KlikMojok – Pagi itu, Minggu (11/10/2026), Tumiran melangkah menyusuri tepian saluran irigasi sawah di Desa Wilangan, Kecamatan Sambit, Ponorogo. Jaring ikan di tangannya siap ditebar, mencari rezeki dari aliran air yang tenang, sebuah rutinitas yang telah ia jalani puluhan tahun. Namun, sekitar pukul 11.00 WIB, ketenangan itu pecah oleh sebuah sentuhan tak terduga di dasar sungai, mengubah hari biasa menjadi saksi bisu penemuan jasad seorang bocah yang memilukan, bernama Aditya Rifqy Hamizan, warga setempat. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam dan menjadi pengingat pahit akan kerentanan anak-anak di lingkungan yang tampak biasa saja.
Kisah nahas ini bermula dari aktivitas sederhana seorang pria berusia 60 tahun. Saat Tumiran sibuk menjaring ikan di sungai kecil yang berfungsi sebagai saluran pengairan sawah, tangannya merasakan sesuatu yang aneh. Bukan ikan, melainkan sesuatu yang terasa seperti kepala manusia. Seketika, teriakan minta tolong meluncur dari bibirnya, memecah kesunyian pedesaan. Warga lain yang berada di sekitar lokasi segera mendatangi sumber suara, rasa penasaran bercampur cemas melingkupi mereka.
Kapolsek Sambit, AKP Moh. Isa Latip, mengonfirmasi detail penemuan tragis ini. “Korban ditemukan warga yang akan menjaring ikan di sungai,” ujar AKP Moh. Isa Latip, menjelaskan awal mula kejadian yang menggemparkan Desa Wilangan. Bersama saksi lainnya, Tumiran kemudian memastikan bahwa benda yang mereka rasakan di dasar sungai itu adalah jasad seorang anak. Tubuh mungil Aditya Rifqy Hamizan akhirnya diangkat dari air, sudah dalam keadaan meninggal dunia. Kabar duka ini segera menyebar, dilaporkan kepada perangkat desa, sebelum akhirnya sampai ke telinga Polsek Sambit. “Laporan tersebut segera ditindaklanjuti oleh petugas kami,” tambah AKP Moh. Isa Latip.
Lokasi penemuan, sebuah saluran irigasi di Dukuh Wilangan, RT 02/RW 02, Desa Wilangan, Kecamatan Sambit, tampak biasa saja. Sungai kecil itu memiliki kedalaman sekitar 1,5 meter dengan lebar kurang lebih 3 meter, cukup dalam untuk menelan seorang anak yang tak berdaya. Petugas dari Polsek Sambit, Unit Reskrim, dan tim dari Polres Ponorogo segera mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Tim kesehatan dari Puskesmas Sambit juga turut dilibatkan untuk pemeriksaan awal terhadap jenazah korban.
Dari keterangan pihak keluarga kepada polisi, terungkap bahwa Aditya meninggalkan rumah sekitar pukul 05.00 WIB, setelah waktu subuh. Anak itu pergi menggunakan sepeda tanpa berpamitan kepada orang tuanya. Sebuah detail kecil yang kini terasa begitu besar, meninggalkan pertanyaan bagaimana seorang bocah bisa sampai ke saluran irigasi yang berujung pada tragedi. Polisi melakukan pemeriksaan tempat kejadian perkara dengan cermat, serta meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk menyusun kembali rangkaian peristiwa yang terjadi.
Hasil pemeriksaan awal terhadap tubuh korban tidak menunjukkan adanya tanda-tanda penganiayaan. Tidak ditemukan pula benda tumpul atau benda tajam di sekitar lokasi kejadian. Dengan demikian, berdasarkan olah TKP dan pemeriksaan awal, dugaan kuat mengarah pada penyebab kematian akibat tenggelam. Sebuah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa seorang anak dalam kelengahan sesaat.
Di tengah duka yang mendalam, pihak keluarga menerima peristiwa ini sebagai sebuah musibah. Mereka menyatakan tidak menghendaki dilakukannya autopsi terhadap jenazah Aditya dan telah membuat surat pernyataan resmi. Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, jenazah dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan. “Korban selanjutnya dipersiapkan untuk dimakamkan di pemakaman umum Desa Wilangan,” pungkas AKP Moh. Isa Latip, mengakhiri penyelidikan atas kejadian pilu ini.
Tragedi penemuan jasad bocah Aditya Rifqy Hamizan di saluran irigasi Ponorogo ini bukan sekadar berita duka yang berlalu. Ini adalah cermin refleksi bagi kita semua, terutama dalam konteks pendidikan dan keselamatan anak. Lingkungan sekitar, yang seringkali dianggap aman dan biasa, bisa menyimpan potensi bahaya tak terduga bagi anak-anak yang penuh rasa ingin tahu dan belum sepenuhnya memahami risiko. Kisah ini mengingatkan betapa pentingnya pengawasan orang tua, edukasi dini tentang bahaya air, dan kepedulian kolektif masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi tumbuh kembang generasi penerus. Setiap sudut desa, setiap aliran sungai, semestinya menjadi ruang yang ramah bagi anak, bukan tempat di mana duka mengendap bersama arus.












