Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Buku ‘Jejak Amil’ Karya Yekti Pitoyo: Inspirasi Jurnalistik Filantropi dan Bantuan Sosial

badge-check

Buku ‘Jejak Amil’ Karya Yekti Pitoyo: Inspirasi Jurnalistik Filantropi dan Bantuan Sosial Perbesar

KlikMojok – Seorang penulis bernama Yekti Pitoyo terlihat sedang berbincang dengan pengunjung yang berasal dari Lazismu Magelang. Interaksi ini terjadi di stan Lazismu Jawa Timur, di mana pengunjung tersebut baru saja membeli bukunya yang berjudul “Jejak Amil”. Momen tersebut berlangsung dalam pameran Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang diselenggarakan di halaman Hotel Dafam Semarang, Jawa Tengah, pada hari Jumat, 6 November 2026.

Pada gelaran Muhammadiyah Zakat Summit, Yekti Pitoyo, sang penulis buku “Jejak Amil”, memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para pembaca karyanya. Para pembaca tersebut datang dari berbagai wilayah di Indonesia, menunjukkan jangkauan luas dari buku yang baru diterbitkan ini. Menariknya, Yekti Pitoyo juga berkomitmen untuk menyumbangkan sebagian dari keuntungan penjualan buku “Jejak Amil” untuk tujuan sosial. Dana tersebut akan dialokasikan untuk menyediakan susu serta seragam sekolah bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Kisah inspiratif yang menjadi bagian dari buku ini salah satunya adalah pengalaman Muhammad Amjad Amir. Pada Jumat, 14 November 2025, Muhammad Amjad Amir yang saat itu berusia tujuh tahun, tampak sedikit malu-malu ketika pertama kali mencoba sepatu ortopedinya. Sepatu khusus tersebut dilengkapi dengan penyangga besi. Begitu ia berdiri dengan mengenakan sepatu tersebut, postur tubuh anak yang berasal dari Candi, Sidoarjo ini terlihat menjadi lebih tegak dan stabil.

Hampir satu tahun setelah peristiwa tersebut, Yekti Pitoyo kemudian membukukan kisah Muhammad Amjad Amir dan membawanya ke Semarang. Kisah ini menjadi salah satu bagian penting dalam bukunya yang berjudul “Jejak Amil: Catatan Jurnalistik Filantropi”. Buku yang baru saja diterbitkan ini diperkenalkan secara resmi oleh Yekti Pitoyo di stan Lazismu Jawa Timur, dalam rangkaian pameran Muhammadiyah Zakat Summit 2026.

Pada hari Jumat, 7 November 2026, di halaman Hotel Dafam Semarang, Yekti Pitoyo terlihat sibuk membubuhkan tanda tangan. Ia memberikan tanda tangan pada buku-buku yang telah dibeli oleh para pengunjung pameran tersebut.

Salah satu pembeli yang antusias adalah Bonnie Febrian, seorang amil dari Lazismu Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Bonnie mengungkapkan bahwa ia telah lama mengikuti tulisan-tulisan Yekti Pitoyo. Ia rutin membaca karya-karya Yekti melalui situs web dan grup WhatsApp.

Bonnie Febrian secara langsung menyampaikan, “Mbak Yekti panutan saya untuk belajar.” Lebih lanjut, ia juga menyatakan harapannya agar catatan-catatan yang ditulis oleh Yekti dapat memberikan semangat baru. Semangat ini diharapkan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi rekan-rekan amil lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Selain itu, Bonnie juga melihat tulisan Yekti sebagai bentuk penghargaan yang layak bagi seluruh pegiat zakat atas dedikasi mereka.

Yekti Pitoyo tidak hanya bertemu dengan Bonnie Febrian, tetapi juga mencatat kehadiran sejumlah tokoh penting lainnya. Di antaranya adalah Silfia dari Lazismu serta Regnal Falah, yang menjabat sebagai Ketua Lazismu Surakarta. Pameran buku ini sendiri merupakan bagian integral dari rangkaian acara Muhammadiyah Zakat Summit yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 8 November 2026, dengan pameran spesifik dijadwalkan pada 5–7 November 2026.

Kisah Muhammad Amjad Amir ini sebelumnya pernah dimuat dalam sebuah liputan yang diterbitkan di Tagar.co pada tanggal 6 Agustus 2025. Dalam liputan tersebut, Yekti Pitoyo secara detail menggambarkan keseharian Amir saat berada di TK Aisyiyah 5 Kedungpeluk. Mahmudah, ibu Amir, diceritakan sering menggendong putranya menuju sekolah. Ketika berada di dalam kelas, Amir aktif berpartisipasi meronce manik-manik bersama teman-temannya. Namun, saat waktu istirahat tiba dan teman-temannya berlarian keluar, Amir harus bergerak dengan cara merangkak.

