Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Ketika Laut Memuntahkan Beban: Kisah Nelayan Sumenep Terjebak Ratusan Kayu Gelondongan

badge-check

Ketika Laut Memuntahkan Beban: Kisah Nelayan Sumenep Terjebak Ratusan Kayu Gelondongan Perbesar

KlikMojok – Pagi di pesisir Sumenep, yang seharusnya diwarnai debur ombak dan geliat jaring yang siap ditebar, kini diselimuti pemandangan pilu. Ratusan kayu gelondongan berukuran besar, bak raksasa yang terdampar dari dasar laut, berserakan di sepanjang garis pantai Desa Bicabbi, Desa Romben Guna, dan Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Selama lima hari terakhir, beban tak terduga ini bukan hanya mengubah lanskap pesisir, tetapi juga menghantam nadi kehidupan para nelayan setempat.

Bagi masyarakat pesisir Dungkek, laut adalah segalanya—sumber penghidupan, warisan budaya, dan penopang ekonomi keluarga. Namun, keberadaan kayu-kayu raksasa ini telah menjadi tembok penghalang antara nelayan dan lautan. Bukan sekadar sampah biasa, deretan kayu yang sebagian besar masih berstiker Kementerian Perhubungan ini telah menimbulkan kerugian nyata, mulai dari kesulitan melaut hingga kerusakan fisik pada armada penangkap ikan mereka.

Salah satu warga Desa Bicabbi, Madsudi, menuturkan betapa parahnya dampak yang ditimbulkan. “Sebagian besar perahu mengalami kebocoran dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat. Kerusakan itu terjadi setelah kayu besar yang terbawa arus dan gelombang itu menghantam perahu nelayan di sekitar pesisir,” katanya, pada Kamis (24/09/2026). Ia merinci, setidaknya ada enam perahu yang kini dalam kondisi rusak: lima di Desa Bicabbi dan satu di Dungkek, menambah daftar panjang penderitaan yang harus ditanggung para pencari nafkah di laut.

Selain kerugian materi, keberadaan kayu-kayu gelondongan ini juga merenggut efisiensi waktu dan tenaga para nelayan. Mereka yang sehari-hari menggantungkan hidup pada tangkapan lobster dan rajungan kini harus berjibaku melewati tumpukan kayu sebelum dapat membawa perahu mereka ke perairan lepas. “Ya kami harus mengangkat losongan (perahu kecil: red) ini ke laut. Hampir semua nelayan disini ya seperti itu. Karena memang kayu gelondongan ini menghalangi,” terang Madsudi, menggambarkan perjuangan fisik yang harus mereka hadapi setiap kali ingin melaut.

Identitas kayu-kayu gelondongan ini pun menyimpan misteri sekaligus pertanyaan besar. Pada sebagian besar batang kayu, ditemukan stiker dengan logo Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia. Label tersebut bukan sekadar hiasan; ia memuat informasi identifikasi penting seperti nama perusahaan, kode unik, kode QR, serta logo Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) Indonesia. Kehadiran label ini mengindikasikan bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari aktivitas penebangan yang seharusnya legal dan terverifikasi, namun entah bagaimana berakhir sebagai beban mengambang di pesisir Sumenep. Ini menjadi sebuah ‘pendidikan’ pahit tentang rantai pasok yang rentan dan pentingnya pengawasan ketat terhadap setiap mata rantai pengelolaan sumber daya alam.

Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Kecamatan Dungkek, Bambang, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima informasi mengenai rencana evakuasi kayu-kayu gelondongan tersebut. Namun, hingga kini, kepastian mengenai kapal yang akan digunakan dan jadwal pelaksanaannya masih menjadi tanda tanya. “Semoga saja dalam waktu dekat kayu-kayu gelondongan ini bisa segera dievakuasi. Kasihan para nelayan,” ujarnya, menyuarakan harapannya agar penderitaan nelayan tidak berlarut-larut.

Kisah ratusan kayu gelondongan yang terdampar ini adalah potret nyata tentang kerapuhan hidup di pesisir dan pentingnya tindakan cepat dari pihak berwenang. Lebih dari sekadar kerugian material, insiden ini adalah pelajaran berharga tentang dampak tak terduga dari aktivitas manusia terhadap lingkungan dan masyarakat kecil. Ia mengingatkan kita akan perlunya akuntabilitas, transparansi, dan responsibilitas kolektif dalam menjaga keseimbangan alam demi keberlangsungan hidup semua.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menyingkap Tirai Asap Cukai: Mahasiswa Desak Transparansi DBH-CHT 2026 di Lamongan

24 Sep 2026 - 18:47 WIB

Menyingkap Tirai Asap Cukai: Mahasiswa Desak Transparansi DBH-CHT 2026 di Lamongan

Menguak Potensi Agrowisata Kebun Babrik Raya: Pilar Ekonomi Muhammadiyah di Lamongan

24 Sep 2026 - 18:46 WIB

Menguak Potensi Agrowisata Kebun Babrik Raya: Pilar Ekonomi Muhammadiyah di Lamongan

Keteguhan Raihana Yasmin Hafal Quran: Peran Kakak dan Doa Orang Tua di Balik Tangisan Rindu

24 Sep 2026 - 18:44 WIB

Keteguhan Raihana Yasmin Hafal Quran: Peran Kakak dan Doa Orang Tua di Balik Tangisan Rindu

Pengajian Akbar Milad Ke-77 SMA Muhi Perkuat Spiritualitas dan Prestasi

24 Sep 2026 - 15:21 WIB

Pengajian Akbar Milad Ke-77 SMA Muhi Perkuat Spiritualitas dan Prestasi

Satpol PP Goes to School: Pelajar Smamsatu Didorong Jadi Pelopor Ketenteraman dan Anti Narkoba

24 Sep 2026 - 15:18 WIB

Satpol PP Goes to School: Pelajar Smamsatu Didorong Jadi Pelopor Ketenteraman dan Anti Narkoba
Trending di Pendidikan