KlikMojok – Ratusan siswa SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik memenuhi studio CGV Icon Mall Gresik pada Rabu, 7 Oktober 2026, untuk mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film ‘Jangan Buang Ibu’. Layar lebar bioskop ini bertransformasi menjadi ruang kelas yang tidak biasa, mengajak para siswa untuk menyelami kembali makna mendalam dari kasih sayang, pengorbanan, serta pentingnya bakti kepada orang tua.
Dalam sebuah inisiatif yang berbeda, layar lebar di CGV Icon Mall Gresik benar-benar menjadi medium pembelajaran alternatif bagi siswa Smamsatu Gresik. Pada hari itu, Rabu (7/10/2026), sebanyak 336 siswa tidak berhadapan dengan buku pelajaran di ruang kelas seperti biasa. Sebaliknya, mereka berkesempatan duduk bersama di dalam kegelapan bioskop, mendalami kisah menyentuh tentang pengorbanan seorang ibu melalui film ‘Jangan Buang Ibu’.
Film drama keluarga garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu ini mengangkat tema yang sangat relevan dan dekat dengan kehidupan para siswa, yakni mengenai pengorbanan seorang ibu. Melalui alur cerita yang berpusat pada tokoh Ristiana, para siswa diajak untuk meninjau ulang bentuk-bentuk kasih sayang yang kerap hadir secara diam-diam namun memiliki makna yang mendalam.
Lebih dari itu, kisah dalam film ini turut membimbing mereka untuk memahami esensi keluarga melalui narasi yang secara bertahap mampu mengaduk emosi penonton. Kegiatan nonton film ini terlaksana atas rekomendasi dari Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik.
Namun, pengalaman yang didapatkan para siswa di dalam studio bioskop ini ternyata jauh melampaui sekadar agenda sekolah biasa. Layar putih yang memproyeksikan film tersebut justru berfungsi sebagai cermin refleksi.
Melalui cermin tersebut, para siswa disuguhkan gambaran tentang dinamika sebuah keluarga saat kesibukan mulai menumbuhkan jarak antaranggota. Mereka juga menyaksikan betapa besar pengorbanan seorang ibu, di mana kasih sayangnya tetap teguh bertahan, meskipun seringkali balasan yang diharapkan tidak selalu datang.
Oleh karena itu, dari awal hingga akhir film, perhatian para siswa tak sedikit pun teralihkan dari perjalanan hidup Ristiana. Sesekali, tawa ringan terdengar mengisi ruangan, namun suasana segera berubah menjadi hening dan khidmat ketika cerita mulai memasuki adegan-adegan yang lebih mengharukan.
Dalam film tersebut, karakter Ristiana, yang diperankan oleh aktris Nirina Zubir, digambarkan sebagai seorang ibu tunggal. Ia berjuang seorang diri membesarkan ketiga anaknya, Tama, Dewi, dan Tria, setelah kepergian suaminya.
Situasi sulit ini tidak lantas membuat Ristiana menyerah dalam perjuangan hidupnya. Justru sebaliknya, ia gigih mencari berbagai cara untuk dapat memenuhi segala kebutuhan keluarganya.
Dengan tekun, ia berjualan donat, dan kemudian bekerja sebagai petugas kebersihan demi memastikan pendidikan anak-anaknya tetap terjamin. Di tengah semua itu, Ristiana juga harus memikul beban utang besar yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya.
Meskipun berbagai tekanan hidup terus menerpa, Ristiana tak pernah goyah dalam menempatkan masa depan anak-anaknya sebagai prioritas utama.
Namun, seiring berjalannya waktu, banyak hal berubah. Ketiga anaknya beranjak dewasa dan mulai meniti jalan hidup mereka masing-masing.
Kesibukan yang kian meningkat secara perlahan mengikis ruang kebersamaan yang dulu mereka miliki. Ditambah lagi, persoalan ekonomi turut memperlebar jarak antara Ristiana dan anak-anaknya.
Kesalahpahaman yang terjadi kemudian semakin memperkeruh dan merenggangkan hubungan keluarga mereka. Puncaknya, Ristiana harus menjalani masa tuanya di sebuah panti jompo.
Dari sinilah film tersebut secara implisit mengajukan sebuah pertanyaan yang tampak sederhana, namun terasa sangat dalam: Seberapa seringkah seorang anak benar-benar mengingat dan menghargai perjuangan ibunya, terutama setelah kehidupan mereka mulai berjalan dengan cepat?
Pertanyaan reflektif itu pula yang membuat para siswa memandang layar bioskop dengan tingkat perhatian yang berbeda. Mereka tidak sekadar mengikuti alur cerita yang disajikan, melainkan mulai menghubungkan kisah fiksi tersebut dengan realitas kehidupan pribadi mereka.
Hal ini karena sosok ibu yang digambarkan dalam film terasa begitu dekat dengan keseharian mereka. Ada wujud kasih sayang yang selalu hadir setiap hari, dan ada pula pengorbanan-pengorbanan yang kerap luput dari perhatian.