Setelah liputan mengenai Amir tersebut diterbitkan, respons positif datang dari berbagai pihak. Sejumlah pembaca segera menghubungi Yekti Pitoyo untuk menyatakan keinginan mereka dalam menawarkan bantuan. Salah satu bentuk bantuan konkret datang dari Pimpinan Ranting Aisyiyah Larangan, yang memberikan kursi roda serta santunan pendidikan kepada Amir.

Lazismu Sidoarjo juga turut berperan aktif dalam pendampingan Amir. Mereka mendampingi Amir untuk menjalani berbagai pemeriksaan dan sesi terapi yang diperlukan. Dokter spesialis rehabilitasi medik dari RS Siti Khodijah, dr. Anang Silahudin, memberikan rekomendasi penting. Dokter tersebut menyarankan penggunaan sepatu ortopedi sebagai alat bantu bagi Amir untuk berlatih berdiri dan berjalan.

Sebelum akhirnya mencoba sepatu ortopedi tersebut, Amir telah menjalani serangkaian perawatan intensif. Ia telah menuntaskan sebelas sesi fisioterapi di Klinik Fisioterapi Umsida. Selain itu, Amir juga mendapatkan terapi okupasi di RS Siti Khodijah. Di lingkungan rumah, Mahmudah, sang ibu, mulai mengamati perkembangan positif pada putranya. Ia melihat Amir kini mampu berdiri untuk durasi waktu yang lebih lama.

Mahmudah, dalam catatan yang dibuat oleh Yekti, mengungkapkan perasaannya. Ia berkata, “Dulu Amir berdiri sebentar saja sudah jatuh. Sekarang saya lihat dia mulai kuat… mulai berani.”

Buku “Jejak Amil” yang diterbitkan oleh Kanzun Books ini merupakan kompilasi catatan Yekti Pitoyo. Kumpulan tulisan ini menggambarkan pengalamannya sebagai seorang jurnalis sekaligus amil di Lazismu Sidoarjo, yang terbagi dalam enam bab. Bab pembuka, yang berjudul “Amil Naik Level”, secara khusus membahas mengenai pengembangan kemampuan para amil. Pembahasan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pemanfaatan data hingga peluang bagi amil untuk melanjutkan studi.

Salah satu tulisan menarik dalam bab ini mengisahkan pengalaman Yekti sendiri. Ia menerima kabar mengenai penghargaan “Amil Berprogres” tepat saat dirinya sedang melakukan rekapitulasi hasil survei dampak zakat.

Bab berikutnya, “Fundraising”, mengulas berbagai metode yang digunakan untuk menghimpun dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Metode-metode tersebut bervariasi, mulai dari penggunaan kotak infak, jalinan kerja sama dengan masjid, hingga praktik infak nontunai. Salah satu liputan yang menonjol dalam bab ini adalah peluncuran “Giswa Muda”, sebuah gerakan infak inovatif yang mendapatkan dukungan penuh dari 39 kepala sekolah Muhammadiyah di Sidoarjo. Pada acara peluncuran gerakan ini, sebagian siswa secara langsung memasukkan uang infak mereka ke dalam celengan. Sementara itu, siswa lainnya memilih untuk berinfak dengan cara memindai kode QRIS, menunjukkan adaptasi terhadap metode pembayaran digital.

Selanjutnya, bab “Manajemen ZIS” berfokus pada pembahasan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara menyeluruh. Yekti Pitoyo menguraikan praktik-praktik terbaik, termasuk pentingnya pencatatan digital dan metode pengukuran hasil program yang efektif. Sebagai ilustrasi, buku ini menyoroti contoh dari Bankziska Ponorogo. Lembaga ini dikenal karena menawarkan pinjaman tanpa bunga kepada para pedagang kecil. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan solusi finansial yang etis, sehingga para pedagang dapat terbebas dari jerat rentenir.

Bab “Pemberdayaan Masyarakat” dalam buku ini menyoroti berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas. Program-program tersebut mencakup pemberdayaan yang berbasis pada masjid, serta dukungan komprehensif bagi usaha-usaha kecil. Sebagai contoh konkret, Yekti Pitoyo mencatat sebuah program yang dilaksanakan di Sidoarjo. Program ini memberikan modal usaha, peralatan yang dibutuhkan, serta pendampingan intensif kepada 40 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pembahasan mengenai “Kurban dan Ketahanan Pangan” terdapat dalam bab khusus. Bab ini mengulas secara detail tentang bagaimana cara menghimpun hewan kurban, proses pengolahan dagingnya, hingga mekanisme penyalurannya kepada masyarakat. Salah satu inovasi yang disoroti adalah rendang kemasan. Produk ini menjadi contoh efektif bagaimana daging kurban dapat disimpan untuk jangka waktu yang lebih lama. Dengan demikian, daging kurban tidak hanya dapat dibagikan pada hari raya Idul Adha, tetapi juga di luar momen tersebut, menjamin ketahanan pangan.

