KlikMojok – Pada Jumat, 9 Oktober 2026, sebanyak 103 santri Madrasah Bertaraf Internasional (MBS) Madinatul Ilmi SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik memulai rangkaian kegiatan tadabur alam mereka. Acara pembukaan Kamping Ceria MBS Putri dan Samunasim MBS Putra ini berlangsung di halaman SMA Muhammadiyah 1 Gresik, menandai dimulainya perjalanan para santri untuk belajar, mempererat kebersamaan, dan meningkatkan ibadah kepada Allah Swt melalui eksplorasi alam. Meskipun dibagi ke dua lokasi berbeda – santri putra ke Bukit Cendono dan santriwati ke Gubug Marawati – tujuan spiritual dan edukatif kegiatan ini tetap satu.
Kegiatan tadabur alam yang melibatkan 103 santri ini didampingi oleh sepuluh pendamping, terdiri dari enam musyrif untuk santri putra dan empat musyrifah untuk santriwati. Setelah seremoni pembukaan bersama di sekolah, rombongan santri putra dan santriwati melanjutkan perjalanan menuju lokasi kegiatan masing-masing yang telah ditentukan.
M. Naufal, Lc., M.Si., selaku Mudir MBS Madinatul Ilmi, memimpin jalannya pembukaan dan menjelaskan esensi kegiatan ini. Beliau menekankan bahwa acara ini merupakan kesempatan emas bagi seluruh santri untuk melaksanakan tadabur alam, sebuah bentuk perenungan dan pembelajaran dari kebesaran ciptaan Tuhan di lingkungan terbuka.
Naufal lebih lanjut menggarisbawahi bahwa, terlepas dari perbedaan lokasi antara santri putra dan santriwati, mereka semua mengemban satu tujuan mulia yang sama, yaitu beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui pengalaman di alam terbuka.
Sebelum keberangkatan, Kepala SMA Smamsatu Gresik, Nurul Ilmiyah, memberikan pembekalan dan arahan kepada para santri. Dalam pesannya, beliau mengingatkan pentingnya menjaga diri dan menjalin komunikasi yang baik antar sesama peserta selama kegiatan berlangsung.
“Saling menjaga dan saling berkomunikasi dari berangkat sampai pulang dalam keadaan sehat,” tegas Nurul Ilmiyah, menggarisbawahi prioritas keselamatan dan kesehatan para santri.
Setelah pembekalan, rombongan santri putra MBS Madinatul Ilmi melanjutkan perjalanan menuju Bukit Cendono, yang terletak di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Pacet, Kabupaten Mojokerto, untuk mengikuti program Samunasim. Sementara itu, rombongan santriwati bertolak ke Gubug Marawati, juga di Pacet, Kabupaten Mojokerto, untuk melaksanakan Kamping Ceria mereka.
Setibanya di Gubug Marawati, para santriwati segera menunaikan salat Asar secara berjemaah, mengawali kegiatan mereka dengan ibadah. Setelah itu, mereka menerima arahan mengenai prosedur pendirian tenda, sebuah kegiatan yang melatih kemandirian dan kerja sama, sebelum akhirnya beristirahat sejenak.
Ketika azan Magrib berkumandang, para santriwati kembali berkumpul untuk melaksanakan salat Magrib berjemaah. Selesai salat, agenda dilanjutkan dengan sesi kajian yang disampaikan oleh Ustazah Hadiyatan Wasilah, memberikan bekal spiritual dan ilmu agama.
Dalam pemaparan kajiannya, Ustazah Hadiyatan Wasilah secara khusus mengingatkan para santriwati untuk memanfaatkan setiap kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya, terutama selagi kedua orang tua mereka masih mampu membiayai dan memenuhi segala kebutuhan pendidikan.
Beliau juga menegaskan bahwa tugas utama setiap pelajar adalah fokus pada proses belajar dan berupaya keras untuk meraih kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Selain itu, Ustazah Hadiyatan menjelaskan pentingnya mematuhi tata tertib yang berlaku. Menurutnya, aturan-aturan tersebut diciptakan untuk mengatur kehidupan bersama, memastikan setiap individu terlindungi dari hal-hal yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain dalam komunitas.
Para santriwati juga diingatkan untuk senantiasa menjaga kehormatan dan marwah mereka sebagai peserta didik di lingkungan sekolah Muhammadiyah, mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan.
Kajian spiritual tersebut diakhiri dengan doa bersama, diikuti dengan pelaksanaan salat Isya berjemaah. Setelah itu, suasana kebersamaan semakin terasa saat para santriwati bergotong royong memasak dan menikmati hidangan makan malam bersama kelompok masing-masing.
Rangkaian kegiatan hari pertama kemudian dilanjutkan dengan malam keakraban atau yang sering disebut “makrab”. Momen ini menjadi ajang penting bagi para santriwati untuk mempererat tali silaturahmi dan membangun kebersamaan yang kuat, tanpa memandang perbedaan angkatan atau kelas.
Malam keakraban menjadi penutup kegiatan Kamping Ceria pada hari pertama di Gubug Marawati bagi santriwati. Sementara itu, di lokasi terpisah, para santri putra juga menjalani rangkaian kegiatan Samunasim, yang berfokus pada aktivitas mendaki di Bukit Cendono, sebagai bagian dari pengalaman tadabur alam mereka.












