KlikMojok – Jalan Raya Tlanggoh, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, mungkin tampak seperti jalur biasa yang dilalui ribuan kendaraan setiap hari. Namun, pada Minggu, 11 Oktober 2026, jalan ini menjadi saksi bisu betapa rapuhnya kewaspadaan manusia di hadapan rasa lelah yang tak tertahankan. Sebuah truk bernomor polisi L 9322 BA, yang seharusnya melaju aman dari timur ke barat, tiba-tiba kehilangan kendali. Bukan karena jalan licin atau hambatan tak terduga, melainkan karena kelelahan yang tak tertahankan, hingga menghantam sebatang pohon di pinggir jalan dengan keras. Dampaknya, bukan hanya kerusakan material, tapi juga sebuah kaki kiri yang kini patah, milik seorang kernet bernama Andry (33), warga Krembangan, Surabaya.
Insiden ini bukan sekadar catatan statistik kecelakaan lalu lintas tunggal. Ia adalah pengingat keras tentang betapa tipisnya batas antara kewaspadaan dan bahaya di jalan raya. Kantuk di balik kemudi seringkali dianggap remeh, padahal dampaknya bisa setara dengan mengemudi di bawah pengaruh alkohol atau zat terlarang. Pengemudi, terutama mereka yang menempuh perjalanan jauh atau bekerja di sektor logistik seperti Kresna Revaldi Mustofa, sang sopir truk nahas, seringkali dihadapkan pada tuntutan waktu yang ketat. Kondisi ini memicu kelelahan ekstrem yang berujung pada micro-sleep – kondisi tidur singkat yang tak disadari namun berpotensi fatal, di mana otak berhenti memproses informasi dari lingkungan selama beberapa detik.
Kisah Andry, sang kernet, menjadi cermin nyata dari risiko yang diemban bukan hanya oleh pengemudi, tapi juga penumpang atau rekan seperjalanan. Patah tulang kaki kiri bukan hanya rasa sakit fisik yang luar biasa, tapi juga potensi kehilangan mata pencarian, beban ekonomi yang mendadak, dan trauma psikologis yang mungkin membayangi kehidupannya di masa mendatang. Kecelakaan ini adalah sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya memprioritaskan kondisi fisik di atas segala tuntutan perjalanan.
Merespons laporan masyarakat, petugas Polsek Tanjung Bumi segera bergerak cepat ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Mereka menemukan pemandangan truk yang ringsek dan seorang korban yang membutuhkan pertolongan segera. Ipda Agung Intama, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Bangkalan, membenarkan bahwa insiden ini teridentifikasi sebagai kecelakaan lalu lintas tunggal.
“Dugaan sementara, kecelakaan terjadi karena sopir mengantuk saat mengemudikan kendaraan hingga menabrak pohon di pinggir jalan,” ujar Ipda Agung, menjelaskan penyebab awal dari musibah tersebut. Evakuasi korban menjadi prioritas utama. “Korban yang mengalami patah tulang pada kaki kiri langsung dievakuasi ke Puskesmas Tanjung Bumi,” lanjut Ipda Agung. Selain menolong korban, petugas juga mengamankan kendaraan beserta surat-suratnya sebagai bagian dari prosedur penanganan lebih lanjut, berkoordinasi dengan Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas) Polres Bangkalan. Beruntung, dalam kecelakaan ini tidak ada korban jiwa, meskipun kerugian materiil diperkirakan mencapai angka Rp5 juta.
Dari tragedi yang nyaris merenggut lebih banyak di Tanjung Bumi ini, ada pelajaran penting yang harus terus digaungkan dalam setiap aspek pendidikan keselamatan berlalu lintas. Ipda Agung Intama tak henti-hentinya mengingatkan para pengemudi untuk tidak memaksakan diri berkendara saat mengantuk. Ini bukan sekadar imbauan, melainkan sebuah prinsip dasar keselamatan yang harus tertanam kuat dalam setiap individu yang memegang kemudi.
“Pengemudi harus memastikan kondisi tubuh tetap prima dan konsentrasi terjaga selama perjalanan. Jika mengantuk, sebaiknya berhenti di tempat yang aman untuk beristirahat agar tidak membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya,” pungkasnya, menegaskan bahwa istirahat sejenak jauh lebih berharga daripada kecepatan yang berujung petaka. Kisah truk nahas di Bangkalan ini adalah cerminan nyata bahwa jalan raya adalah ruang publik yang menuntut tanggung jawab kolektif. Setiap pengemudi adalah penjaga nyawa, baik dirinya sendiri maupun orang lain. Mengabaikan sinyal tubuh, terutama rasa kantuk, sama dengan mengundang bahaya yang tak pandang bulu. Semoga insiden ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa keselamatan adalah prioritas utama, dan istirahat adalah investasi terbaik untuk perjalanan yang aman sampai tujuan.