Bab penutup, yang berjudul “Berkah bagi Umat”, menghimpun beragam kisah inspiratif dari berbagai layanan filantropi. Layanan-layanan tersebut mencakup program perbaikan rumah, pemberian bantuan kepada korban bencana, serta inisiatif pendampingan kesehatan. Rangkaian liputan mengenai Muhammad Amjad Amir yang disebutkan sebelumnya merupakan bagian integral dari bab ini. Selain itu, terdapat pula kisah Karmini, seorang perempuan tangguh dari Bantul, yang mencatat sejarah sebagai orang pertama yang mengemudikan ambulans di tengah masa pandemi Covid-19.

Yekti Pitoyo secara eksplisit menyatakan harapannya terhadap buku “Jejak Amil”. Ia berharap buku ini dapat menjadi pendorong bagi sesama amil zakat untuk mengikuti jejaknya. Harapan tersebut adalah agar para amil juga tergerak untuk menulis dan mendokumentasikan berbagai kegiatan filantropi yang mereka selenggarakan. Yekti Pitoyo sendiri menamai praktik penulisan semacam ini sebagai “jurnalistik filantropi”.

Pada Jumat siang, Yekti menjelaskan asal mula karyanya, “Buku ini lahir dari serangkaian kisah dan rekaman peristiwa yang ditulis selama menapaki pengabdian sebagai amil Lazismu Sidoarjo.” Ia juga menambahkan bahwa tulisan-tulisannya yang sebelumnya telah dimuat di Tagar.co terbukti mampu menggerakkan para pembaca. Respons tersebut berupa keinginan pembaca untuk turut serta dalam memberikan bantuan.

Menurut pandangan Yekti, tulisan-tulisan yang dibuat oleh para amil memiliki peran krusial. Karya tulis tersebut dapat membantu masyarakat luas untuk memahami secara transparan bagaimana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dikelola. Selain itu, tulisan ini juga menjelaskan manfaat konkret yang diperoleh warga dari pengelolaan dana tersebut. Yekti Pitoyo menganggap bahwa keterbukaan informasi semacam ini adalah elemen penting dalam pertanggungjawaban lembaga zakat kepada publik.

Yekti lebih lanjut menjelaskan bahwa, “Kepercayaan donatur yang tumbuh dari keterbukaan tersebut, menurutnya, dapat memperkuat penghimpunan dana.”

Salah satu aspek yang sangat menarik dari inisiatif Yekti Pitoyo adalah komitmennya terhadap dampak sosial. Ia mengungkapkan bahwa sebagian dari laba penjualan bukunya akan dialokasikan untuk tujuan filantropi. Dana tersebut akan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi serta mendukung pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu.

Yekti menegaskan kembali tujuan mulia ini dengan menyatakan, “Sebagian keuntungan penjualan buku disumbangkan untuk bantuan susu bagi anak yang mengalami gizi buruk serta seragam sekolah bagi anak-anak di desa terpencil.”

Buku “Jejak Amil” saat ini ditawarkan dengan sistem prapesan (pre-order) seharga Rp75.000 per eksemplar. Bagi pembaca yang berminat untuk memiliki buku ini, pemesanan dapat dilakukan dengan menghubungi nomor WhatsApp 0821-4004-1912.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kuswantoro, Jurnalis Tagar.co Lumajang Raih Amil Lazismu Terbaik Nasional Berkat Kontribusi Tulisan Inspiratif

6 Nov 2026 - 21:03 WIB

Kuswantoro, Jurnalis Tagar.co Lumajang Raih Amil Lazismu Terbaik Nasional Berkat Kontribusi Tulisan Inspiratif

Oase di Tengah Kemarau: Pelajaran Gotong Royong dari Bantuan Air Bersih Imigrasi dan BPBD di Ponorogo

6 Nov 2026 - 18:46 WIB

Oase di Tengah Kemarau: Pelajaran Gotong Royong dari Bantuan Air Bersih Imigrasi dan BPBD di Ponorogo

Mimpi yang Terenggut di Jalan Janti: Tragedi Tabrak Lari Pelajar di Jombang

6 Nov 2026 - 18:45 WIB

Mimpi yang Terenggut di Jalan Janti: Tragedi Tabrak Lari Pelajar di Jombang

Inovasi Digital Smutu Sumenep: Kembangkan Platform ‘Sinau’ Mandiri untuk Kelola Kelas Daring TKA

6 Nov 2026 - 18:45 WIB

Inovasi Digital Smutu Sumenep: Kembangkan Platform ‘Sinau’ Mandiri untuk Kelola Kelas Daring TKA

Lazismu Jawa Timur Raih 9 Penghargaan Nasional: Bank Ziska Unggul dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

6 Nov 2026 - 18:44 WIB

Lazismu Jawa Timur Raih 9 Penghargaan Nasional: Bank Ziska Unggul dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Trending di Pendidikan