KlikMojok – Di antara riak ombak Selat Sunda yang tak henti berbisik, ada kisah penantian panjang yang kini menemukan sedikit titik terang. Hampir tiga minggu setelah kabar hilangnya Kapal Arupadhatu yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026, sebuah identitas akhirnya terkuak. Tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri mengumumkan keberhasilan mereka mengidentifikasi jenazah Mr. X yang ditemukan di perairan Desa Kahyangan, Pulau Enggano, Bengkulu, sebagai Surakman atau Sukarman (60), seorang anak buah kapal (ABK) Arupadhatu.
Penemuan ini membawa setitik harapan sekaligus kelegaan bagi keluarga yang berbulan-bulan dirundung cemas. “Hasil identifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DNA, operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu bahwa secara genetik PM/62/P.Enggano/01 itu kode jenazah Mr. X tadi teridentifikasi sebagai Sukarman atau ABK yang merupakan Ayah Biologis dari Yayan,” ujar Kepala Polda Banten, Irjen Pol Hengky, dalam konferensi pers pada Rabu, 23 September 2026. Penjelasan ini menggambarkan betapa kompleks dan presisinya ilmu forensik dalam menjawab misteri yang ditinggalkan bencana.
Kisah penemuan jenazah bermula dari informasi yang disampaikan Kapolda Bengkulu kepada Polda Banten pada Sabtu, 12 September 2026. Tak menunggu lama, jenazah tersebut segera dievakuasi dengan menggunakan pesawat Cessna, melintasi ribuan kilometer lautan menuju Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu. Di sanalah, proses identifikasi lanjutan yang melibatkan keahlian multidisiplin dimulai. Ini adalah langkah krusial dalam pendidikan forensik dan penanganan bencana, di mana setiap detail dan prosedur harus dilakukan dengan cermat.
Proses identifikasi ini bukan pekerjaan sembarangan. Tim DVI bekerja secara komprehensif, mencocokkan data antemortem dari delapan keluarga korban yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda. Mereka memanfaatkan data primer yang sangat vital: sidik jari, struktur gigi, dan tentu saja, DNA. Ketiga metode ini menjadi pilar utama dalam identifikasi forensik modern, memastikan validitas identitas korban dengan tingkat akurasi yang tinggi. Kemampuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data ini adalah bukti nyata dari pendidikan dan pelatihan khusus yang dimiliki oleh para ahli DVI Polri, sebuah disiplin ilmu yang esensial dalam setiap upaya pencarian dan identifikasi korban bencana. “Hasil pemeriksaan DNA yang dilakukan oleh tim DVI Polri dapat dipertanggungjawabkan secara hukum,” tegas Kapolda, menekankan kredibilitas dan keandalan metode ilmiah yang digunakan.
Identifikasi Surakman menjadi langkah awal yang penting, namun pencarian bagi korban lainnya masih terus berlanjut. Pihak kepolisian terus berkoordinasi erat dengan seluruh instansi terkait, mulai dari Basarnas hingga pemerintah provinsi, dalam penanganan sisa korban. Kedelapan korban speedboat Arupadhatu yang mengalami hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, terdiri dari Warta selaku kapten kapal, Surakman selaku anak buah kapal (ABK), Heriyanto selaku guide, serta lima jurnalis pemberani: M. Bagus Khoerunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Mereka adalah para profesional yang mempertaruhkan nyawa demi menyampaikan informasi kepada publik, sebuah pelajaran berharga tentang dedikasi dan risiko dalam jurnalisme investigatif.
Jenazah Surakman rencananya akan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta pada keesokan harinya setelah pengumuman. Proses penyerahan jenazah kepada pihak keluarga akan dilakukan secara terpadu, melibatkan perwakilan Pemerintah Provinsi, Basarnas, dan tim terkait lainnya. Momen ini, meski pahit, setidaknya memberikan penutup bagi satu keluarga, sebuah akhir dari penantian yang tak berkesudahan. Ini adalah pengingat akan pentingnya sistem identifikasi korban yang terstruktur dan teruji, serta peran ilmu pengetahuan dalam memberikan jawaban di tengah duka, menjadi sebuah ‘pendidikan’ tentang resiliensi manusia dan kemajuan sains dalam menghadapi tragedi.












