KlikMojok – Pada Senin, 7 September 2026, suasana kebanggaan menyelimuti SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) Gresik. Kepala sekolah, Riza Agustina Wahyu Setyawati, secara simbolis menyerahkan medali emas kepada Ghea Shakila Rafanda, seorang siswi berprestasi dari kelas IV. Penyerahan medali ini dilakukan setelah Ghea berhasil meraih pencapaian luar biasa di ajang Olimpiade IPA tingkat nasional.
Ghea Shakila Rafanda, siswi kelas IV Al Matin dari SD Muri Kebomas Gresik, memang menjadi sorotan utama atas keberhasilannya ini. Ia berhasil meraih medali emas dalam Olimpiade IPA tingkat nasional, sebuah prestasi yang tidak hanya menguji kemampuan akademiknya tetapi juga ketahanan mentalnya. Saat mengerjakan soal-soal Olimpiade IPA, Ghea mengakui bahwa ia sempat dihantui rasa gugup. Ketegangan yang ia rasakan menuntutnya untuk menjaga konsentrasi penuh agar dapat menyelesaikan setiap pertanyaan dengan baik.
Meskipun demikian, Ghea tidak membiarkan rasa gugup menguasai dirinya. Ia memilih untuk terus fokus dan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya dalam menjawab setiap soal. Ketekunan dan usahanya ini akhirnya membuahkan hasil manis, yaitu medali emas pada kategori Olimpiade IPA dalam ajang Airlangga Competition 20 tingkat nasional.
Ajang kompetisi bergengsi ini, yang diselenggarakan oleh PT Lentera Pendidikan Indonesia, menjadi pengalaman yang sangat berharga dan tak terlupakan bagi Ghea. Tidak hanya menguji kedalaman pengetahuan akademik Ghea di bidang IPA, kompetisi ini juga melatihnya untuk mengelola dan mengatasi rasa gugup yang muncul selama proses pengerjaan soal.
Mengungkapkan perasaannya, Ghea menuturkan, “Waktu mengerjakan olimpiade saya merasa deg-degan dan gugup. Tapi saya tetap berusaha untuk memberikan hasil yang terbaik dan mengerjakan soal semampu saya.”
Ketegangan yang menyelimuti Ghea selama kompetisi seketika sirna dan berganti menjadi kegembiraan yang luar biasa saat hasil kompetisi diumumkan. Momen tersebut menjadi sangat membahagiakan ketika Ghea mendapati namanya tercantum sebagai peraih medali emas.
“Ketika tahu mendapatkan medali emas, saya merasa sangat senang,” ujarnya dengan penuh sukacita. Ia melanjutkan, “Saya juga bersyukur karena usaha yang saya lakukan akhirnya mendapatkan hasil yang baik.”
Bagi Ghea, partisipasinya dalam kompetisi ini jauh melampaui sekadar mengejar hasil akhir berupa medali. Ia memperoleh pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi tekanan dan ketegangan yang muncul saat harus menyelesaikan serangkaian soal di bawah suasana perlombaan yang kompetitif.
Meski sempat dilanda rasa gugup, hal itu tidak lantas membuatnya menyerah atau berhenti. Ghea secara aktif berupaya menenangkan dirinya, memfokuskan kembali konsentrasinya, dan kemudian melanjutkan pengerjaan soal satu per satu hingga tuntas.
Pengalaman berharga ini kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Ghea dalam berbagai kompetisi akademik yang ia ikuti. Setelah berhasil melewati seluruh tahapan pengerjaan soal dengan baik, medali emas yang ia raih menjadi bukti nyata dari kerja kerasnya dan sebuah kebanggaan yang ia persembahkan untuk sekolahnya.
Keberhasilan gemilang yang ditorehkan Ghea ini tentu saja disambut dengan apresiasi dan kebanggaan yang mendalam dari seluruh keluarga besar SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri).
Riza Agustina Wahyu Setyawati, selaku Kepala SD Muhammadiyah 1 Kebomas, menyatakan bahwa prestasi yang diukir Ghea merupakan kabar yang sangat menggembirakan sekaligus membanggakan bagi seluruh civitas akademika sekolah.
“Bagi keluarga besar SD Muhammadiyah 1 Kebomas, prestasi Ghea menjadi kabar yang membahagiakan sekaligus membanggakan,” ujar Riza. Ia menambahkan, “Pencapaian tersebut sejalan dengan semangat sekolah untuk membentuk siswa yang berbudi, berbudaya, dan unggul.”
Partisipasi Ghea dalam Airlangga Competition 20 ini telah memberikan kesempatan emas baginya untuk menguji dan mengasah kemampuan di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di luar konteks pembelajaran rutin yang ia dapatkan di dalam kelas.
Selain itu, melalui ajang ini, Ghea juga mendapatkan pengalaman berharga dalam menghadapi ketatnya kompetisi di tingkat nasional. Ia belajar bagaimana mengelola ketegangan dan tekanan psikologis saat harus menyelesaikan berbagai soal secara mandiri tanpa bantuan.
Medali emas yang berhasil diraih Ghea kini menambah panjang daftar catatan prestasinya yang gemilang. Lebih dari sekadar penghargaan, medali ini juga menjadi dorongan kuat bagi Ghea untuk terus bersemangat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan akademiknya di masa mendatang.
Melalui seluruh pengalaman berharga ini, Ghea telah membuktikan bahwa rasa gugup bukanlah penghalang mutlak bagi seseorang untuk menyelesaikan tantangan dan mencapai tujuannya. Dengan ketekunan dan keberanian, ia berhasil menyelesaikan setiap soal hingga tuntas, dan akhirnya pulang membawa kebanggaan berupa medali emas.












