nelayan Pesisir Pantai Kenjeran, Kelurahan Sukolilo Baru, Surabaya, pada tanggal tersebut. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memantau langsung perkembangan inisiatif literasi di wilayah tersebut.
Suasana khas pesisir Kenjeran menyelimuti kunjungan tersebut, dengan aroma asin air laut yang berpadu harmonis dengan suara riang tawa anak-anak serta kepulan asap gurih dari dapur-dapur nelayan yang sibuk.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan pesisir itu, sebuah transformasi signifikan sedang berlangsung, berakar dari aktivitas membaca buku dan pemanfaatan perangkat digital.
Rombongan pejabat dari Jakarta dan Surabaya terlihat menyusuri gang-gang sempit di perkampungan tersebut.
Tujuan utama mereka adalah untuk mengamati secara langsung kemajuan literasi serta peningkatan kemandirian ekonomi yang dicapai oleh warga pesisir setempat.
Selama peninjauan, Hafidz Muksin didampingi oleh Puji Retno Hardiningtyas, yang menjabat sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBP Jatim).
Kehadiran para pejabat dari kementerian ini menegaskan komitmen dan perhatian pemerintah terhadap progres program Bantuan Pemerintah (Banpem) Komunitas Literasi (Komlit) yang dikelola oleh para penggerak lokal di daerah tersebut.
Di Kampung Nelayan Pesisir Kenjeran, konsep literasi telah berkembang melampaui sekadar kegiatan membaca buku. Melalui inisiatif Gema Literasi Pesisir 2026, masyarakat aktif memanfaatkan literasi sebagai sarana untuk melestarikan tradisi lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di komunitas pesisir.
Khususnya di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Avicenna Berkah, anak-anak nelayan terlibat dalam berbagai aktivitas literasi, seperti lapak baca dan penerapan metode membaca nyaring (read aloud) yang interaktif.
Jemari mungil mereka, yang biasanya terampil memegang jala dan bermain di pasir, kini dengan cekatan membolak-balik halaman buku-buku bergambar yang penuh warna.
Namun, keterlibatan mereka dalam dunia literasi tidak hanya terbatas pada kegiatan membaca. Melalui program kelas menulis pesisiran, anak-anak dan juga warga dewasa setempat diberi kesempatan untuk menuangkan pengalaman serta kisah-kisah mereka mengenai kampung halaman.
Hasil dari kelas ini adalah lahirnya sebuah buku antologi yang diberi judul “Laut Bukan Tanah Kosong”.
Buku antologi tersebut berisi narasi tentang perjuangan hidup warga, cerita mengenai deburan ombak yang menjadi sumber penghidupan mereka, serta impian-impian besar anak-anak pesisir yang bertekad untuk terus berkembang seiring perubahan zaman.
Lebih dari itu, TBM Avicenna Berkah juga membuktikan bahwa implementasi literasi modern mampu memberikan solusi terhadap tantangan ekonomi yang dihadapi oleh warga.
Contohnya, melalui program Literasi Digital, para ibu rumah tangga dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah pesisir diajarkan cara memanfaatkan perangkat gawai mereka secara lebih produktif.
Mereka memanfaatkan teknologi digital ini untuk memperkuat aspek legalitas bisnis komoditas unggulan yang dimiliki kampung tersebut, yakni bola udang.
Dampak positif dari literasi digital ini tercermin jelas pada produk kuliner yang dihasilkan warga. Kini, produk bola udang rebus dan bola udang goreng buatan tangan masyarakat setempat telah berhasil memperoleh sertifikasi halal.
Sertifikasi halal ini tidak hanya berfungsi untuk memperkuat legalitas produk-produk pesisir, melainkan juga membuka prospek dan peluang yang lebih luas bagi pengembangan ekonomi keluarga para nelayan.
Seluruh upaya dan kerja keras tersebut mencapai puncaknya dalam Festival Gema Literasi Pesisir 2026.
Kampung nelayan yang dulunya lebih dikenal sebagai pemasok hasil laut mentah, kini mulai memperlihatkan potensi baru yang signifikan melalui inisiatif literasi dan pengembangan produk olahan warga.
Rasa bangga di kalangan warga semakin memuncak ketika mereka secara resmi meluncurkan “Kampung Bola Udang” sebagai ikon baru bagi Kampung Literasi Pesisir di Surabaya.
Suasana festival menjadi semakin semarak dengan kehadiran berbagai stan bazar dan pameran literasi yang memamerkan beragam karya kreatif hasil olahan warga. Sementara itu, di sudut lain, panggung utama dipenuhi kemeriahan oleh penampilan para peserta lomba pentas literasi.
Anak-anak tampil dengan penuh percaya diri, membacakan puisi dan menyampaikan cerita di hadapan jajaran pejabat kementerian yang hadir.
Penampilan mereka yang memukau ini merupakan bukti nyata dari keberanian dan kepercayaan diri yang telah mereka kembangkan melalui berbagai kegiatan literasi.
Ketika kunjungan kerja tersebut berakhir pada sore hari, rombongan dari kementerian membawa pulang catatan penting mengenai kemajuan signifikan program literasi yang telah berjalan di Kampung Nelayan Pesisir Pantai Kenjeran.
Program ini secara jelas menunjukkan bahwa kolaborasi dan sinergi yang baik antara pemerintah dan para penggerak literasi lokal memiliki potensi besar untuk tidak hanya mengembangkan budaya literasi, tetapi juga secara substansial mendukung kemandirian masyarakat.
Keberadaan buku antologi yang terpajang di rak TBM serta sertifikasi halal yang berhasil diraih produk bola udang adalah simbol dari bagian perjalanan warga Sukolilo Baru dalam mengukir kemandirian mereka melalui kekuatan literasi.