Saat cerita mencapai bagian paling emosional, suasana di dalam bioskop turut berubah drastis. Tawa-tawa ringan yang sebelumnya terdengar perlahan sirna, digantikan oleh keheningan yang menyelimuti.
Beberapa siswa terlihat terdiam, larut dalam perjalanan hidup Ristiana. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang menitikkan air mata, terutama saat adegan Ristiana menjalani hari-hari sepi di panti jompo sambil merindukan kehadiran anak-anaknya.
Kendati demikian, kesedihan bukanlah satu-satunya emosi yang terpancar dari para siswa. Mereka juga merasakan kekesalan terhadap beberapa karakter, perasaan haru, dan sesekali kembali diselingi tawa. Dengan demikian, film ini berhasil menghadirkan pengalaman emosional yang sangat utuh dan beragam.
Lelayta Navisa Bella, S.Pd., salah satu guru pendamping yang hadir, turut mencermati dengan saksama perubahan emosi yang ditunjukkan oleh para siswa selama pemutaran film. Menurutnya, layar bioskop tersebut seolah-olah memantulkan beragam perasaan yang dialami oleh anak didiknya.
Ia mengungkapkan, “Ada satu adegan yang membuat mereka menangis. Ada pula adegan yang membuat mereka menunjukkan mimik kesal. Di sisi lain, gelak tawa juga beberapa kali terdengar di dalam studio.”
Melalui kisah Ristiana, para siswa menyadari bahwa sebuah keluarga tidak selalu berjalan dalam kondisi yang ideal. Di dalamnya, terdapat perbedaan pendapat, kesibukan masing-masing, persoalan ekonomi, hingga kesalahpahaman yang mungkin timbul.
Meskipun demikian, mereka juga memahami bahwa hubungan keluarga senantiasa membutuhkan perhatian dan upaya untuk terus dipelihara. Terlebih lagi, kasih sayang sejati seharusnya tidak baru muncul atau disadari ketika seseorang telah mengalami kehilangan.
Bagi sebagian besar siswa, pesan moral yang terkandung dalam film ini menjadi inti terpenting dari kegiatan yang mereka ikuti hari itu. Mereka tidak hanya melihat kehidupan Ristiana sebagai sebuah cerita fiksi belaka.
Justru sebaliknya, mereka menganggap kisah tersebut sebagai sebuah pengingat kuat tentang peran penting orang-orang terkasih yang senantiasa hadir dalam kehidupan mereka. Di balik setiap pencapaian seorang anak, seringkali tersimpan perjuangan orang tua yang tak terlihat dan tak terhingga.
Perjuangan itu meliputi waktu yang dikorbankan, tenaga yang tak kenal lelah dikeluarkan, serta doa-doa tulus yang tak henti-hentinya mengiringi setiap langkah anak-anaknya.
Oleh karena itu, pengalaman menonton film bersama ini terasa seperti sebuah pelajaran berharga yang mampu menyentuh baik pikiran maupun hati. Proses pembelajaran ini pun tidak berhenti begitu saja saat lampu bioskop kembali menyala terang.
Bahkan setelah film berakhir, suasana haru masih menyelimuti para siswa. Kisah Ristiana seolah-olah belum sepenuhnya meninggalkan benak dan hati mereka di dalam ruangan.
Beberapa siswa bahkan membawa pulang pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai hubungan mereka dengan orang tua. Mereka mengakui bahwa perasaan rindu kepada ibu mereka seketika muncul setelah menyaksikan film tersebut.
Di samping itu, keinginan untuk lebih menghargai dan menyayangi orang tua dalam kehidupan sehari-hari juga menguat dalam diri mereka. Keinginan yang tulus ini menjadi pesan penting yang ingin disampaikan melalui kegiatan nonton bareng Smamsatu Gresik ini.
Sebab, pendidikan sejatinya tidak selalu hanya bersumber dari buku-buku pelajaran atau penjelasan para guru. Terkadang, sebuah cerita yang disajikan secara visual mampu membuka ruang renungan yang jauh lebih dalam dan bermakna.
Melalui film ‘Jangan Buang Ibu’, para siswa Smamsatu Gresik memperoleh pelajaran berharga tentang makna keluarga dengan cara yang unik. Mereka menyadari bahwa kesibukan dalam menjalani aktivitas sehari-hari tidak seharusnya menghilangkan perhatian dan kasih sayang terhadap orang tua.
Para siswa juga memahami bahwa wujud bakti kepada orang tua tidak selalu harus berupa hal-hal besar yang luar biasa. Cukup dengan hadir ketika ibu membutuhkan seorang teman berbagi cerita, itu sudah menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti.
Mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian pun sudah dapat menjadi wujud kepedulian yang bermakna. Begitu pula dengan menyapa, menanyakan kabar, atau sekadar meluangkan waktu untuk kebersamaan. Pada intinya, film ini meninggalkan satu pesan yang sangat sederhana namun kuat: Jangan pernah menunggu kehilangan untuk akhirnya memahami nilai sejati dari keberadaan orang yang kita sayangi.












