Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Humas Sekolah Perlu Aktif Menulis Berita: Kunci Publikasi Kegiatan dan Citra Positif

badge-check

Humas Sekolah Perlu Aktif Menulis Berita: Kunci Publikasi Kegiatan dan Citra Positif Perbesar

KlikMojok – Hendra Apriadi, M.Pd., baru-baru ini membagikan wawasan mengenai penulisan berita dalam acara Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) Malang 2026 pada Sabtu (10/10/2026). Dalam sesi tersebut, ditekankan bahwa sekolah dan madrasah memiliki urgensi untuk aktif mengkomunikasikan berbagai kegiatan serta capaian mereka melalui berita yang valid, ringkas, dan terstruktur. Peran humas sangat krusial sebagai jembatan informasi antara institusi pendidikan dan masyarakat luas. Sebanyak puluhan perwakilan humas dari berbagai sekolah dan madrasah di Jawa Timur berkumpul di Gondanglegi, Malang, untuk mendalami tantangan utama: bagaimana mentransformasi aktivitas rutin sekolah menjadi berita yang menarik dan relevan bagi publik.

Isu krusial ini dibahas secara mendalam dalam Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) Malang 2026. Acara tersebut diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah (MPI PP Muhammadiyah) di Aula Lantai 3 Gedung Madina, Pondok Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PPEM) Gondanglegi, Kabupaten Malang, berlangsung selama dua hari pada Sabtu hingga Ahad (10–11/10/2026).

Hendra Apriadi, M.Pd., yang merupakan salah satu pembicara dalam acara tersebut, menggarisbawahi bahwa mendokumentasikan berbagai kegiatan dan prestasi sekolah saja tidaklah memadai. Ia menegaskan pentingnya bagi tim humas untuk memproses dokumentasi tersebut menjadi informasi yang tidak hanya dapat diakses oleh masyarakat, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan kebenaran faktanya.

“Kegiatan yang baik mesti didokumentasikan, dan produk baik perlu diberitakan. Semua hal positif yang kita lakukan harus dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya,” tegas Hendra pada Sabtu siang.

Hendra sendiri dikenal sebagai seorang dosen di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Uhamka. Selain itu, ia juga aktif sebagai anggota Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah, dengan fokus pada bidang media dan kehumasan.

Menurut pandangan Hendra, peran humas merupakan representasi atau “wajah” utama sekolah di mata publik. Ia menambahkan bahwa metode sekolah dalam mengemas serta menyajikan informasi secara signifikan akan memengaruhi persepsi dan penilaian masyarakat terhadap institusi pendidikan tersebut.

Oleh karena itu, Hendra mendorong agar sekolah dan madrasah tidak pasif menunggu kedatangan media eksternal untuk meliput. Sebaliknya, humas diharapkan untuk proaktif dalam menulis dan menyebarkan informasi mengenai berbagai kegiatan, program, serta prestasi yang memiliki nilai berita.

Ia menekankan bahwa setiap pemberitaan yang berasal dari kontributor internal sekolah harus senantiasa didasarkan pada data yang valid dan terhindar dari informasi palsu atau hoaks. Lebih lanjut, sekolah tidak diizinkan untuk hanya berfokus pada pembangunan citra positif semata, terutama jika hal itu mengabaikan prinsip akurasi informasi.

Hendra berpendapat bahwa media di luar lingkungan sekolah mungkin tidak selalu memiliki informasi lengkap mengenai berbagai aktivitas positif yang telah dilaksanakan oleh sekolah atau madrasah.

“Karena itulah lembaga pendidikan perlu mampu mendokumentasikan sekaligus memberitakan kegiatannya sendiri,” pesan Hendra.

Pada sesi selanjutnya, Hendra memberikan panduan komprehensif mengenai tata cara penyusunan siaran pers yang efektif, yang nantinya dapat didistribusikan kepada berbagai media massa.

Penulis buku “Teknik Jurnalistik Dasar” ini kemudian merinci beberapa elemen krusial yang wajib diperhatikan dalam proses penulisan berita.

Pertama adalah judul berita atau headline, yang harus dibuat menarik, informatif, akurat mencerminkan isi berita, dan ditulis secara ringkas tanpa pemborosan kata.

Kedua adalah teras berita atau lead, yaitu bagian yang menampung unsur-unsur paling esensial dari suatu peristiwa, khususnya informasi tentang siapa (who), apa (what), kapan (when), dan di mana (where), yang umumnya ditempatkan pada paragraf pembuka.

Ketiga, tubuh berita atau body, yang menguraikan secara detail fakta-fakta, data, kronologi proses, serta dampak-dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang diberitakan.

Keempat, kutipan narasumber. Pernyataan langsung yang berasal dari sumber terverifikasi memiliki fungsi ganda, yaitu memperkuat validitas informasi sekaligus memberikan konteks yang lebih mendalam dalam sebuah berita.

