KlikMojok – Di SD Muhammadiyah 16 Surabaya, perpustakaan Sekolah Kreatif Baratajaya menjadi pusat kegiatan literasi inovatif. Pada Senin, 14 September 2026, siswa kelas V Al Kindi terlibat dalam pembelajaran pidato persuasif yang dirancang khusus untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, melatih kerja sama, dan memberanikan diri menyampaikan gagasan secara efektif.
Stereotip perpustakaan sebagai tempat yang identik dengan keheningan untuk membaca kini telah bergeser. Di lingkungan SD Muhammadiyah 16 Surabaya, fasilitas perpustakaan telah bertransformasi menjadi sebuah arena dinamis tempat para siswa berani menyuarakan ide, berinteraksi dalam diskusi, dan mengasah keterampilan persuasi melalui kekuatan tutur kata.
Fenomena ini terlihat jelas dalam Kelas Literasi yang diikuti oleh siswa kelas V Al Kindi pada hari Senin, 14 September 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Tidak Hanya Bicara, tetapi Mengajak” dan diwujudkan melalui serangkaian praktik pidato persuasif.
Pukul 10.40 WIB, para siswa beranjak menuju perpustakaan, didampingi oleh Ajeng Putri Wulan Ayu, S.Pd. Begitu tiba, suasana belajar yang interaktif langsung tercipta; mereka tidak hanya pasif mendengarkan. Sebaliknya, siswa segera menerima panduan tentang cara menyampaikan gagasan secara efektif agar mampu memotivasi dan menggerakkan orang lain.
Assabaniyah, A.Md, selaku Kepala Perpustakaan SD Muhammadiyah 16 Surabaya, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara khusus untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat merasakan langsung pengalaman menggunakan bahasa yang bersifat persuasif. Ia menambahkan, “Pidato persuasif tidak sekadar menyampaikan pendapat atau berbicara di depan orang lain.”
Menurut Assabaniyah, ada kompetensi tambahan yang menjadi target pengembangan melalui aktivitas pembelajaran ini. “Tujuannya juga untuk memengaruhi, meyakinkan, dan mengajak audiens melakukan sesuatu,” terang Assabaniyah lebih lanjut. Oleh karena itu, para siswa tidak hanya dibimbing untuk berbicara secara fasih. Lebih dari itu, mereka juga diajarkan cara selektif dalam memilih kosakata dan merangkai kalimat yang berpotensi kuat untuk menumbuhkan keyakinan pada para pendengarnya. “Peserta belajar menggunakan kalimat ajakan yang tepat, menarik, dan mampu menumbuhkan motivasi,” imbuhnya.
Guna mempermudah pemahaman siswa mengenai konsep pidato persuasif, Assabaniyah memperkenalkan tiga elemen krusial yang wajib ada dalam setiap penyampaian gagasan, yaitu identifikasi masalah, pemberian alasan, dan ajakan sebagai solusi. “Siswa belajar menyampaikan suatu permasalahan terlebih dahulu,” jelasnya. Setelah berhasil mengidentifikasi suatu permasalahan, para siswa kemudian diajak untuk mengembangkan dan menyajikan alasan-alasan yang kuat guna mendukung gagasan mereka. “Kemudian mereka memberikan alasan dan menawarkan ajakan atau solusi yang bisa dilakukan bersama,” lanjut Assabaniyah.
Proses pembelajaran menjadi semakin interaktif dan menarik tatkala siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok menerima sebuah Kartu Misi yang berisikan skenario atau permasalahan spesifik. Kartu ini berfungsi sebagai pemicu bagi siswa untuk berkreasi dan mengembangkan gagasan mereka. “Setiap kelompok mendapatkan tantangan untuk menentukan bahasan sesuai dengan topik yang mereka peroleh,” ujar Assabaniyah.
Berdasarkan Kartu Misi yang diterima, para siswa kemudian terlibat dalam sesi diskusi aktif. Mereka saling bertukar pendapat, mempertimbangkan ide-ide dari teman sekelompok, sebelum akhirnya merumuskan pesan utama yang akan mereka sampaikan. “Setelah mendapatkan kartu misi, mereka berdiskusi untuk menentukan bahasan,” jelasnya. Hasil dari diskusi tersebut kemudian diwujudkan dalam format pidato mini. Para siswa menyusun kalimat-kalimat persuasif mengikuti struktur dan format yang telah dipersiapkan sebelumnya. “Kalimat-kalimatnya menarik dan memotivasi sesuai dengan misi masing-masing kelompok,” imbuh Assabaniyah.
Melalui kegiatan ini, proses literasi tidak hanya terpaku pada kemampuan memahami teks bacaan. Siswa juga diberikan peluang untuk memproses informasi, mengartikulasikan alasan-alasan, mendengarkan perspektif teman, dan mengintegrasikan beragam gagasan menjadi sebuah pesan yang koheren. Assabaniyah berpendapat bahwa pengalaman semacam ini memiliki nilai penting untuk membiasakan siswa dalam menyuarakan gagasan mereka dengan cara yang konstruktif dan positif. “Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya belajar berbicara di depan umum,” ujarnya. “Mereka juga belajar berpikir kritis, bekerja sama, menyampaikan alasan, serta mengajak orang lain melalui kata-kata yang positif dan meyakinkan,” sambungnya.
Pada akhirnya, Kelas Literasi ini berfungsi sebagai wadah pelatihan vital bagi siswa untuk menyadari bahwa esensi kekuatan komunikasi tidak sekadar terletak pada keberanian dalam berbicara. Lebih jauh lagi, sebuah gagasan akan benar-benar bermakna apabila mampu menyajikan alasan yang kuat, menawarkan solusi konkret, dan menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan.












