KlikMojok – Senja Jumat, 28 Agustus 2026, perlahan merayap di ufuk barat Tuban, membawa serta keheningan yang tak terduga. Namun, bagi Krisna Ika Saputra, seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di SMA Negeri Rengel, senja itu adalah akhir dari perjalanan hidupnya yang didedikasikan untuk pendidikan. Sebuah kecelakaan tragis di Jalan Pakah-Soko, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, merenggut nyawanya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, dan para muridnya.
Insiden maut itu terjadi sekitar pukul 17.30 WIB, saat jalanan mulai ramai oleh aktivitas pulang kerja dan sekolah. Menurut keterangan IPDA Rizky Dwi Prasetyo, Kanit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas Polres Tuban, kronologi kejadian bermula ketika sebuah kendaraan pikap bernomor polisi L-8076-BW yang dikemudikan oleh Nur Wahyu Hidayat (26), warga Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Tuban, melaju dari arah timur menuju barat.

“Kendaraan pick up kemudian mendahului kendaraan yang ada di depannya dengan berada di lajur kanan dan pandangan kurang bebas yang kemudian mengalami kecelakaan Lalu lintas dengan kendaraan SPM Honda Scoopy No Pol S-5176-IZ,” ujar IPDA Rizky. Pernyataan ini disampaikan pada Sabtu (29/08/2026), sehari setelah kejadian.
Pada saat bersamaan, sepeda motor Honda Scoopy bernomor polisi S-5176-IZ yang dikendarai oleh Krisna Ika Saputra, sang guru, melaju dari arah berlawanan, yaitu dari barat menuju timur. Krisna tidak sendiri; ia membonceng Setiawati (49). Tabrakan tak terhindarkan antara kedua kendaraan tersebut. Jenis kecelakaan ini, seperti dijelaskan IPDA Rizky, adalah tabrakan depan.
“Akibatnya pengendara Krisna Ika Saputra meninggal dunia di lokasi kejadian,” jelas IPDA Rizky, menggambarkan betapa parahnya dampak tabrakan tersebut.
Sementara itu, Setiawati yang dibonceng Krisna, serta Nur Wahyu Hidayat, pengemudi pikap, mengalami luka berat dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Dampak tabrakan yang dahsyat juga menyebabkan kendaraan pikap terguling dan rusak parah. Kerugian material akibat insiden ini diperkirakan mencapai Rp 10 juta. Namun, kerugian terbesar tentu saja adalah hilangnya nyawa seorang pendidik berdedikasi.
Faktor utama yang diduga menjadi penyebab kecelakaan tragis ini, menurut kepolisian, adalah pengemudi pikap yang tidak fokus dan kurang bebas pandangannya saat berupaya mendahului kendaraan lain di depannya. Tragedi ini sekali lagi menjadi pengingat pahit akan pentingnya kehati-hatian dan fokus penuh saat berkendara, terutama di jalan raya yang padat. Hilangnya Krisna Ika Saputra bukan hanya duka bagi keluarganya, tetapi juga kehilangan besar bagi dunia pendidikan di Tuban, yang telah kehilangan salah satu pahlawan tanpa tanda jasanya.
Kisah Krisna Ika Saputra adalah cerminan dari risiko yang tak terduga di jalan raya, yang bisa merenggut siapa saja, kapan saja. Semoga kepergiannya menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya keselamatan berlalu lintas, agar tak ada lagi senja yang membeku, yang membawa kabar duka karena kelalaian di jalan.