Kelima, informasi kontak atau media contact. Hendra menyarankan agar siaran pers selalu menyertakan nama narahubung, nomor telepon, dan alamat surel resmi. Hal ini bertujuan untuk mempermudah redaksi media dalam melakukan proses verifikasi informasi.

Hendra menekankan bahwa pemahaman terhadap struktur-struktur tersebut sangat vital bagi para humas sekolah. Dengan demikian, naskah yang mereka kirimkan tidak hanya berbentuk laporan kegiatan biasa, melainkan sudah menyerupai format berita yang siap diproses oleh pihak redaksi media.

Selain mendalami struktur berita, para peserta pelatihan juga menerima pembekalan mengenai prinsip-prinsip penggunaan bahasa jurnalistik yang tepat.

Hendra menginstruksikan para peserta untuk senantiasa menggunakan kalimat yang aktif, ringkas, objektif, dan netral dalam penulisan. Ia secara khusus mengingatkan agar menghindari gaya penulisan yang bertele-tele, penggunaan kata sifat yang berlebihan, serta penyertaan opini pribadi dari penulis berita.

Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan frasa seperti “kegiatan yang sangat luar biasa sekali” yang dianggap tidak relevan dan tidak diperlukan dalam penulisan berita.

Menurut pandangan Hendra, sebuah berita haruslah berlandaskan pada fakta yang konkret. Ia menambahkan bahwa evaluasi atau penilaian terhadap suatu kegiatan sebaiknya bersumber dari narasumber yang kredibel atau data yang dapat diverifikasi, bukan dari interpretasi atau opini penulis sendiri.

Proses penyuntingan (editing) juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Tim humas diwajibkan untuk meninjau kembali nilai berita, memeriksa ejaan, memilih kata yang tepat, serta memastikan struktur kalimat sudah benar sebelum naskah tersebut dikirimkan atau dipublikasikan.

Melalui penguasaan kemampuan ini, sekolah dan madrasah diharapkan dapat memproduksi berita yang tidak hanya lebih informatif tetapi juga mudah dicerna dan dipahami oleh para pembaca.

Hendra selanjutnya mengajak seluruh peserta untuk kembali meninjau fondasi dasar dalam penulisan berita, yaitu formula 5W+1H.

Menurut penjelasannya, formula 5W+1H ini sangat efektif dalam membantu tim humas mentransformasi laporan kegiatan menjadi sebuah berita yang siap didistribusikan melalui berbagai platform, baik itu media cetak, media daring, siaran radio/televisi, maupun media sosial.

“Penulisan sebuah berita sekolah jangan bertele-tele. Harus mengikuti kaidah 5W+1H,” ucap Hendra menegaskan.

Dengan menguasai teknik-teknik dasar jurnalistik ini, sekolah dan madrasah tidak lagi harus selalu bergantung atau menjadi sekadar objek pemberitaan dari pihak luar. Sebaliknya, humas dapat mengambil peran proaktif dalam mengabarkan berbagai kegiatan dan capaian institusi mereka kepada masyarakat luas.

“Struktur ini menjadi fondasi utama agar laporan kegiatan sekolah dapat dikonversi menjadi produk jurnalistik yang bernilai berita sebelum didistribusikan ke media massa,” pungkas Hendra.

Artikel ini ditulis oleh Jurnalis Rizka Sri Wulandari dan disunting oleh Mohammad Nurfatoni.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Awan Tak Berarti Sejuk: Memahami Prakiraan Cuaca Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

13 Okt 2026 - 09:46 WIB

Ketika Awan Tak Berarti Sejuk: Memahami Prakiraan Cuaca Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

Ketika Langit Berbisik: Memahami Prakiraan Cuaca Malang dan Kota Batu 13 Oktober 2026

13 Okt 2026 - 09:44 WIB

Ketika Langit Berbisik: Memahami Prakiraan Cuaca Malang dan Kota Batu 13 Oktober 2026

Kunci Hindari ‘Neraka Digital’: Ilmu, Etika, dan Tabayun untuk Keluarga

13 Okt 2026 - 09:43 WIB

Kunci Hindari ‘Neraka Digital’: Ilmu, Etika, dan Tabayun untuk Keluarga

Ketika Konsentrasi Luntur di Tuban: Sebuah Pelajaran Mahal dari Jalur Bancar yang Memakan Korban dan Rumah

13 Okt 2026 - 06:12 WIB

Ketika Konsentrasi Luntur di Tuban: Sebuah Pelajaran Mahal dari Jalur Bancar yang Memakan Korban dan Rumah

Ketika Senja Berkalang Duka: Aroma Busuk di Kebun Jagung Jombang Mengakhiri Penantian Lansia yang Hilang

13 Okt 2026 - 06:12 WIB

Ketika Senja Berkalang Duka: Aroma Busuk di Kebun Jagung Jombang Mengakhiri Penantian Lansia yang Hilang
Trending di Pendidikan