KlikMojok – Dini hari Minggu (11/10) di Ujungpangkah, Gresik, seharusnya menjadi selimut ketenangan. Namun, di antara hamparan sawah yang masih gelap, nyala merah jingga tiba-tiba memecah kesunyian, melahap sebuah warung kecil hingga rata dengan tanah. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik, sebuah ancaman senyap yang kerap merenggut tak hanya harta benda, tetapi juga impian. Peristiwa kebakaran warung ini menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan sebuah usaha dan vitalnya kewaspadaan dini.
Saksi mata pertama, seorang warga bernama Iwan, tak tinggal diam. Dengan keberanian yang patut diacungi jempol, ia berupaya memadamkan api yang baru saja bergejolak. Namun, di tengah keterbatasan sumber air dan amukan api yang cepat membesar, usahanya tak membuahkan hasil. Kobaran api yang kian beringas mulai memicu kepanikan warga sekitar. Mereka tahu, ini bukan lagi pertarungan satu lawan satu, melainkan panggilan darurat yang harus segera disampaikan kepada para pahlawan pemadam kebakaran. Kontak pun segera diarahkan ke pos Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kecamatan Dukun.
Laporan darurat itu tiba di Pos Damkar Dukun sekitar pukul 01.30 WIB, memecah hening dini hari para petugas piket. Tanpa menunda sedetik pun, hanya dalam waktu satu menit, tim penyelamat dengan sigap meluncur menuju lokasi. Dengan perlengkapan keselamatan yang mumpuni dan strategi pemadaman yang terukur, mereka berjibaku melawan si jago merah. Dua jam perjuangan tanpa henti membuahkan hasil: api berhasil dijinakkan, dan situasi dinyatakan kondusif. Ini bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga tentang respon cepat dan koordinasi yang efektif, sebuah pelajaran berharga dalam mitigasi bencana.
“Ada lima personel serta satu unit mobil damkar dan 10 unit mobil suplai air yang dikerahkan dalam penanganan tersebut,” terang Fathoni, personel piket Damkar Gresik, menggarisbawahi skala pengerahan sumber daya yang dibutuhkan. Kolaborasi juga tampak dari keterlibatan sejumlah anggota Polsek Sidayu, menunjukkan sinergi antarlembaga dalam menghadapi situasi darurat.
Lebih lanjut, Fathoni menguatkan dugaan penyebab kebakaran. “Penyebab api yang melalap bangunan warung hingga ludes diduga konsleting listrik,” ujarnya, merujuk pada kesaksian warga yang melihat percikan api sesaat sebelum kobaran membesar. Meskipun tidak ada korban jiwa, sebuah kabar baik di tengah musibah, kerugian materiil diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Angka ini mungkin hanya sekadar deretan digit, namun di baliknya ada perjuangan, keringat, dan harapan yang kini ikut hangus bersama warung tersebut.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan berita tentang kebakaran warung di Ujungpangkah. Ia adalah cermin tentang pentingnya edukasi dan kesadaran akan bahaya korsleting listrik yang seringkali dianggap remeh. Setiap percikan api kecil bisa menjadi awal dari kehancuran besar, mengingatkan kita untuk selalu memeriksa instalasi listrik, memiliki alat pemadam api ringan, dan mengetahui jalur evakuasi. Dari puing-puing yang tersisa, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik, sebuah pengingat bahwa keselamatan adalah investasi tak ternilai bagi setiap individu dan komunitas.












