KlikMojok – Tapal Kuda Youth Summit 2026 telah sukses menyatukan elemen mahasiswa dan pemuda Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai daerah. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat konsolidasi gerakan mereka dalam mengawal penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) serta keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Isu penting mengenai penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) kembali menjadi pusat perhatian di kalangan aktivis dan gerakan sosial, khususnya di kawasan Tapal Kuda. Dalam sebuah acara bertajuk Tapal Kuda Youth Summit 2026, mahasiswa dan para pemuda bersepakat untuk menyatukan langkah dan energi guna mengawal keadilan struktural. Acara penting ini diselenggarakan di Aula Utama Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan pada hari Selasa, 8 September.
Forum konsolidasi ini secara khusus mengusung tema yang mendalam: “Menakar Keadilan: Respon Kritis & Peran Strategis Generasi Muda NU terhadap Isu Pelanggaran HAM di Indonesia”.
Pemilihan tema tersebut berfungsi sebagai landasan utama bagi konsolidasi berbagai elemen pergerakan yang ada di wilayah Jawa Timur dalam merespons berbagai persoalan Hak Asasi Manusia. Selain dihadiri oleh delegasi dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), forum ini turut mengundang perwakilan dari beragam organisasi serta elemen kepemudaan lainnya.
Pada kesempatan itu, terlihat hadir perwakilan dari Omek, jajaran pengurus organisasi kepemudaan, Banom, serta berbagai lembaga lain yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) Pasuruan Raya.
M. Ubaidillah Abdi, yang menjabat sebagai Koordinator Aliansi BEM Pasuruan Raya, menyampaikan penegasan mengenai betapa pentingnya peran aktif mahasiswa dan pemuda dalam konteks sosial. Ia berpendapat bahwa mahasiswa tidak seharusnya hanya terpaku pada diskusi-diskusi teoretis semata, melainkan harus turut serta mengawal persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat luas.
Dalam pernyataannya, ia menjelaskan, “Generasi muda hari ini dihadapkan pada tantangan nyata, mulai dari ketimpangan ekologis hingga perampasan ruang sipil,”.
Lebih lanjut, Ubaidillah menyoroti bahwa kasus-kasus struktural seringkali menemui kebuntuan dalam proses penyelesaiannya melalui jalur hukum. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa elemen mahasiswa dan seluruh organisasi kepemudaan di bawah naungan NU wajib mengambil peran signifikan sebagai kekuatan penyeimbang yang kritis.
Ia menambahkan, “Kita harus berani menuntut akuntabilitas di setiap lini pemerintahan agar keadilan tidak hanya menjadi milik mereka yang berkuasa,”.
Ubaidillah kemudian melanjutkan dengan menekankan urgensi adanya advokasi lintas elemen yang dirancang lebih terstruktur untuk masa-masa yang akan datang.
Bentuk advokasi yang dimaksud ini akan meliputi kajian mendalam terhadap dokumen perencanaan daerah, analisis kebijakan anggaran, upaya diplomasi, serta pelaksanaan aksi langsung di lapangan.
Senada dengan Ubaidillah, Mudassir, selaku Koordinator Daerah (Korda) Tapal Kuda BEM PTNU Jawa Timur, turut menyampaikan pandangannya. Ia secara khusus menyoroti pentingnya membangun sinergitas pergerakan yang kuat antara kampus-kampus dan berbagai organisasi lintas sektor yang beroperasi di kawasan Tapal Kuda.
Menurut Mudassir, sinergi yang terjalin erat ini berpotensi besar untuk memperkuat daya tawar dan posisi tawar dalam merespons isu-isu kerakyatan, baik yang berskala regional maupun nasional.
“Kawasan Tapal Kuda memiliki karakteristik demografis dan problematika sosial yang khas,” tutur Mudassir.
Ia melanjutkan dengan menilai bahwa konsolidasi yang melibatkan berbagai elemen di Pasuruan ini merupakan langkah awal yang krusial untuk menyatukan frekuensi dan visi gerakan mereka.
Mudassir juga menegaskan, “Generasi muda NU dan kelompok pergerakan harus menjadi garda terdepan dalam merespons isu HAM,”.
Namun demikian, Mudassir berpendapat bahwa peran tersebut tidaklah cukup hanya dengan memberikan respons yang reaktif terhadap persoalan-persoalan yang sudah terjadi. Ia menekankan bahwa generasi muda juga memiliki tanggung jawab untuk secara proaktif memetakan potensi-potensi pelanggaran hak masyarakat sipil yang mungkin terjadi di daerah mereka masing-masing.
Oleh karena itu, diharapkan konsolidasi ini tidak hanya sekadar menjadi pertemuan sesaat, melainkan mampu membangun sebuah arah gerakan yang jauh lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Tapal Kuda Youth Summit 2026 juga turut menghadirkan beragam tokoh strategis yang berperan sebagai Keynote Speaker dalam forum penting tersebut.
Beberapa di antara mereka adalah perwakilan dari Pimpinan UNU Pasuruan dan Tenaga Ahli Kementerian HAM, Feri Malik Kusuma, S.H., yang menyampaikan materinya secara daring.
Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh jajaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur serta perwakilan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur.
Melalui serangkaian pertemuan dan diskusi ini, diharapkan kolaborasi dari berbagai elemen yang terlibat dapat menghasilkan sebuah resolusi bersama yang bermanfaat bagi wilayah Tapal Kuda.
Kolaborasi strategis tersebut melibatkan Aliansi BEM Pasuruan Raya, BEM PTNU, serta elemen-elemen Nahdlatul Ulama (NU) lainnya.
Resolusi bersama yang dihasilkan ini nantinya akan berfungsi sebagai pedoman utama dalam upaya advokasi untuk merespons berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat di kawasan Tapal Kuda.
Forum Tapal Kuda Youth Summit 2026 kemudian ditutup dengan sebuah komitmen bersama yang kuat untuk terus menjaga nyala api pergerakan dan semangat perjuangan.
Komitmen ini sekaligus menegaskan keberpihakan yang utuh dan tak tergoyahkan terhadap rakyat dalam upaya mengawal tegaknya keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM).












