KlikMojok – Pada Senin, 21 September 2026, Kantor Lazismu Lumajang yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 64, Jogoyudan, menjadi saksi sebuah rapat evaluasi rutin yang membahas makna kesuksesan amil Lazismu dari perspektif yang lebih mendalam. Pertemuan ini tidak hanya berfokus pada capaian duniawi, melainkan juga menekankan bahwa keberhasilan sejati terukur dari amalan yang mampu menjadi bekal kehidupan akhirat.
Secara rutin setiap Senin pagi, lokasi tersebut memang menjadi pusat evaluasi bagi seluruh amil Lazismu Lumajang. Di sinilah mereka meninjau dan merencanakan kembali berbagai program serta kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan.
Namun, rapat pada Senin, 21 September 2026, terasa istimewa dengan nuansa yang berbeda dari biasanya.
Drs. Djatto, M.M., selaku Ketua Badan Pengurus Lazismu Lumajang, hadir untuk memberikan arahan dan penguatan moral kepada jajaran eksekutif.
Fokus arahannya melampaui sekadar laporan capaian kerja; ia juga mengingatkan kembali esensi perjuangan dalam melayani umat.
Dalam kesempatan tersebut, Djatto menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan tim. Ia menyatakan, “Alhamdulillah, kita semua kompak. Kinerja kita sangat ditentukan oleh eksekutif yang memiliki personel yang kompak dan solid. Ini yang harus terus kita jaga.”
Menurut Djatto, mempertahankan kekompakan dalam sebuah organisasi merupakan tantangan tersendiri. Menyatukan berbagai visi dan misi demi sebuah perjuangan memerlukan komitmen tinggi, kesungguhan hati, serta kesediaan untuk terus melangkah bersama.
Ia menambahkan bahwa secara umum, “Lazismu Lumajang kalau kita lihat sudah sangat kompak. Oleh karena itu, teruslah semangat bermujahadah dan jangan merasa puas dengan apa yang sudah kita capai,” ujarnya.
Djatto juga menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas. Ia mengingatkan para amil untuk senantiasa mengembangkan ide-ide baru yang relevan dengan kebutuhan pelayanan masyarakat.
Sebab, menurutnya, kemajuan sebuah lembaga tidak bisa hanya bergantung pada capaian di masa lalu, melainkan harus terus direspons dengan gagasan segar dan implementasi kerja yang nyata.
Pada kesempatan yang sama, Djatto mengajak seluruh amil untuk merenungkan kembali makna kesuksesan, khususnya dari sudut pandang ajaran Islam.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang cenderung mengukur keberhasilan hanya dari aspek materi, posisi, atau pencapaian duniawi semata. Padahal, tolak ukur keberhasilan yang hakiki adalah ketika setiap tindakan yang dilakukan dapat menjadi bekal berharga untuk kehidupan di akhirat kelak.
Untuk memperkuat pandangannya, Djatto mengutip firman Allah Swt. dalam surah Al-Qashash ayat 77: “وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ”. Ia kemudian menerjemahkan ayat tersebut: “Carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Djatto menjelaskan bahwa manusia kerap melakukan kekeliruan dengan menempatkan dunia sebagai satu-satunya tujuan utama dalam hidup.
Ia menegaskan, “Orang kalau melihat kesuksesan biasanya hanya melihat dari sisi keberhasilan materi yang dimiliki. Padahal kalau orientasinya hanya pada gemerlap dunia, tentu manusia akan mudah diseret oleh setan dan hawa nafsu. Akhirnya kehidupannya tidak mencapai ketenangan dan kebahagiaan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Djatto menekankan bahwa seorang muslim wajib menjadikan akhirat sebagai orientasi utama, termasuk saat mengemban amanah sebagai amil Lazismu.
Djatto menambahkan, “Kalau orientasinya untuk ibadah, maka dunia ini akan Allah penuhi. Apalagi kita berada dalam perjuangan melayani umat. Apa yang kita lakukan mungkin terasa biasa, tetapi manfaatnya dirasakan masyarakat luas,” tegasnya.
Bagi Drs. Djatto, setiap aktivitas yang dilakukan seorang amil, mulai dari berangkat menuju kantor, berinteraksi dengan donatur, merancang program, hingga menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, semuanya memiliki nilai ibadah asalkan dilandasi niat tulus karena Allah Swt.
Ia melanjutkan, “Setiap langkah yang kita lakukan, dari rumah ke kantor, dari kantor bertemu donatur, semuanya bisa bernilai ibadah. Kalau itu terus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan semakin mencintai pekerjaan ini dan semakin baik dalam menjalankan amanah,” tuturnya.
Djatto juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Manusia memang harus tetap bekerja keras, berusaha optimal, dan memberikan yang terbaik, namun tidak boleh sekalipun melupakan tujuan akhir dari keberadaan hidup ini.
Ia kemudian mengutip, “Dunia itu hanya sementara. Nikmat dunia sangat sedikit dibandingkan kehidupan akhirat. Namun terkadang kita belum memahami dan menghayati hal itu. Semua membutuhkan ilmu,” katanya.
Sebagai penguat, Djatto juga mengingatkan firman Allah Swt. dalam surah Al-An’am ayat 32: “وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ”. Ayat tersebut diterjemahkan sebagai: “Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”
Ia menjelaskan bahwa pesan tersebut bukan berarti manusia harus meninggalkan kehidupan dunia. Justru sebaliknya, dunia harus dijalani dengan sebaik-baiknya, namun dengan orientasi untuk meraih keberkahan dan ridha Allah Swt.
Djatto mengakhiri arahannya dengan mengajak seluruh amil untuk senantiasa memohon keseimbangan dalam menjalani hidup, baik di dunia maupun akhirat, melalui doa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 201: “رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ”. Doa tersebut berarti: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.”
Dengan demikian, rapat evaluasi rutin Lazismu Lumajang tidak hanya berfungsi sebagai forum untuk membahas pekerjaan dan capaian program semata.
Lebih jauh, pertemuan tersebut bertransformasi menjadi ruang penting untuk meneguhkan kembali niat perjuangan para amil. Bagi mereka, melayani umat bukanlah sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan sebuah jalan pengabdian mulia yang diharapkan menjadi ladang amal kebaikan di dunia dan bekal berharga untuk kehidupan akhirat.












